Apr 2026
14

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Hakim Tolak Perlawanan Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
hukum | Rabu, 8 April 2026 | 21:37:33 WIB
Editor : Linda | Penulis : Linda N

PEKANBARU - Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru menolak seluruh perlawanan yang diajukan Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid. Hakim menyatakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sah dan sesuai prosedur hukum.

Penolakan itu disampaikan majelis hakim yang diketuai Delta Tamtama, didampingi hakim anggota Aziz Muslim dan Dr. Edi Dharma Putra dalam persidangan dengan agenda putusan sela, Rabu (8/4/2036).

Sidang dihadiri oleh Abdul Wahid beserta Tim Advokat serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Baca :

Sebelumnya, Tim Advokat Abdul Wahid menyatakan perlawanan terhadap dakwaan JPU. Dakwaan dsiebut tidak cermat, tidak lengkap dan tidak jelas. Tim Advokat meminta agar hakim menulok dakwaan tersebut dan membebaskan Abdul Wahid.

Namun, majelis hakim dalam amar putusannya berpendapat lain. Hakim menyatakan, perlawanan advokat terdakwa tidak memenuhi standar formal maupun materiil. Advokat juga mencampuradukkan kewenangan pejabat lain dengan tindakan terdakwa Abdul Wahid.

Hakim menyatakan, dakwaan JPU telah disusun dengan lengkap dan sah, serta tidak terdapat kesalahan identitas atau substansi perbuatan.

"Kesalahan pengetikan atau penyusunan surat dakwaan tidak memengaruhi materi dakwaan yang sah," kata hakim Delta.

Majelis hakim juga menegaskan bahwa dakwaan telah memenuhi ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, serta prosedur hukum acara pidana yang berlaku.

Majelis hakim menekankan bahwa perlawanan advokat harus dibuktikan dengan keterangan saksi, bukti, atau alat bukti sah lainnya yang sudah masuk ke pokok perkara. Karena hal ini tidak terpenuhi, perlawanan ditolak seluruhnya.

"Menyatakan perlawanan advokat terdakwa Abdul Wahid tidak diterima untuk seluruhnya. Perkara atas namaaterdakwa Abdul Wahid tdilanjutkan dengan menghadirkan alat bukti dan saksi di persidangan," kata hakim Delta.

Untuk itu, hakim meminta JPU menghadirkan para saksi untuk dimintai keterangannya. Sidang lanjutan akan digelar dengan agenda pemeriksaan saksi pada tanggal 16 dan 17 April 2026.

Hormati Putusan Hakim

Usai persidangan, Abdul Wahid menyatakan menghormati putusan majelis hakim dan menyambut proses pembuktian. 

“Saya mengucapkan terima kasih bahwa kita lanjut ke pembuktian. Mudah-mudahan di pembuktian ini akan terbuka fakta-fakta semuanya, sehingga masyarakat bisa tahu dan para hakim bisa mengambilkan keputusan yang terbaik,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI ini menambahkan, siap mengadakan pembuktikan. “Insya Allah apa yang didakwakan, Insyaallah nanti kita buktikan bersama-sama," ucapnya.

Abdul Wahid juga meminta masyarakat mengikuti jalannya proses hukum secara objektif.

 “Saya mohon kepada masyarakat Indonesia untuk melihat bagaimana proses ini berjalan. Apa yang sebenarnya terjadi, biar semuanya terbuka,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Abdul Wahid diduga bersama Kepala Dinas PUPRPKPP Muhammad Arief Setiawan, Tenaga Ahli Gubernur Dani M Nursalam, serta ajudannya Marjani, memaksa para kepala UPT Jalan dan Jembatan untuk menyerahkan sejumlah uang.

Peristiwa tersebut terjadi dalam rentang April hingga November 2025 di sejumlah lokasi di Pekanbaru, termasuk rumah dinas gubernur, kantor dinas, hingga kediaman pihak-pihak terkait.

JPU KPK mengungkap, praktik tersebut bermula dari arahan Abdul Wahid dalam rapat pada 7 April 2025 di rumah dinas gubernur. 

Dalam pertemuan itu, para pejabat diminta untuk patuh terhadap pimpinan dengan pernyataan “matahari hanya satu”, disertai ancaman mutasi bagi yang tidak mengikuti perintah.

Setelah Pemerintah Provinsi Riau menetapkan pergeseran anggaran tahun 2025 dengan nilai ratusan miliar rupiah, para kepala UPT disebut diminta menyetorkan “fee” sebagai bentuk loyalitas. 

Permintaan tersebut disampaikan melalui Kepala Dinas PUPRPKPP dan perantara lainnya.

Awalnya, para kepala UPT hanya menyanggupi setoran sekitar 2,5 persen dari anggaran. namun jumlah itu kemudian dinaikkan menjadi 5 persen atau sekitar Rp7 miliar. 

Para pejabat disebut terpaksa menyetujui permintaan tersebut karena adanya tekanan dan ancaman pencopotan jabatan. Setoran uang dilakukan secara bertahap.

Pada tahap pertama, terkumpul Rp1,8 miliar, diikuti tahap kedua sebesar Rp1 miliar, dan tahap ketiga Rp750 juta.  Total uang yang terkumpul mencapai Rp3,55 miliar.

Dalam dakwaan juga diuraikan bahwa sebagian uang tersebut disalurkan kepada Abdul Wahid melalui perantara, serta digunakan untuk berbagai kepentingan non-kedinasan, termasuk kebutuhan pribadi dan kegiatan tertentu.

JPU KPK menilai perbuatan terdakwa melanggar Pasal 12 huruf e Juncto Pasal 18 Undang-Undang (Uau) RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UI RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 20 huruf c UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab UI Hukum Pidana (KUHP). *

Terbaru
otomotif
Ini 10 Mobil Hybrid Terlaris di Maret 2026
Senin, 13 April 2026 | 19:40:00 WIB
pekanbaru
TPID Riau Gelar Operasi Pasar Murah di 5 Titik
Senin, 13 April 2026 | 19:10:00 WIB
pekanbaru
Plt Gubri Pastikan Relokasi TNTN Lindungi Hak Warga
Senin, 13 April 2026 | 14:12:28 WIB
sportainment
Manchester City Dekati Arsenal
Senin, 13 April 2026 | 10:46:44 WIB
华 闻
Pemko Pekanbaru Apresiasi Tradisi Ceng Beng...
Minggu, 5 April 2026 | 14:10:34 WIB
Artikel Popular
1
politik
hukum
Kapolda Riau Copot Kapolsek dan Kanit Reskrim...
Minggu, 12 April 2026 | 17:21:00 WIB
Nasional