|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

KAMPAR - Malam turun perlahan di Tanjung Belit, desa kecil yang dikelilingi rimbunnya hutan dan tenangnya Sungai Sebayang. Namun pada Rabu malam (18/6/2025), suasana berbeda, lampu sederhana menyala, suara puisi dan tausiah agama pun menggema.
Tanjung Belit di Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar, bukan sekadar lokasi acara malam itu. Desa dengan sungai indah itu menjelma menjadi ruang sakral pertemuan antara iman, budaya, dan ekologi.
Di sinilah Polda Riau menggelar kegiatan Bakti Religi dan Peduli Lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan menyambut Hari Bhayangkara ke-79.
Acara di Kemping Ground, Kampung Tongah itu mengusung tema "Tak Kan Hilang Melayu di Bumi, Melindungi Tuah Menjaga Marwah".
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Herjawan, membuka malam dengan bait puisi, bukan pidato formal, sebuah pilihan yang tak lazim bagi pejabat tinggi.
Puisi tersebut merupakan buah karya Irjen Herry bersama penyair Nandika Putra, tentang filosofi mendalam khas Melayu, bahwa keadilan bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk alam dan lingkungan.
Tak lama, seniman Remond Damora membacakan pantun. Menyambung dengan ekspresi artistik yang lebih dalam. Lalu dikuti alunan musik dari Prof. Tomy Awe.
Kegiatan kemudian diisi tausiah oleh Ustadz Abdul Somad (UAS). Dalam ceramahnya, UAS menyoroti praktik eksploitasi alam yang semakin merusak, khususnya dalam penangkapan ikan secara ilegal dan destruktif.
“Dulu orang pakai akar tuba, ikan hanya pingsan, yang besar diambil, yang kecil tetap hidup. Sekarang dibom, semua mati. Anak cucu kita tidak lagi bisa makan ikan,” ujar UAS di hadapan ratusan warga Tanjung Belit.
Menurut UAS, kerusakan alam berakar dari keserakahan manusia yang ingin cepat kaya dan hebat tanpa memikirkan dampaknya bagi sesama dan generasi mendatang. “Mudah-mudahan kita selamat dari perbuatan zalim. Insya Allah, amin,” imbuhnya.
Dalam pandangan UAS, menanam pohon adalah bentuk dzikir yang tak bersuara, sebuah ibadah yang tumbuh. Bagi beliau, menjaga alam bukan sekadar proyek, melainkan ekspresi iman yang mengakar.
“Kita menanam bukan karena disuruh undang-undang. Tapi karena agama. Dan agama tak pernah bilang cukup,” tegasnya.
Kegiatan penanaman pohon dan penebaran bibit ikan yang dilakukan Polda Riau bukan sekadar agenda CSR tahunan.
Di balik aksi itu, ada transformasi: Bhayangkara yang tidak hanya menjaga keamanan manusia, tapi juga martabat alam.
Dalam konteks ini, polisi tak lagi hanya diasosiasikan dengan tilang dan razia, melainkan hadir sebagai penjaga nilai. Melindungi Tuah, Menjaga Marwah bukan slogan kosong tapi hidup dalam tindakan yang menyatu dengan alam dan budaya.*