Okt 2026
16

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Pemko Pekanbaru Apresiasi Tradisi Ceng Beng
huawen | Minggu, 5 April 2026 | 14:10:34 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : *

PEKANBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memberikan apresiasi kepada warga Tionghoa yang terus menjaga tradisi ceng beng (Qing Ming) atau ziarah kubur. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pekanbaru, Akmal Khairi, saat menghadiri puncak perayaan ceng beng di Pemakaman Tionghoa Umban Sari, Rumbai, Minggu (5/4/2026).

Akmal Khairi datang mewakili Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho. Hadir juga rombongan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pekanbaru dan Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau, Lindawati.

Dalam kata sambutannya, Akmal Khairi mengatakan, tradisi ceng beng merupakan wujud bakti kepada leluhur. Mengadung nilai-nilai luhur yang terus diwariskan kepada generasi muda, sehingga memperkuat moralitas masyarakat Pekanbaru. Kemudian memperkuat semangat kekeluargaan di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca :

"Tradisi ceng beng mempertegas kebudayaan Tionghoa merupakan bagian tak terpisahkan dari keberagaman budaya di Pekanbaru. Pemko Pekanbaru berharap tradisi Ceng Beng terus dipertahankan dan diperkenalkan kepada generasi muda," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi Pekanbaru, Toni Sasana Surya menambahkan, Ceng Beng merupakan salah satu tradisi penting bagi masyarakat Tionghoa. Tradisi merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang menghormati leluhurnya. Puncak ceng beng jatuh pada tanggal 5 April. Namun warga Tionghoa sudah bisa ziarah kubur 10 hari sebelum tanggal 5 April dan 10 hari setelahnya.

Tradisi ceng beng juga menjadi ajang reuni bagi anggota keluarga. Banyak para perantau yang pulang kampung. Berkumpul bersama  seluruh anggota keluarga untuk melaksanakan sembahyang dan ziarah.

Diperkirakan 25 ribu hingga 30 ribu warga Tionghoa  mendatangi Pemakaman Tionghoa Umban Sari Rumbai untuk memperingati ceng beng  atau ziarah ke makam leluhur. Peziarah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Saat ini, di Pemakaman Tionghoa Umban Sari terdapat sekitar 5000 makam dan 1000 tempat abu jenazah, termasuk makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya.

Dalam puncak perayaan ceng beng di Pekanbaru, Ormas Tionghoa dan lembaga Agama Buddha dan Pendidikan melaksanakan sembahyang bersama dan ziarah ke makam yang tidak diketahui identitas dan ahli warisnya di puncak ceng beng. Terdapat persembahan buah-buahan, telur, daging, ikan dan kue.

"Tadi kita ziarah dan berdoa di makam tanpa identitas serta tidak diketahui ahli warisnya, termasuk di makam-makam yang belum dikunjungi sanak keluarganya. Ini kita laksanakan setiap tahun," ungkap Toni Sasana Surya.

Sejarah Ceng Beng
Mengutip berbagai sumber, tradisi Ceng Beng atau yang juga dikenal dengan Festival Qing Ming ini diperkirakan bermula sejak zaman Kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming. Zhang saat itu berasal dari keluarga yang sangat miskin.

Karena itu, ketika membesarkan dan mendidik Zhu Yuan Zhang, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Saat beranjak dewasa, Zhu Yuan Zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontakan anti-Dinasti Yuan (Mongol).

Karena ketangkasannya, dalam waktu singkat, ia berhasil mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut. Kemudian ia menalukkan Dinasti Yuan dan berhasil jadi kaisar.

Setelah itu, Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa, ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan ternyata tidak diketahui keberadaan makamnya.

Untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, Zhu Yuan Zhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan.

Selain itu, ia juga memerintahkan rakyat untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berziarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibersihkan, serta diberi tanda.

Kaisar pun berziarah ke makam-makam tersebut dan berasumsi bahwa di antara makam-makam tersebut merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya. Akhirnya ritual ziarah makam ini dilakukan setiap tahun.*

 

 

 

Terbaru
pekanbaru
Tahun Ini, Pemko Pekanbaru Salurkan Bantuan Untuk UMKM
Jumat, 16 Oktober 2026 | 18:51:19 WIB
sportainment
Dua Personel Brimob Polda Riau Raih Tiga Prestasi di Kejurprov Anggar 2026
Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:53:57 WIB
pekanbaru
Diguyur Hujan, Kualitas Udara Pekanbaru Masih Kategori Tidak Sehat
Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:24:34 WIB
sportainment
Gol di Injury Time, Juventus Kalahkan Celta Vigo 2-1
Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:13:23 WIB
pekanbaru
Wisuda ke-9, Universitas Hang Tuah Pekanbaru Lepas 682 Lulusan
Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:48:14 WIB
inhu
Sekda Inhu Tinjau Sekolah Penerima Bantuan Dana Revitalisasi
Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:34:39 WIB
potensa
PWI-Lemhannas Teken MoU untuk Menjaga Ketahanan Nasional
Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:25:07 WIB
华 闻
16 Tim Ikuti Turnamen MLBB...
Minggu, 4 Oktober 2026 | 06:22:51 WIB
Pemujaan Kepada Dewa Cap Sa Thai Po di Pedekik...
Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:59:57 WIB
Artikel Popular
politik
Bistamam Maju Calon Ketua Golkar...
Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:30:33 WIB
Helena Ditunjuk Jadi Ketua Badan Rescue NasDem...
Rabu, 30 September 2026 | 20:16:04 WIB
hukum
Nasional
Biaya Haji 2027 Ditetapkan Rp98,4...
Rabu, 7 Oktober 2026 | 20:09:35 WIB