|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kondisi cuaca sepanjang tahun 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi ini menuntut seluruh pihak meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah sekitar garis ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi iklim pada 2025 dipengaruhi fenomena La Nina lemah yang membuat curah hujan relatif lebih tinggi. Akibatnya, kondisi lahan pada tahun lalu cenderung lebih basah dibandingkan tahun-tahun dengan musim kering ekstrem.
"Di tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan La Nina lemah sehingga kondisinya lebih basah. Namun memasuki tahun ini, sekitar April nanti, kondisi iklim berada pada fase netral untuk El Nino Southern Oscillation (ENSO)," ujar Faisal saat konferensi pers di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi ENSO netral berarti tidak terjadi La Nina maupun El Nino. Meski demikian, fase ini tetap berpotensi menghadirkan cuaca yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
"Tidak terjadi La Nina, tidak juga El Nino. Kondisinya netral, namun diperkirakan akan lebih kering dibandingkan 2025," jelasnya.
Berdasarkan analisis BMKG terhadap data iklim selama 30 tahun terakhir, curah hujan tahun ini juga diprediksi berada sedikit di bawah normal. Kondisi tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya risiko karhutla apabila tidak diantisipasi sejak dini.
"Catatan kami menunjukkan curah hujan tahun ini sedikit di bawah normal. Artinya tantangan karhutla bisa lebih berat dibandingkan tahun lalu karena kondisi yang lebih kering," ungkap Faisal.
Untuk wilayah di sekitar garis ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat, BMKG menyebut saat ini sedang memasuki fase kemarau kecil. Meski masih ada potensi hujan sesaat, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.
"Sekarang masih ada peluang hujan singkat, tetapi puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus," katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mendorong berbagai langkah mitigasi sejak dini, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memanfaatkan potensi awan hujan yang masih tersedia. Tujuannya adalah meningkatkan kelembapan tanah dan membasahi lahan sebelum memasuki puncak musim kemarau.
"Selagi masih ada peluang awan hujan, kita upayakan penyemaian awan untuk membasahi lahan. Ini penting agar tanah lebih jenuh air sebelum menghadapi kemarau," ujarnya.
BMKG juga terus memantau dinamika iklim global, termasuk potensi El Nino empat tahunan serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang dapat memperparah kekeringan apabila terjadi bersamaan.
Faisal menjelaskan, kombinasi El Nino kuat, angin timuran yang kering, dan IOD positif berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang di Indonesia.
"Jika ketiganya terjadi bersamaan, maka risiko kemarau panjang akan meningkat dan itu berdampak langsung terhadap potensi karhutla," tegasnya.
Karena itu, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini melalui penguatan patroli darat, kesiapan peralatan pemadaman, serta koordinasi lintas lembaga. BMKG juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti BNPB, Basarnas, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah guna memastikan langkah mitigasi berjalan optimal.
"Jika skenario terburuk seperti El Nino kuat dan IOD positif terjadi, kita harus sudah siap sejak sekarang. Karena itu koordinasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk menghadapi potensi karhutla tahun ini," ungkapnya.*