Dokter RSUD Bengkalis Merasa Dibohongi
Selasa, 13 Juli 2010 - 15:33:01 WIB
BENGKALIS,METRORIAU.COM - Para dokter yang bertugas di RSUD Bengkalis merasa dizalimi dan dibohongi oleh manajemen rumah sakit. Pembayaran hak-hak mereka seperti insentif dan jasa lainnya tidak berjalan lancar dan jauh dari kewajaran. Parahnya lagi, kontrak yang mereka tanda tangani hanya menguntungkan pihak manajemen, karena hanya memuat kewajiban dan sanksi.
Hal itu terungkap saat hearing DPRD Bengkalis dengan Komite Dokter dan Para Medik terkait persoalan layanan RSUD Bengkalis yang sering dikeluhkan masyarakat, Selasa (13/7). Dalam hearing itu juga mencuat soal minimnya tenaga dokter spesialis di RSUD Bengkalis, yang nota benenya adalah rumah sakit Tipe B. Parahnya lagi, para tenaga medis yang bekerja di RSUD tidak memiliki SK penempatan layaknya tenaga teknis instansi lainnya.
''Seharusnya untuk rumah sakit Tipe B, minimal harus memiliki lima orang dokter untuk masing-masing bidang. Tapi apa yang terjadi selama ini, untuk dokter spesialis paru-paru hanya saya sendiri. Rasanya kami sudah bekerja maksimal sesuai dengan kemampuan yang kami miliki,'' ujar dr Suryanto, spesialis paru-paru.
Dokter yang sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Pertamina ini juga mengeluhkan minimnya gaji dan fasilitas yang mereka terima, sementara beban kerja sudah melebihi kemampuannya. ''Beban kerja kami sudah overload, bekerja siang dan malam. Sementara kami tidak dihargai oleh manajemen,'' keluhnya.
Tak jauh beda dengan dr Suryanto, dr Zulkarnain, spesialis penyakit kulit dan kelamin, mengatakan kalau dirinya sudah tiga tahun belum menerima insentif. Lebih miris lagi, ia bahkan harus menginap di salah satu kamar di rumah sakit selama 1,5 tahun karena janji
fasilitas rumah untuknya belum ada.
Sementara dr Roseno, spesialis kebidanan, mengeluhkan tarif jasa yang diterima dokter sangat rendah, bahkan lebih rendah dari tarif Askes dan Askeskin. Sudahlah rendah, yaitu Rp750 ribu, 65 persen dipotong untuk RSUD (Rp500 ribu). Sisanya, Rp250 ribu baru untuk dokter, itupun masih dibagikan dengan perawat. Roseno juga menilai manajemen RSUD tidak transparan, terkesan ada sesuatu yang disembunyikan. ''Jika kondisinya terus seperti ini, saya memprediksikan rumah sakit Tipe B ini akan jadi Puskesmas besar,'' ujarnya.
Lebih miris lagi apa yang dialami oleh dr Agusta, dokter umum. Jasa umum (insentif) yang diterimanya pada bulan Februari hanya Rp2.880. ''Terus terang saya sangat terhina atas perlakuan manajemen rumah sakit. Sementara mereka yang duduk di jajaran manajemen setiap bulannya ada yang menerima insentif sampai Rp9 jutaan,'' keluhnya kepada para anggota dewan yang terhormat.
Selain persoalan insentif yang belum dibayarkan, para medik, khususnya tenaga kerja sukarela (TKS), mengeluhkan rendahnya honor yang mereka terima setiap bulannya. Ironisnya, lebih kecil dari pada honor yang diterima cleaning service.
Para dokter juga membantah kalau mereka sering tidak bekerja alias bolos saat jam dinas seperti yang ditemukan saat inspeksi mendadak yang dilakukan tim disiplin PNS. Yang benar, dokter yang tidak ada di tempat tersebut sedang dinas keluar kota mengikuti seminar atau pelatihan ilmiah yang telah disetujui oleh direktur rumah sakit.(Zul)
(641) Dibaca - (0) Komentar :
Isi Komentar :