19 Rabiul Awwal 1443 H / Selasa, 26 Oktober 2021
Pancasila, Pemungutan Suara, dan Kesaktiannya | METRORIAU.COM

Okt 2021
26


Priyantono Oemar. (Republika)
Pancasila, Pemungutan Suara, dan Kesaktiannya
opini | Senin, 4 Oktober 2021
Editor : putrajaya | Penulis : Republika

" Ribut-ribut Pepera ini berbarengan dengan naiknya isu pembunuhan massal anggota PKI di Purwodadi-Grobogan "

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pada saat membahas bentuk negara, anggota BPUPKI berdebat panjang selama sidang berlangsung. Sebab, ada yang mengusulkan bentuk kerajaan, ada pula yang mengusulkan bentuk republik.

Akhirnya, keputusan diambil dengan pemunguan suara, satu orang satu suara. Ada 64 anggota; 55 memilih republik, enam memilih kerajaan; dua memilih lain-lain; dan satu memilih abstain.

Sebelum sampai pada langkah pemungutan suara di BPUPKI itu, Wongsonegoro mengusulkan agar pemungutan suara dilakukan dengan melibatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Woerjaningrat mendukung usul Wongsonegoro ini.

Saat itu, tak ada yang menentangnya dengan alasan pemungutan suara bertentangan dengan dasar negara, Pancasila. Tapi, pada Februari 1969, sepulang dari Irian Barat, Jenderal Ali Murtopo–penasihat Presiden untuk Hal-Hal Khusus—menyatakan, hal itu untuk menanggapi usulan pemungutan suara guna menentukan nasib Irian Barat lewat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

“Seperti diketahui bahwa demokrasi Indonesia didasarkan pada falsafah negara, Pancasila. Demokrasi yang berdasarkan satu orang satu suara, oleh karena itu, tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia," kata Moertopo. Inilah yang dicatat pers sebagai peristiwa kali pertama “Pancasila dijelaskan dengan cara antidemokrasi”.

Ribut-ribut Pepera ini berbarengan dengan naiknya isu pembunuhan massal anggota PKI di Purwodadi-Grobogan. Pemberontakan PKI ditumpas pada 1 Oktober 1945, sehingga tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Tapi, penumpasan tak selesai pada 1 Oktober itu. Hingga, pada awal 1969, aktivis HAM HCJ Princen mengungkap adanya kuburan massal orang-orang yang dituduh sebagai komunis.
 
Princen melakukan kunjungan ke Purwodadi-Grobogan selama seminggu bersama dua wartawan Belanda, lalu Harian KAMI mewawancarainya. Hasil wawancara diturunkan pada 26 Februari 1969 bersama dengan laporan utama berjudul “Gelombang Pembantaian Selama 3 Bulan di Purwodadi”.

Pada 27 Februari 1969, koran Belanda, Trouw, menurunkan laporan dengan judul  “Troepen Richtten op Java Slachting Aan”. Princen menyebut, sekitar 2.000-3.000 orang dibunuh di Purwodadi-Grobogan hingga November 1968. Sekitar 860 orang, kata Princen, dibunuh di Kuwu, Kabupaten Grobogan. Mereka yang dieksekusi mati itu merupakan orang-orang yang diduga komunis.

Sebelum dieksekusi, mereka ditahan di kamp tahanan. Koran Indonesia Raya melaporkan, ada 14 kamp tahanan berisi 1.020 orang, saat wartawan Indonesia Raya mengunjungi Purwodadi-Grobogan pada 5 Maret 1969. Di Purwodadi ditahan 411 orang, di Toroh 51 orang, di Gundih 40 orang.

Tahanan di Godong ada sembilan orang, di Kradenan 122 orang, di Sulursari 50 orang, dan di Grobogan 72 orang. Di Wirosari ada 79 orang, di Ngaringan 64 orang, Tawangharjo 36 orang, Pulokulon 47 orang, Gubug lima orang, Tegowanu 33 orang, dan Kedungjati satu orang.

Saat wartawan Indonesia Raya, Pedoman, dan Sinar Harapan mengunjungi Crewek di selatan Kuwu, mereka mendapati banyak tanda gambar PNI di depan rumah-rumah. Setelah ramai isu kuburan massal dari mulut Princen, pemerintah mengundang wartawan melakukan kunjungan jurnalistik, tetapi dalam pengawasan aparat. Wartawan tiga koran ini melakukan kunjungan jurnalistik bersama dan mencoba terlepas dari pengawasan aparat ketika menemui warga.
 
Mereka mengunjungi Crewek setelah mendapat informasi banyak janda di sana. Selain Crewek, yang diinfokan ada banyak janda adalah Gabus dan Sulursari. Jumlah janda di tiga desa itu, menurut laporan Indonesia Raya, mencapai lebih dari 70 persen dari jumlah penduduk.

Rumah-rumah sudah banyak yang kosong. Di sebuah langgar (mushala) yang terlihat lama kosong, ada gambar logo NU yang sudah lusuh. Desa ini habis diserang oleh orang-orang PKI. Orang-orang marhaenis ini tak hanya menjadi sasaran PKI. Ketika orang-orang komunis diburu, ternyata orang-orang marhaenis juga menjadi sasaran pencidukan.

Dalam menjalankan perburuan ini, ternyata aparat di lapangan tak bisa membedakan Detasemen Gerilya PKI dan Tentara Pembebasan Rakyat. Pun, tak bisa membedakan Sukarno Sentries (SS) PNI dengan PKI.

Itulah yang disebut Sinar Harapan yang membuat banyak orang marhaenis ditangkap. Sinar Harapan sempat menurunkan tulisan selama lima hari, yaitu pada 14, 17, 18, 20, dan 21 Maret 1969. Tapi, laporan kemudian dihentikan.

