|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

JAKARTA – Jepang tengah menghadapi gelombang panas ekstrem dengan suhu di sejumlah wilayah diperkirakan menembus 40 derajat Celsius. Kondisi ini memicu peringatan serius terkait risiko heatstroke atau sengatan panas.
Badan Meteorologi Jepang telah mengeluarkan peringatan heatstroke di berbagai daerah. Suhu tinggi diprediksi terjadi di Kumagaya, wilayah utara Tokyo, serta Nagoya di Jepang bagian tengah.
Fenomena ini bahkan telah memasuki hari kedua berturut-turut dari kondisi yang kini disebut sebagai kokushobi, istilah baru untuk menggambarkan hari dengan suhu mencapai atau melampaui 40 derajat Celsius.
Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan pendingin ruangan, mencukupi kebutuhan cairan, serta menghindari aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Gelombang panas ini bukanlah kejadian biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami peningkatan suhu musim panas yang signifikan. Bahkan pada tahun sebelumnya, Jepang mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 41,8 derajat Celsius di Kota Isesaki, Prefektur Gunma.
Dampak dari panas ekstrem ini sudah mulai terasa luas. Dalam periode 6 hingga 12 Juli saja, tercatat sebanyak 4.580 orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat gejala heatstroke. Dari jumlah tersebut, tujuh orang dilaporkan meninggal dunia berdasarkan data Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang.
Untuk mengklasifikasikan fenomena ini, Badan Meteorologi Jepang tahun ini mulai menggunakan istilah kokushobi. Istilah tersebut mencerminkan semakin seringnya Jepang mengalami suhu ekstrem yang melampaui batas normal.
Situasi ini juga mengingatkan pada musim panas 2025, ketika lebih dari 100.000 orang di Jepang dilaporkan membutuhkan perawatan medis akibat heatstroke.
Masyarakat pun diimbau untuk mengenali gejala heatstroke, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Paparan panas ekstrem dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan garam secara drastis. Dalam kondisi berat, hal ini dapat memicu peningkatan suhu tubuh secara ekstrem, gangguan kesadaran, hingga kerusakan organ.*