|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

SELATPANJANG - Matahari belum sempat menampakkan dirinya di ufuk timur. Langit masih menyisakan warna kelabu subuh, udara terasa lembap, dan embun masih menggantung di dedaunan. Namun di kawasan pemakaman Kampung Baru Selatpanjang, Kepulauan Meranti, ratusan orang sudah lebih dahulu datang.
Mereka berjalan beriringan bersama keluarga. Di tangan mereka tergenggam bunga, dupa, makanan, serta kertas sembahyang. Sebagian membawa peralatan untuk memperbaiki pagar makam. Pagi itu, langkah-langkah kecil dan besar menyusuri jalan menuju satu tujuan yang sama yakni tempat peristirahatan orang-orang yang pernah menjadi alasan mereka pulang.
Bagi sebagian orang, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Itu adalah perjalanan pulang kepada leluhur.
Inilah tradisi Cengbeng—sebuah ritual bakti yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat Tionghoa.
Setiap tahun, puncak sembahyang Cengbeng jatuh pada tanggal 9 bulan ke-3 penanggalan Imlek, yang biasanya berada di antara bulan Maret hingga April. Namun bagi masyarakat Tionghoa, tradisi ini tidak hanya dilakukan pada satu hari saja. Sepuluh hari sebelum dan sesudah tanggal tersebut, kawasan pemakaman mulai ramai dikunjungi keluarga yang datang dari berbagai penjuru.
Di kalangan masyarakat Tionghoa, Cengbeng bukan sekadar tradisi tahunan yang datang dan pergi mengikuti kalender. Ia cara menjaga hubungan yang tak lagi bisa dijangkau oleh kata-kata, tetapi tetap hidup melalui ingatan, doa, dan langkah-langkah pulang yang setia diulang setiap tahun.
Tak sedikit di antara mereka yang datang dari tempat jauh. Ada yang menempuh perjalanan lintas kota, bahkan lintas negara, hanya untuk membersihkan makam orang tua dan leluhur. Namun ketika jarak benar-benar tak dapat ditembus oleh waktu dan pekerjaan, sebagian keluarga memilih menitipkan perawatan makam kepada warga setempat—sebuah bentuk bakti yang tetap dijaga meski dari kejauhan.
Bagi banyak perantau, pulang saat Cengbeng sering kali terasa lebih mendesak dibandingkan pulang saat Imlek. Jika perayaan tahun baru masih bisa dirayakan dari kejauhan dengan doa dan harapan, maka Cengbeng adalah panggilan hati yang sulit ditunda. Ia bukan sekadar tradisi keluarga, melainkan kewajiban batin seorang anak kepada orang tua yang telah mendahului.
Di antara ratusan peziarah pagi itu, Adison tampak khusyuk membersihkan ukiran pada nisan batu sebuah makam. Tangannya perlahan menyapu lumut dan debu yang menempel di permukaan batu. Sesekali ia berhenti, menatap nama yang terukir di sana.
“Itu kubur ama saya,” ucapnya pelan.
Ia datang jauh dari Jakarta, khusus untuk kembali ke Selatpanjang. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar tradisi, tetapi panggilan hati seorang anak kepada ibunya.
“Ini kubur ama (ibu) saya dan saya sengaja datang jauh-jauh kesini untuk sembahyang,” kata Adison mengulangi.
Seperti halnya tradisi ziarah kubur umat Muslim menjelang Ramadan, masyarakat Tionghoa di Selatpanjang juga telah memulai rangkaian sembahyang Cengbeng sejak beberapa hari terakhir. Mereka datang tidak hanya dari dalam kota. Banyak yang pulang dari Jakarta, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Batam, hingga luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Taiwan.
Bagi sebagian keluarga, Cengbeng bahkan lebih mengikat daripada perayaan tahun baru Imlek.
“Kalau Imlek ada keluarga yang tidak bisa pulang kampung tidak jadi persoalan. Tapi kalau sembahyang kubur ini, yang jauh-jauh pun harus datang meski dari luar negeri. Ini sudah budaya dan kepercayaan bagi kami," ujar Acun, warga Tionghoa Selatpanjang yang kini menetap di Singapura.
Pagi itu, Acun datang lebih awal. Ia harus segera kembali ke Singapura setelah menyelesaikan sembahyang.
“Sengaja datang cepat. Soalnya saya harus balik lagi. Kalau waktunya bebas, pagi boleh, siang boleh, sore juga boleh,” katanya sambil tersenyum tipis.
Bagi mereka, semua itu bukan sekadar ritual.
“Ini bentuk bakti pada orangtua atau nenek moyang, untuk membalas jerih payah mereka membesarkan kita,” ujar seorang laki-laki yang datang bersama istri dan adiknya itu.
Di tengah asap hio yang perlahan membubung ke langit pagi, suara percakapan keluarga terdengar lirih. Anak-anak kecil berlarian di antara makam, sementara orang-orang tua duduk sejenak melepas lelah setelah membersihkan nisan keluarga mereka.
Di Kampung Baru Selatpanjang, tradisi Cengbeng telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Tionghoa sejak puluhan tahun lalu. Ia tumbuh bersama sejarah para perantau yang datang dari negeri seberang, membangun kampung, membuka usaha, membesarkan anak-anak, dan akhirnya dimakamkan di tanah yang kemudian mereka sebut sebagai rumah.*