|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperkuat langkah perlindungan masyarakat dari dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemantauan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga kesiapan fasilitas kesehatan ditingkatkan, terutama di wilayah yang terdampak asap.
Kepala Dinkes Riau, Zulkifli, mengatakan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota terus dilakukan untuk memantau kondisi masyarakat. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, lansia dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Pelalawan. Dinkes Riau bersama Dinas Kesehatan Pelalawan tengah memetakan kelompok rentan yang terdampak kabut asap untuk mendapatkan dukungan kesehatan dan asupan tambahan.
"Kami sudah kontak dengan Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan untuk memetakan ibu hamil, bayi dan kelompok rentan yang terdampak kabut asap. Kami akan support asupan makanan tambahan dan vitamin," kata Zulkifli, Selasa (25/8/2026).
Dinkes Riau mencatat 445 kasus ISPA di empat kabupaten/kota selama periode 19-22 Agustus 2026. Rinciannya, 211 kasus pada 19 Agustus, 71 kasus pada 20 Agustus, 108 kasus pada 21 Agustus dan 55 kasus pada 22 Agustus.
Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak. Tercatat 97 kasus pada 19 Agustus, 20 kasus pada 20 Agustus, 47 kasus pada 21 Agustus dan 13 kasus pada 22 Agustus.
Sementara itu, Kampar mencatat masing-masing 48, empat, enam dan tiga kasus pada periode yang sama.Pelalawan mencatat 44 kasus pada 19 Agustus, 26 kasus pada 20 Agustus dan 36 kasus pada 21 Agustus. Sedangkan di Siak, tercatat 22 kasus pada 19 Agustus.
Secara kumulatif, berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 21 Agustus 2026, jumlah kasus ISPA di Riau mencapai 1.948 kasus. Selain ISPA, tercatat 43 kasus asma, 36 kasus iritasi kulit dan 16 kasus konjungtivitis.
Meski angka kasus terus dipantau, Zulkifli menyebut kondisi tersebut belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dinkes Riau tetap mengedepankan langkah pencegahan agar paparan asap tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
"Alhamdulillah, kasus ISPA ini dapat teratasi. Agar tidak terjadi peningkatan kasus, kami terus mengedepankan langkah preventif dengan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar," ujarnya.
Selain pencegahan, kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan juga diperkuat. Dinkes Riau memastikan puskesmas tetap siap memberikan pertolongan apabila terjadi kondisi darurat akibat paparan asap.
Puskesmas telah diminta menyiagakan tim layanan kegawatdaruratan sekaligus memastikan ketersediaan oksigen, terutama untuk memberikan pertolongan awal kepada pasien yang mengalami sesak napas.
"Di Puskesmas sudah ada tim layanan emergency. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas," kata Zulkifli.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kualitas udara di dalam rumah. Saat kabut asap semakin pekat, bukaan atau ventilasi yang memungkinkan asap masuk ke dalam ruangan perlu dikurangi.
Kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker, menjaga asupan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi.
"Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, mata perih atau mual," imbaunya.*