Pada 22 Maret 1969, koran ini membuat pengumuman singkat: Pemerintah berkesimpulan, keterangan Princen tentang “pembunuhan massal di Purwodadi” itu ada hubungannya dengan sisa-sisa PKI yang bermaksud mendiskreditkan pemerintah. Dan kalau toh ada pembunuhan, itu konsekuensi gerakan militer di daerah SOB.

Pada 14 Maret 1969, Menlu Adam Malik sudah meminta pers agar tidak membesar-besarkan kasus Purwodadi. Pada 17 Maret, Menpen Budiharjo melakukan kunjungan diam-diam ke Purwodadi, lalu mengeluarkan pernyataan bahwa keadaan di Purwodadi tenang. *

Indeks Terbaru
politik, Selasa, 26 Oktober 2021
Ketua PC GPK Siak Zulfaini jadi Formatur dari DPC
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Ibu Ditemukan Gantung Diri, Sang Anak Tak Makan 4 Hari
otomotif, Senin, 25 Oktober 2021
Ini Mobil yang Diprediksi Jadi Tren Tahun Depan
nasional, Senin, 25 Oktober 2021
RBA dan Desainer Muda Asal Siak Bawa Batik Riau ke Kancah Nasional
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
1.685.485 Warga Riau Sudah Divaksin Dosis Pertama

politik, Senin, 25 Oktober 2021
Parpol Didorong Ringankan Beban Masyarakat
potensa, Senin, 25 Oktober 2021
Solusi Perlindungan dan Perencanaan Keuangan dari Allianz Life Indonesia
inhu, Senin, 25 Oktober 2021
Polres Inhu Apel Gelar Peralatan Pengamanan Pilkades Serentak
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Badan Jalan Lobak Pekanbaru Amblas
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Pos SPKT Polresta Pekanbaru Terbakar

nasional, Senin, 25 Oktober 2021
112 Ribu Pelanggan PLN Tambah Daya Rp 202.100
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Terendam Banjir, SDN 140 Terpaksa Liburkan Siswa
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Pembangunan Pasar Induk, Dewan Minta Pemko Pekanbaru Pastikan Kesanggupan PT ARB
nasional, Senin, 25 Oktober 2021
Jokowi Lantik 17 Dubes, Ini Nama-namanya
sportainment, Senin, 25 Oktober 2021
Klasemen Liga Inggris Usai MU Babak Belur di Old Trafford
etalase, Senin, 25 Oktober 2021
Inilah Pemenang Peace Poster Contest 2021
sportainment, Minggu, 24 Oktober 2021
Menangi El Clasico, Real Madrid Pimpin Klasemen
sportainment, Minggu, 24 Oktober 2021
Marc Marquez Menangi MotoGP Emilia Romagna, Quartararo Juara Dunia
pekanbaru, Minggu, 24 Oktober 2021
Dua Hari Kasus Kematian Covid-19 di Riau Nihil, Kadiskes: Tetap Jalankan Prokes
meranti, Minggu, 24 Oktober 2021
Omzet Turun, Pedagang Jalan Imam Bonjol Protes Penerapan One Way
nasional, Minggu, 24 Oktober 2021
Positif Covid-19 di RI Bertambah 623 Kasus
inhu, Minggu, 24 Oktober 2021
Polres Inhu Vaksinasi Ratusan Santri
nasional, Minggu, 24 Oktober 2021
PLN Mobile VCRR 2021 Kumpulkan Donasi Rp 4,3 Miliar Biaya Penyambungan Listrik Keluarga Pra-Sejahter
hukum, Minggu, 24 Oktober 2021
Luruskan Isu Berkembang, Petani Kopsa-M Nyatakan Sikap
etalase, Minggu, 24 Oktober 2021
Lions Clubs Pekanbaru Gelar Peace Poster Contest

Politik
Selasa, 26 Oktober 2021
Ketua PC GPK Siak Zulfaini jadi Formatur dari DPC
Senin, 25 Oktober 2021
Parpol Didorong Ringankan Beban Masyarakat
Rabu, 13 Oktober 2021
Pengamat Sebut Dualisme Partai Terjadi karena Sistem Politik

Hukum
Minggu, 24 Oktober 2021
Luruskan Isu Berkembang, Petani Kopsa-M Nyatakan Sikap
Selasa, 19 Oktober 2021
Bupati Kuansing Diduga Terima Suap Rp700 Juta
Selasa, 19 Oktober 2021
KPK Tetapkan Bupati Kuansing Tersangka Suap Izin Perkebunan

OTOMOTIF
otomotif, Senin, 25 Oktober 2021
Ini Mobil yang Diprediksi Jadi Tren Tahun Depan
otomotif, Jumat, 22 Oktober 2021
Honda Akan Luncurkan Mobil Baru di GIIAS 2021
otomotif, Selasa, 19 Oktober 2021
Perluas Pasar di Sumatera, Dealer MG Motor Hadir di Pekanbaru

OTOMOTIF

ZONA RIAU
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Ibu Ditemukan Gantung Diri, Sang Anak Tak Makan 4 Hari
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
1.685.485 Warga Riau Sudah Divaksin Dosis Pertama
pekanbaru, Senin, 25 Oktober 2021
Badan Jalan Lobak Pekanbaru Amblas

ETALASE
etalase, Senin, 25 Oktober 2021
Inilah Pemenang Peace Poster Contest 2021
etalase, Minggu, 24 Oktober 2021
Lions Clubs Pekanbaru Gelar Peace Poster Contest
etalase, Minggu, 24 Oktober 2021
Ricky Tak Percaya Dapat Mobil