5 Jumadil Awwal 1444 H / Selasa, 29 November 2022
Pancasila, Pemungutan Suara, dan Kesaktiannya | METRORIAU.COM

Nov 2022
29


Priyantono Oemar. (Republika)
Pancasila, Pemungutan Suara, dan Kesaktiannya
opini | Senin, 4 Oktober 2021
Editor : putrajaya | Penulis : Republika

" Ribut-ribut Pepera ini berbarengan dengan naiknya isu pembunuhan massal anggota PKI di Purwodadi-Grobogan "

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pada saat membahas bentuk negara, anggota BPUPKI berdebat panjang selama sidang berlangsung. Sebab, ada yang mengusulkan bentuk kerajaan, ada pula yang mengusulkan bentuk republik.

Akhirnya, keputusan diambil dengan pemunguan suara, satu orang satu suara. Ada 64 anggota; 55 memilih republik, enam memilih kerajaan; dua memilih lain-lain; dan satu memilih abstain.

Sebelum sampai pada langkah pemungutan suara di BPUPKI itu, Wongsonegoro mengusulkan agar pemungutan suara dilakukan dengan melibatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Woerjaningrat mendukung usul Wongsonegoro ini.

Saat itu, tak ada yang menentangnya dengan alasan pemungutan suara bertentangan dengan dasar negara, Pancasila. Tapi, pada Februari 1969, sepulang dari Irian Barat, Jenderal Ali Murtopo–penasihat Presiden untuk Hal-Hal Khusus—menyatakan, hal itu untuk menanggapi usulan pemungutan suara guna menentukan nasib Irian Barat lewat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

“Seperti diketahui bahwa demokrasi Indonesia didasarkan pada falsafah negara, Pancasila. Demokrasi yang berdasarkan satu orang satu suara, oleh karena itu, tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia," kata Moertopo. Inilah yang dicatat pers sebagai peristiwa kali pertama “Pancasila dijelaskan dengan cara antidemokrasi”.

Ribut-ribut Pepera ini berbarengan dengan naiknya isu pembunuhan massal anggota PKI di Purwodadi-Grobogan. Pemberontakan PKI ditumpas pada 1 Oktober 1945, sehingga tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Tapi, penumpasan tak selesai pada 1 Oktober itu. Hingga, pada awal 1969, aktivis HAM HCJ Princen mengungkap adanya kuburan massal orang-orang yang dituduh sebagai komunis.
 
Princen melakukan kunjungan ke Purwodadi-Grobogan selama seminggu bersama dua wartawan Belanda, lalu Harian KAMI mewawancarainya. Hasil wawancara diturunkan pada 26 Februari 1969 bersama dengan laporan utama berjudul “Gelombang Pembantaian Selama 3 Bulan di Purwodadi”.

Pada 27 Februari 1969, koran Belanda, Trouw, menurunkan laporan dengan judul  “Troepen Richtten op Java Slachting Aan”. Princen menyebut, sekitar 2.000-3.000 orang dibunuh di Purwodadi-Grobogan hingga November 1968. Sekitar 860 orang, kata Princen, dibunuh di Kuwu, Kabupaten Grobogan. Mereka yang dieksekusi mati itu merupakan orang-orang yang diduga komunis.

Sebelum dieksekusi, mereka ditahan di kamp tahanan. Koran Indonesia Raya melaporkan, ada 14 kamp tahanan berisi 1.020 orang, saat wartawan Indonesia Raya mengunjungi Purwodadi-Grobogan pada 5 Maret 1969. Di Purwodadi ditahan 411 orang, di Toroh 51 orang, di Gundih 40 orang.

Tahanan di Godong ada sembilan orang, di Kradenan 122 orang, di Sulursari 50 orang, dan di Grobogan 72 orang. Di Wirosari ada 79 orang, di Ngaringan 64 orang, Tawangharjo 36 orang, Pulokulon 47 orang, Gubug lima orang, Tegowanu 33 orang, dan Kedungjati satu orang.

Saat wartawan Indonesia Raya, Pedoman, dan Sinar Harapan mengunjungi Crewek di selatan Kuwu, mereka mendapati banyak tanda gambar PNI di depan rumah-rumah. Setelah ramai isu kuburan massal dari mulut Princen, pemerintah mengundang wartawan melakukan kunjungan jurnalistik, tetapi dalam pengawasan aparat. Wartawan tiga koran ini melakukan kunjungan jurnalistik bersama dan mencoba terlepas dari pengawasan aparat ketika menemui warga.
 
Mereka mengunjungi Crewek setelah mendapat informasi banyak janda di sana. Selain Crewek, yang diinfokan ada banyak janda adalah Gabus dan Sulursari. Jumlah janda di tiga desa itu, menurut laporan Indonesia Raya, mencapai lebih dari 70 persen dari jumlah penduduk.

Rumah-rumah sudah banyak yang kosong. Di sebuah langgar (mushala) yang terlihat lama kosong, ada gambar logo NU yang sudah lusuh. Desa ini habis diserang oleh orang-orang PKI. Orang-orang marhaenis ini tak hanya menjadi sasaran PKI. Ketika orang-orang komunis diburu, ternyata orang-orang marhaenis juga menjadi sasaran pencidukan.

Dalam menjalankan perburuan ini, ternyata aparat di lapangan tak bisa membedakan Detasemen Gerilya PKI dan Tentara Pembebasan Rakyat. Pun, tak bisa membedakan Sukarno Sentries (SS) PNI dengan PKI.

Itulah yang disebut Sinar Harapan yang membuat banyak orang marhaenis ditangkap. Sinar Harapan sempat menurunkan tulisan selama lima hari, yaitu pada 14, 17, 18, 20, dan 21 Maret 1969. Tapi, laporan kemudian dihentikan.

