|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Kepolisian Daerah (Polda) Riau mengungkap hasil autopsi terhadap jenazah RK (8), siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Siswa kelas 2 SD di Seberida itu awalnya diduga meninggal dunia lima hari setelah diduga mengalami perundungan (bullyiing) dari kakak kelasnya.
Akhirnya takbir kemarian RK pun terungpkqp usai autopsi oleh Tim Forensik Polda Riau yang dipimpin AKBP Supriyanto bersama dr. Muhammad Tegar Indrayana Sp.F, spesialis forensik dan medicolegal dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau.
Durektur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Asep Darmawan menjelaskan, tim media melakukan pemeriksaan luar dan dalam. Hasilnya ditemukan sejumlah luka dan kelainan pada tubuh korban.
Selain itu, juga ditemukan memar pada perut dan paha serta resapan darah pada jaringan lemak perut sebelah kiri.
"Luka-luka tersebut diduga diakibatkan oleh benturan benda tumpul. Namun, penyebab utama kematian disimpulkan berasal dari infeksi sistemik akut akibat pecahnya usus buntu (appendiks)," ujar Asep, di Mapolda Riau, Rabu (4/6/2025).
Di kesempatan itu, Kasubbid Dokpol Bid Dokkes Polda Riau, AKBP Supriyanto menjelaskan, tim medis menemukan kebocoran pada appendiks yang menyebabkan peradangan luas di rongga perut (infeksi peritonitis) hingga memicu kegagalan sistemik dan mengakibatkan kematian.
"Hasil autopsi ditemukan memar pada perut bagian kiri, paha, serta resapan darah pada jaringan lemak perut. Kami juga menemukan perforasi atau kebocoran pada usus di perut bagian kanan," jelasnya.
"Dari seluruh temuan, kami menyimpulkan bahwa penyebab kematian korban adalah infeksi sistemik yang luas akibat pecahnya usus buntu atau appendiks," sambungnya.
Ia menyebutkan, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan temuan primer dan penunjang, sesuai prosedur kedokteran forensik.
Kasus ini sebelumnya telah dilaporkan orang tua korban ke kepolisian. Polisi mendalami kasus tersebut.
Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa 22 orang saksi, termasuk tiga tukang urut, dua dokter, kedua orang tua korban, serta lima teman sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru kelas.*