| Mobile | ePAPER | RSS | Cetak
 
Editorial
BREAKING NEWS :
PWI Riau Gelar Lomba Karaoke Antar Wartawan
Kamis, 09 Februari 2012
 
Pemerintahan Pengusaha
Rabu, 28 Juli 2010 - 06:40:18 WIB

Tabung gas 3 kg terus meneror warga Negara Indonesia.Ledakan demi ledakan terus terjadi di berbagai pelosok negeri. Korban-korban pun berjatuhan, baik korban luka,korban harta berupa hancurnya berbagai peralatan dan rumah serta korban nyawa yang terus berjatuhan.

Berdasarkan data Komisi III Badan Perlindungan Konsumen Nasional, sejak dimulainya konversi minyak tanah ke gas tahun 2007 lalu, hingga Juni 2010 telah terjadi 73 kasus ledakan tabung gas 3 kg dengan 34 orang korban tewas dan 141 orang korban luka.
Tahun 2007 terjadi 5 kasus ledakan dengan 4 korban luka. Tahun 2008 terjadi 27 kasus ledakan dengan korban 35 orang luka dan 2 orang tewas.

Selanjutnya tahun 2009 terjadi 30 kasus ledakan dengan 48 orang korban luka dan 12 korban tewas. Kemudian hingga Juni tahun 2010 ini telah terjadi 33 kasus ledakan gas elpiji 3 kg, korban luka mencapai 44 orang dan korban tewas 8 orang.

Secara statistik, jumlah kasus ledakan diperkirakan akan terus meningkat.Pasalnya daerah yang terkena konversi minyak ke gas juga semakin luas.Jika ini terjadi, maka korban luka dan korban nyawa diperkirakan akan terus melayang akibat kebijakan dengan tujuan awal mengurangi subsisisi BBM ini.

Pemerintah dalam hal ini pihak terkait seperti Pertamina dan Kementrian Energi dan Sumber Daya Minerel (ESDM) sudah menetapkan bahwa penyebab terjadinya ledakan karena banyaknya produk tabung gas 3 kg yang tak ber SNI, termasuk selang dan regulatornya.Selain itu konsumen juga dianggap lalai, sehingga menyebabkan terjadinya ledakan.

Terkait hal ini banyak kalangan yang meminta pemerintah segera menarik seluruh tabung gas 3 kg,karena dianggap sebagai produk gagal. Namun pemerintah terkesan mengacuhkan usulan ini karena untuk menarik 45 juta tabung yang sudah beredar di masyarakat tersebut memerlukan anggaran triliyunan rupiah. Biaya diprediksi akan lebih besar lagi karena pemerntah serta merta harus menyiapkan lagi minyak tanah bersubsidi.

Melihat alasan realistis pemerintah, maka tepatlah dikatakan jika mashab pemerintah saat ini adalah Pemerintahan Pengusaha. Dalam membuat kebijakan kepada rakyat pemerintah selalu mempertimbangkan untung dan rugi.

Seharusnya pemerintah segera menarik semua tabung gas 3 kg sudah menjadi teror di tengah masyarakat, sembari terus mensosialisasikan cara pengunaan gas yang baik dan aman. Setelah program tersebut dianggap telah tersosialisasi dengan baik dan tabung gas 3 kg termasuk slang dan regulatornya dianggap sudah standar maka program konversi minyak ke gas kembali digulirkan.

Agaknya pemerntah perlu meniru produsen-produsen terkemuka di dunia. Misalnya Honda dan Toyota, meskipun mereka perusahaan bisnis yang bermashab profit ariented, namun saat mengetahui ada kerusakan pada produknya mereka menarik seluruh produknya yang beredar di pasaran.

Agaknya kita pantas bertanya, apakah karena program ini diperuntukan bagi masyarakat miskin, sehingga pemerintah terkesan kurang cepat mengambil tindakan? Pertanyaan ini tentunya akan melahirkan pro dan kontra, namun pemerintah dipastikan mempunyai jawabannya..

Terlepas dari itu semua, sebagai anak bangsa kita  mendesak pemerintah segera menarik tabung gas 3 kg. Jika tidak, maka korban-korban akan terus berjatuhan dan kebijakan konversi minyak tanah ke gas menjelma menjadi mesin pembunuh warga yang dititip langsung ke dapur warga. Penarikan semua tabung 3 kg dipastikan menjadi alternatif terbaik dan efektif dalam menghentikan ledakan yang tentunya juga mengentikan terus berjatuhannya korban raga,nyawa dan harta***



 
 
  Berita Anda [ Kirim ]
Kampanye Aids Dalam Rangka Peringat...
Demo Warga Perumahan Parist Athaya ...
Korban tsunami mentawai...
Potensi Bahaya dari Jaringan Pipa G...
kepala desa yang sedang dicari masy...
 
Redaksi | SMS Iklan | Disclaimer | Space Iklan Cetak : METRO RIAU - Berwawasan dan Berkepribadian
  Copyright © 2010 by metroriau.com. All Rights Reserved