Pada 22 Maret 1969, koran ini membuat pengumuman singkat: Pemerintah berkesimpulan, keterangan Princen tentang “pembunuhan massal di Purwodadi” itu ada hubungannya dengan sisa-sisa PKI yang bermaksud mendiskreditkan pemerintah. Dan kalau toh ada pembunuhan, itu konsekuensi gerakan militer di daerah SOB.

Pada 14 Maret 1969, Menlu Adam Malik sudah meminta pers agar tidak membesar-besarkan kasus Purwodadi. Pada 17 Maret, Menpen Budiharjo melakukan kunjungan diam-diam ke Purwodadi, lalu mengeluarkan pernyataan bahwa keadaan di Purwodadi tenang. *

Indeks Terbaru
rohil, Senin, 28 November 2022
Kunjungi SDN 003, Wabup Rohil Berbagi Kisah Saat Jadi Siswa
pekanbaru, Senin, 28 November 2022
Telah Ditetapkan, UMP Riau Tahun 2023 Naik 8,61 Persen
pekanbaru, Senin, 28 November 2022
Pemko Pekanbaru Belum Mulai Lelang Pengangkutan Sampah 2023
hukum, Senin, 28 November 2022
Polres Inhu Tangkap Pelaku Curanmor
sportainment, Senin, 28 November 2022
Omputaka Fc Melaju ke Babak 8 Besar Turnamen Prima Cup V Pulau Payung

etalase, Senin, 28 November 2022
21 Tahun Mengabdi Sebagai Dosen, Hendriko Dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama di PCR
potensa, Senin, 28 November 2022
Solusi Memasak Praktis, MODENA Air Fryer Hadir di MODENA Home Center Riau
sportainment, Senin, 28 November 2022
Spanyol Vs Jerman Berakhir Imbang
pekanbaru, Senin, 28 November 2022
Media Expo dan Festival PPID, Gubri: Seluruh OPD dan BUMD Itu Harus Ikut
inhu, Minggu, 27 November 2022
Bupati Inhu Minta IBI Bersinergi Dengan Pemkab

politik, Minggu, 27 November 2022
Pemko Pekanbaru Targetkan Partisipasi Pemilih 2024 di Atas 70 Persen
pekanbaru, Minggu, 27 November 2022
Capaian Vaksinasi Booster di Pekanbaru Masih Rendah
nasional, Minggu, 27 November 2022
Raih 5 Kategori Penghargaan di IOG SKK Migas 2022, PHR Jadi Perusahaan Kontraktor Terbaik
etalase, Minggu, 27 November 2022
Ingin Bibit Gratis? Begini Prosedurnya di BPDASHL Indragiri Rokan
huawen, Minggu, 27 November 2022
PSMTI Riau Gelar Seminar Peran Pemuda Dalam Wawasan Kebangsaan
inhil, Minggu, 27 November 2022
Butuh Keterlibatan Semua Pihak Untuk Menangani Stunting
sportainment, Sabtu, 26 November 2022
Raih 5 Medali di Porprov, FAJI Pekanbaru Ingin Atlet Lebih Giat Berlatih
dunia, Jumat, 25 November 2022
Gelombang Panas Bunuh 20 Ribu Orang di Empat Negara Eropa
sportainment, Jumat, 25 November 2022
Riau Hajar Kepri 3-0 di Pra-Popnas 2022
otomotif, Jumat, 25 November 2022
Ini Keunggulan Honda WR-V yang Baru Diluncurkan di Pekanbaru
etalase, Jumat, 25 November 2022
Bertemu Kadisnaker, PHR Luruskan Kronologi Meninggalnya Karyawan
pekanbaru, Jumat, 25 November 2022
Banjir di Riau Berpotensi Meluas, BPBD Himbau Masyarakat Waspada
otomotif, Jumat, 25 November 2022
Resmi Diluncurkan di Pekanbaru, Honda WR-V Dipamerkan di Mal SKA
etalase, Kamis, 24 November 2022
Ini Program Andalan BPDASHL Inrok KLHK Menurunkan Laju Deforestasi
inhil, Kamis, 24 November 2022
Pemkab Inhil Gelar Senam Sehat Dan Donor Darah

Politik
Minggu, 27 November 2022
Pemko Pekanbaru Targetkan Partisipasi Pemilih 2024 di Atas 70 Persen
Senin, 21 November 2022
Peduli Rakyat Kecil, Hary Tanoe Berpeluang Besar Jadi Cawapres
Rabu, 16 November 2022
Elektabilitas Perindo Tembus 6,2%! HT: Konsisten Peduli pada Rakyat Kecil

Hukum
Senin, 28 November 2022
Polres Inhu Tangkap Pelaku Curanmor
Selasa, 22 November 2022
Remaja di Rohil Perkosa Nenek 71 Tahun
Senin, 21 November 2022
Polres Inhu Ringkus Pelaku Maling di Halaman Masjid

OTOMOTIF
otomotif, Jumat, 25 November 2022
Ini Keunggulan Honda WR-V yang Baru Diluncurkan di Pekanbaru
otomotif, Jumat, 25 November 2022
Resmi Diluncurkan di Pekanbaru, Honda WR-V Dipamerkan di Mal SKA
otomotif, Selasa, 15 November 2022
Honda Jual 11.590 Mobil di Oktober 2022, Brio Terlaris

OTOMOTIF

ETALASE
etalase, Senin, 28 November 2022
21 Tahun Mengabdi Sebagai Dosen, Hendriko Dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama di PCR
etalase, Minggu, 27 November 2022
Ingin Bibit Gratis? Begini Prosedurnya di BPDASHL Indragiri Rokan
etalase, Jumat, 25 November 2022
Bertemu Kadisnaker, PHR Luruskan Kronologi Meninggalnya Karyawan