|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

KAMPAR - Hari itu, Sabtu 29 Agustus 2026, cuaca begitu terik, puluhan batang aren ditanam di tepian kawasan PLTA Koto Panjang. Tidak ada seremoni besar. Namun, dari titik sederhana itu, sebuah ikhtiar untuk menjaga ekosistem kawasan waduk mulai ditanam.
Penanaman tersebut menjadi bagian dari implementasi awal program Biodiversity Safeguard Pilot Project yang digagas sebagai upaya melindungi keanekaragaman hayati di sekitar kawasan PLTA Koto Panjang.
Di balik sebatang aren yang ditanam, terdapat cerita yang jauh lebih panjang, yakni tentang waduk yang menjadi sumber energi, hutan yang menjadi rumah bagi satwa liar, ikan yang hidup di perairan, hingga masyarakat yang membawa adat dan tradisi dari kampung lama ke kampung baru.
Program ini merupakan tindak lanjut dari berbagai kajian biodiversitas yang dilakukan bersama sejumlah pihak, di antaranya World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia dan Rimba Satwa Foundation (RSF), dengan dukungan Uni Eropa, dan berkolaborasi dengan PT PLN (Persero).
Dalam tahap awal, PLN memilih salah satu grid atau petak kawasan yang dinilai strategis untuk dilakukan tindakan konservasi. Lokasi tersebut berada di sekitar area bendungan dan dinilai relatif mudah dijangkau sehingga memungkinkan program dapat segera dilaksanakan.
"Untuk hari ini kita coba implementasi action plan yang benar-benar bisa kita lakukan untuk pertama kali. Kita pilih grid yang bisa kita lestarikan terlebih dahulu," ujar Team Leader Sipil Bendungan dan Lingkungan PLN NP Unit Layanan PLTA Koto Panjang, Yauma Adina.
Salah satu kegiatan yang dilakukan yakni penanaman pohon aren. Tanaman tersebut dipilih karena dinilai memiliki manfaat ekologis, terutama dalam membantu mengurangi sedimentasi di sekitar kawasan.
Akar pohon aren juga dinilai dapat memberikan manfaat bagi ekosistem perairan. Keberadaan vegetasi di sekitar kawasan diharapkan dapat menjadi tempat berlindung bagi ikan sekaligus mendukung keberadaan berbagai jenis fauna yang hidup di kawasan tersebut.
"Harapannya mungkin kita juga bisa melestarikan ikan-ikan yang ada di sini yang endemik dan bisa menambah biodiversity," katanya.
Pemilihan lokasi penanaman bukan dilakukan secara sembarangan. Sebelumnya, sejumlah grid telah dipetakan dan dikaji untuk melihat kondisi vegetasi serta tingkat urgensi konservasinya.
Dari beberapa grid yang tersedia, kawasan yang dipilih saat ini merupakan salah satu lokasi yang dinilai kritis sekaligus paling memungkinkan untuk ditangani dalam jangka pendek.
"Untuk yang paling mudah dan cepat adalah grid yang di sini. Ini salah satu grid yang bisa dikatakan kritis dan mudah kita laksanakan bersama, yaitu untuk penangkalan sedimentasi," jelasnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah grid lain yang kondisinya bahkan lebih kritis karena vegetasi di kawasan tersebut telah mengalami penurunan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap keberlangsungan biodiversitas di sekitarnya.
Namun, beberapa lokasi memiliki kendala akses karena berada cukup jauh dan sulit dijangkau. Karena itu, PLN memilih kawasan yang berada paling dekat dengan area bendungan sebagai titik awal pelaksanaan program.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi menjadi langkah awal dari upaya konservasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
PLN Koto Panjang juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas kegiatan perlindungan biodiversitas di kawasan tersebut.
"Semoga ini juga bisa menjadi titik awal yang bisa kita lakukan ke depannya bersama dengan stakeholder yang lain yang juga mungkin bisa bekerja sama dengan kami," pungkasnya.
Upaya Jaga Waduk dan Habitat Satwa Dilindungi
Upaya menjaga kelestarian kawasan PLTA Koto Panjang tidak hanya menyasar keberlangsungan fungsi waduk sebagai sumber energi, tetapi juga ekosistem yang hidup di sekitarnya.
Hal itu mulai diwujudkan melalui penanaman vegetasi di salah satu kawasan prioritas yang dinilai kritis. Kegiatan tersebut merupakan hasil kajian peneliti bidang terestrial dan akuatik dari Rimba Satwa Foundation (RSF) dalam program Biodiversity Safeguard.
