Saatnya Mencegah Pornografi!
Senin, 28 Juni 2010 - 18:20:18 WIB
Dalam sebulan terahir, mata dan telinga masyarakat Riau disibukkan oleh perbincangan soal perkembangan pornografi, khususnya terkait munculnya dua video porno yang diduga pelakunya dari kalangan artis. Dari pemberitaan tersebut, kita mulai menyadari bahwa pornografi sudah menyebar hingga ke ruang pribadi masyarakat kita.
Meski dua dari tiga artis itu belum terbukti sebagai pelaku, namun penyebaran film yang kini beredar luas dari handphone ke handphone tersebut patut kita awasi bersama. Apapun bentuk pornografi tentu pengaruhnya lebih banyak negatif ketimbang positif. Apalagi jika video yang meresahkan itu sudah beredar luas dari tangan ke tangan pelajar sekolah. Kalangan masyarakat dan dunia pendidikan mestinya gerah dengan kejadian ini.
Gaya dan pola hidup masyarakat di Riau memang sudah jauh berubah. Degradasi moral semakin hari kian nyata. Pornografi telah merambah kalangan pelajar. Tidak hanya di kota besar seperti Kota Pekanbaru, tetapi juga di pelosok desa paling terpencil.
Berapa banyak kasus asusila yang berawal dari tontonan pornografi? Mungkin sudah tak terhitung lagi. Kasus-kasus menonjol melibatkan anak-anak sekolah, misalnya pelecehan seksual hingga perkosaan, dalam banyak kasus dipengaruhi oleh tayangan berbau porno. Si pelaku yang lemah benteng moralnya kemudian dengan mudah terpengaruh untuk berbuat asusila.
Jelas, pornografi tak hanya melanggar hukum, tapi juga bertolak belakang dengan norma-norma agama dan adat kebiasaan di masyarakat kita. Karena itu pornografi harus dicegah penyebarannya, ditindak tegas pelakunya, dan diperangi kejahatannya karena pornografi merupakan kejahatan yang tak kalah membahayakan bagi masa depan bangsa ini. Bukan mustahil kasus-kasus serupa muncul kembali, bahkan dalam bentuk lebih ekstrim.
Disadari atau tidak, globalisasi yang ditandai dengan semakin canggihnya teknologi dan sistem informasi, mempunyai dua sisi positif dan negatif. Melalui internet, kita bisa cepat mengakses informasi dari berbagai sudut dan belahan dunia. Namun internet bisa dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab untuk membuat situs dan menyebarkan foto-foto bahkan film porno.
Kita tentu tak mau kasus pornografi ini bisa sampai ke lingkungan sekolah. Bukankah sekolah itu tempat anak dididik agar menjadi orang terdidik, bukan sekadar tempat anak-anak belajar berhitung, melafalkan abjad. Di sana tempat anak-anak menimba pelajaran moral yang diharapkan menjadi benteng bagi generasi bangsa agar hidup dijalan yang lurus.
Teknologi informasi boleh saja jauh lebih pesat perkembangannya dibanding upaya kita, orangtua, guru, atau pemerintah sekalipun dalam menyiapkan ‘filter’ terhadap dampak negatif yang mengiringinya. Tetapi, upaya membentuk insan kamil di negeri ini jangan pernah berhenti sedetik pun.
Selain razia handphone, sebagai orangtua dan pendidik pandai-pandailah mengawasi dan mendidik anak. Apalagi dalam situasi dan kondisi sekarang ini, tidak ada upaya lain yang diharapkan mampu menangkalnya, kecuali membentengi anak-anak dengan ajaran akhlak dan moral. Didik mereka sesuai tuntunan agama, karena yakinlah hanya dengan agama kita bisa membendung dampak-dampak negatif itu.
Riau adalah pusat dari budaya melayu yang terkenal dengan nilai luhur. Untuk itu pencegahan sejak dini terhadap apa pun bentuk pornografi perlu dilakukan oleh semua unsur di masyarakat. Inilah saatnya untuk bertindak, berkata 'tidak' terhadap pornografi. *