|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU – Di balik tembok tinggi dan kawat berduri, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru menjadi tempat yang tidak hanya berfungsi untuk pembinaan kepribadian, tetapi juga kemandirian.
Di sini, warga binaan tidak hanya belajar tentang perubahan sikap, tetapi juga mengasah keterampilan yang berguna untuk hidup setelah kembali ke masyarakat.
Salah satu program unggulan yang tengah dijalankan adalah Agrobisnis, yang kini mulai menuai hasil positif, terbukti dengan panen sayur kangkung dan pakcoy yang melimpah.
Pada Sabtu (8/3/2025) pagi, suasana di area brandgang Lapas Pekanbaru dipenuhi semangat para warga binaan yang baru saja berhasil memanen hasil pertanian mereka.
Sebanyak 100 kg kangkung dan 30 kg pakcoy dipanen dari lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa Lapas Pekanbaru tidak hanya sekadar tempat hukuman, tetapi juga wadah pembinaan yang dapat mendukung program ketahanan pangan nasional.
Kepala Lapas Pekanbaru, Erwin Fransiskus Simangunsong, dengan bangga menyatakan bahwa panen sayur ini merupakan salah satu bentuk komitmen Lapas Pekanbaru dalam mendukung Program Ketahanan Pangan yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia.
Menurutnya, program ini juga mendukung arahan dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait akselerasi pemanfaatan lahan untuk ketahanan pangan.
“Panen sayur kangkung dan pakcoy ini merupakan hasil nyata dari program pembinaan kemandirian yang kita jalankan. Melalui program Agrobisnis, kami berharap warga binaan semakin terampil dalam bertani dan dapat menghasilkan produk yang bermanfaat, baik untuk Lapas maupun untuk masyarakat sekitar,” ujar Erwin.
Ia menambahkan bahwa hasil panen tersebut akan disalurkan sebagian untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas, dan sebagian lagi akan dibagikan kepada masyarakat serta keluarga warga binaan yang membutuhkan.
Tidak hanya memberikan manfaat bagi Lapas, program ini juga berkontribusi pada masyarakat di luar tembok penjara.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Pekanbaru, Jefriandy Gultom, menjelaskan bahwa hasil panen ini akan digunakan untuk membantu meringankan beban keluarga warga binaan yang kurang mampu.
“Hasil panen ini tidak hanya untuk kebutuhan internal Lapas, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar dan keluarga warga binaan yang membutuhkan. Ini adalah salah satu cara kami mendukung program ketahanan pangan yang lebih luas,” ungkap Jefriandy.
Selain menguntungkan secara ekonomi, program Agrobisnis di Lapas Pekanbaru juga memberikan manfaat psikologis bagi warga binaan.
Mereka merasa lebih produktif dan berdaya, tidak hanya sekadar menjalani masa hukuman, tetapi juga dapat berkontribusi dalam menciptakan ketahanan pangan, baik di lingkungan Lapas maupun masyarakat.
Keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian di Lapas Pekanbaru berjalan sesuai dengan harapan.
Program ini tidak hanya mengajarkan warga binaan tentang keterampilan bertani, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk berperan aktif dalam meningkatkan ketahanan pangan, yang pada gilirannya dapat membantu mereka saat kembali ke masyarakat dengan keterampilan yang berguna.
Lapas Pekanbaru terus menunjukkan bahwa di balik sistem pemasyarakatan, ada peluang untuk perubahan positif yang tidak hanya dirasakan oleh warga binaan, tetapi juga oleh masyarakat luas.*