Mengalami Kelainan Hati dan Limfa
Bocah Sebelas Bulan Menunggu Nasib
Senin, 08 Maret 2010 - 06:36:25 WIB
 |
| "Saya dikasitau sekarang Jamkesmas nggak keluar lagi. Akhirnya saya
pasrah sama Tuhan, kalau anak saya dikasi umur panjang Alhamdulillah.
Tapi saya ragu, masalahnya kondisinya menurun terus. Sekarang umur
sebelas bulan belum bisa tengkurep (telungkup, red)"
|
TERKAIT:
PANGKALANKERINCI, METRORIAU.COM - Kondisi kesehatan Aprilita Cahaya, bayi berusia sebelas bulan terus menurun akibat gangguan fungsi hati dan limfa. Penyakit yang diidapnya sejak berusia satu bulan. Berat badan putri kedua pasangan Ahmad Dawam (40) dengan Sri Haryanti (36) itu tinggal enam kilogram, turun dua kilogram. Kulit menghitam, tapi bola mata dan air seni menguning. Perut mulai membesar, tapi kaki dan tangan mengecil. Ditengah ketidakmengertiannya tentang dunia, sesungguhnya Aprilia Cahaya tengah menunggu pertolongan Tuhan, untuk disembuhkan.
September 2009, adalah kali terakhir Aprilia Cahaya mendapat perawatan secara medis. Dokter RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru merujuk bocah malang kelahiran 9 April 2009 itu ke RSCM Jakarta. Sayang, kemiskinan memaksa orang tua membawa pulang Aprilia Cahaya ke Pangkalankerinci. Konon, biaya operasi awal mencapai ratusan juta rupiah, suatu angka yang tidak terbayangkan untuk ukuran ekonomi keluarga ini..
Meski begitu Dawam dan Sri Haryanti berusaha mencari uang dalam jumlah besar dengan membyuka usaha roti ketawa. Sayang, disaat usaha mulai meningkat, Ahmad Dawam (40) meninggal dunia, tepatnya pada 31 Desember 2009. Sri Haryanti sendirilah yang harus mencari biaya perawatan Aprilia. Dia juga yang harus mencarikan uang kuliah untuk anak pertamanya, Ika (20).
"Terpaksa ku kasi obat seadanya. Minum jamu temu lawak. Kalau badannya panas nangis terus, ku kasi kompres daun sedingin, lumayan diam sebentar," tutur Sri Haryanti yang ditemui di kediaman, sebuah rumah petak di jalan lintas timur kota Pangkalankerinci, tak jauh dari komplek RSU Evarina, kantor pabrik kertas dan kantor PT Telkom.
Dalam keterbatasannya, Sri haryanti masih berusaha meneruskan usaha pembuatan dan pemasaran roti ketawa. Hasilnya bisa membiayai makan minum sehari-hari. Tapi tentu saja tidak cukup untuk membeli obat, apalagi membawa sang anak ke RSCM Jakarta.
Ia pun berusaha meminta bantuan pemerintah demi menyelamatkan nyawa anak. Dengan bantuan petugas RT/RW setempat, Sri Haryanti mencoba mengurus kartu Jamkesmas di dinas kesehatan dan dinas sosial Pelalawan agar mendapatkan fasilitas kesehatan gratis. Sayangnya usaha ini akhirnya gagal karena petugas-petugas yang ditemuinya tidak bisa memberikan surat dimaksud.
"Saya dikasitau sekarang Jamkesmas nggak keluar lagi. Akhirnya saya pasrah sama Tuhan, kalau anak saya dikasi umur panjang Alhamdulillah. Tapi saya ragu, masalahnya kondisinya menurun terus. Sekarang umur sebelas bulan belum bisa tengkurep (telungkup, red), seharusnya sudah belajar jalan," ujarnya.
Ia juga mengakui sadar kalau nyawa anaknya sangat tergantung dengan tindakan medis, atau keajaiban Tuhan. Tetapi sebagai manusia biasa, Sri Haryanti tetap dipengaruhi logika yang mengarah pada arah tidak yakin. Apalagi dalam beberapa hari terakhir ini Aprilia Cahaya mulai mengerang siang malam. Itu membuat pemikiran Sri semakin panik dan mulai dihinggapi rasa frustasi. (***Bas)
(189) Dibaca - (0) Komentar :
Isi Komentar :