| Mobile | ePAPER | RSS | Cetak
 
Editorial
BREAKING NEWS :
PWI Riau Gelar Lomba Karaoke Antar Wartawan
Sabtu, 11 Februari 2012
 
Din Syamsuddin dan Peran Muhammadiyah
Jumat, 09 Juli 2010 - 11:24:11 WIB

Akhirnya Din Syamsuddin terpilih kembali sebagai Ketua Muhammadiyah untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Hajatan peringatan satu abad salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah Air itu, selama sepekan menjadi perhatian luas, karena kesadaran masyarakat tentang peran strategis Muhammadiyah dalam kiprah berbangsa dan bernegara. Posisi penting Muhammadiyah tersebut diakui lewat sikap loyal-kritisnya terhadap penyelenggaraan pemerintahan, khususnya di dunia pendidikan dan sosial keagamaan.

Terpilihnya Din Syamsuddin untuk memimpin kembali Pengurus Pusat Muhammadiyah, mengisyaratkan kinerja dan kepemimpinannya pada periode 2005-2010 diterima oleh sebagian besar pengurus besar Muhammadiyah di seluruh Indonesia, termasuk dari Riau. Apa pun kritik yang muncul belakangan ini, figur Din dipandang masih dibutuhkan sebagai nakhoda periode 2010-2015.

Dengan terpilihnya Din Syamsyuddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, maka berakhir pulalah Peringatan Seabad Muhammadiyah dan Mukmatar Ke-46 di Yogyakarta yang berlangsung sejak awal pekan ini. Namun demikian, kita berharap pengurus baru yang sedang disusun di 'kabinet' baru ini, mampu merangkul semua kader terbaik Muhammadiyah.

Beberapa hal yang selama Muktamar berlangsung, seperti kecenderungan Muhammadiyah untuk bersingguhan dengan politik praktis, harus menjadi pertimbangan bagi pengurus yang baru. Atmosfer itu muncul justru karena kebesaran ormas ini, baik dari potensi besaran jumlah warganya, maupun pengaruh secara organisasional dalam setiap agenda penting bangsa. Tak sedikit politisi yang dibesarkan oleh ormas yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini.

Tarik-menarik itu memang tidak sampai menjebak Muhammadiyah dalam keterkubangan politik. Lontaran pemikiran Amien Rais beberapa tahun silam tentang wacana politik santun, yang diapungkannya sebagai gaya berpolitik warga Muhammadiyah, tentu saja perlu dikaji ulang sisi positif dan negatifnya bagi citra Muhammadiyah.

Sedangkan kiprah sosial yang selama ini sudah dirasakan oleh warga Muhammadiyah, umat Islam, dan bangsa, harus dijaga sebagai blue print langkah. Keterlibatan dalam perjuangan menegakkan akhlak bangsa juga membutuhkan ungkapan lain ketika tuntutan itu muncul sejalan dengan kondisi aktual yang sama-sama kita hadapi.

Persoalan Muhammadiyah dengan politik praktis memang membutuhkan perumusan sikap, karena tarik-menarik kepentingan yang pasti ada. Kita percaya ormas ini punya pengalaman sejarah yang cukup matang untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi tersebut. Yang lebih menantang, menurut kita, bagaimana Muhammadiyah berkontribusi aktif dalam konteks komitmen amar ma’ruf nahyi munkar, terutama terkait dengan pemberantasan korupsi sebagai penyakit yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Kita yakin Din Syamsuddin mampu menahkodai bahtera Muhammadiyah untuk lima tahun ke depan. Namun kita juga berharap Din Syamsuddin terbuka terhadap pandangan yang masuk, khususnya dari tokoh Muhammadiyah seperti Buya Syafi'i Maarif atau yang lainnya, sehingga apa yang menjadi kebijakan bagi Muhammadiyah, tetap konsisten demi kebaikan umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah.

Selamat bertugas untuk Bapak Din Syamsuddin. Semoga Muhammadiyah semakin memberikan kontribusinya bagi kebaikan bangsa Indonesia. Semoga. *


 
 
  Berita Anda [ Kirim ]
Kampanye Aids Dalam Rangka Peringat...
Demo Warga Perumahan Parist Athaya ...
Korban tsunami mentawai...
Potensi Bahaya dari Jaringan Pipa G...
kepala desa yang sedang dicari masy...
 
Redaksi | SMS Iklan | Disclaimer | Space Iklan Cetak : METRO RIAU - Berwawasan dan Berkepribadian
  Copyright © 2010 by metroriau.com. All Rights Reserved