Jumat | 05 Juni 2020
IKTS Jalin Kerjasama Dengan RS Mata PBEC
Ikatan Keluarga Tionghua Selatpanjang & Sekitarnya (IKTS) menjalin Memorandum.


Sabtu | 23 Mei 2020
Marga Zhang Riau Salurkan Sembako Lewat Koramil dan Polsek Senapelan
Membantu warga terdampak Covid-19 atau virus corona dilingkungan sekitar,.


Kamis | 21 Mei 2020
Tionghoa Peduli dan Pimpinan DPRD Pekanbaru Salurkan Sembako
Tionghoa Peduli Penanggulangan Covid-19 Riau menyalurkan 200 paket sembako.

Rubrik : siak
519 Warga Siak Terserang ISPA
Editor : wisly | Penulis: Diana
Rabu , 07 Agustus 2019
ilustrasi

SIAK - Sebanyak 519 warga Kabupaten Siak terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) selama Juli-Agustus 2019. Penyebab penyakit ini diakibatkan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).  

"Penyakit akibat dampak karhutla yang menimbulkan kabut asap pada Agustus ini ada 124 orang terserang ISPA. Mereka itu tersebar di 15 kecamatan di Siak," kata Kepala Dinas Kesehatan Siak, Toni Chandra, Rabu (7/8). 

Sebelumnya, terang Toni Chandra, di bulan Juli lalu tercatat sebanyak 395 orang yang terserang ISPA, sehingga totalnya menjadi 519 orang. 

Selain ISPA, selama Juli-Agustus ini sejumlah warga Siak juga terserang penyakit akibat kabut asap. Di antaranya, pneumonia, penyakit pernafasan yang menyerang balita empat orang, asma 13 orang, iritasi kulit dan mata masing-masing 21 orang dan 116 orang.

Sebagai antisipasi, Toni Chandra, mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan 21.400 masker yang sudah tersebar di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit. Menurutnya, ini juga sudah didistribusikan untuk anak sekolah.

"Ini tidak dipungut biaya, kalau butuh lagi silahkan diambil ke gudang kesehatan," kata Toni.

Dia menekankan kembali bahwa kabut asap tersebut bisa mengganggu kesehatan terutama anak-anak, ibu hamil, dan orang tua. Apabila terlihat asapnya tebal dia mengimbau agar tidak beraktivitas di luar rumah.

"Kita juga mengimbau masyarakat bahwa kebakaran hutan itu sangat membahayakan, dan itu adalah ulah manusia. Jadi jangan lah membakar lahan lagi karena mengganggu kesehatan," ucapnya.

Meski berbahaya, pihak dinas kesehatan sampai saat ini juga masih belum bisa mengetahui sejauh mana kondisi pencemaran udara. Karena alat pengukur Indeks Kualitas Pencemaran Udara (ISPU) di Siak dalam kondisi rusak.*


 




Berita Lainnya