Lokasi penanaman dipilih karena berada di titik yang relatif dekat dengan bendungan dan memiliki persoalan sedimentasi yang cukup tinggi.
"Penanaman ini adalah hasil kajian oleh peneliti bagian terestrial dan akuatik. Salah satu yang menjadi prioritas itu adalah titik ini, karena merupakan titik terdekat juga dengan bendungan," ujar Git Fernando, Project Leader Program biodiversity safeguard di waduk PLTA Koto Panjang menambahkan.
Menurutnya, penanaman tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong keterlibatan lebih banyak pihak dalam menjaga kawasan PLTA Koto Panjang. Sebab, keberadaan waduk tidak hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan listrik.
"Dengan permulaan penanaman ini, kita berharap stakeholder lainnya ikut menjaga PLTA Koto Panjang. PLTA Koto Panjang juga berperan penting untuk masa depan kita, untuk listrik yang kita butuhkan saat ini," ucapnya tegas.
Kegiatan tersebut menjadi implementasi pertama dalam pilot project program Biodiversity Safeguard. Program ini tidak berhenti pada satu kali penanaman. Berdasarkan rencana yang disusun, akan ada tiga kali kegiatan dalam satu rangkaian pilot project.
RSF juga telah menyiapkan sejumlah jenis tanaman yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian. Selain aren, jenis vegetasi yang berpotensi ditanam antara lain meranti rawa serta tanaman yang memang telah tumbuh di sekitar kawasan.
Untuk ekosistem perairan, penanaman vegetasi juga diarahkan pada jenis yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan akuatik, termasuk menjadi tempat berlindung atau sumber makanan bagi ikan.
"Ini merupakan plot project yang pertama kita lakukan di sini. Nanti ada tiga kali kegiatan, dan ini yang pertama," ujarnya.
Pemilihan tanaman dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat ekologis sekaligus manfaat bagi masyarakat. Program Biodiversity Safeguard tidak hanya melihat aspek perlindungan satwa dan lingkungan, tetapi juga bagaimana upaya konservasi memberikan nilai bagi manusia yang hidup di sekitar kawasan.
Karena itu, setiap jenis tanaman yang dipilih harus memiliki fungsi yang jelas.
Aren, misalnya, dinilai memiliki manfaat untuk membantu menahan laju sedimentasi. Sementara dari sisi ekosistem perairan, vegetasi di sekitar waduk dapat berfungsi sebagai naungan bagi ikan.
"Jangan hanya menanam, tapi nanti tidak berguna juga. Aren ini bisa berguna untuk bagian terestrial, yaitu menahan lajunya sedimentasi yang cukup tinggi. Untuk air, juga bisa menjadi perlindungan atau naungan ikan," jelasnya.
Aren juga dinilai memiliki potensi ekonomi yang baik sehingga keberadaannya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga dapat mendukung masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, konservasi diharapkan tidak berjalan sendiri. Pemerintah, PLN, masyarakat, lembaga konservasi, serta pemangku kepentingan lainnya diharapkan memiliki peran dalam menjaga kawasan waduk.
"Untuk jangka pendek, bagaimana seluruh multistakeholder ikut serta dalam menjaga waduk ini. Kita sama-sama melakukan ini, tidak hanya PLN, tidak hanya masyarakat yang berada di sekitar waduk dan tidak hanya kami sebagai CSO lokal," katanya.
Habitat Satwa Masih Terjaga
Kajian RSF juga menunjukkan bahwa kawasan sekitar PLTA Koto Panjang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati.
Sejumlah satwa dilindungi dan satwa liar masih ditemukan di kawasan tersebut. Di antaranya lutung kokah yang menjadi salah satu satwa khas Sumatera dan terdapat di Riau, burung migran, beruang, kijang, rusa, serta napuh.
Bahkan, jejak harimau Sumatera juga pernah ditemukan di kawasan tersebut.
Keberadaan berbagai jenis satwa itu menjadi salah satu indikator bahwa habitat di sekitar waduk masih memiliki kondisi yang mendukung kehidupan satwa.
RSF menyebut hasil pemantauan menggunakan kamera jebak menunjukkan keberadaan satwa di seluruh grid yang dipasangi kamera.
"Populasi satwanya bagus. Seluruh grid yang kita pasang kamera trap mendapatkan satwa. Itu menggambarkan habitatnya masih bagus," ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti kawasan sepenuhnya bebas dari ancaman. RSF menilai perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam menjaga keberlangsungan habitat.
Dalam kajian sebelumnya, kawasan PLTA Koto Panjang dibagi ke dalam 18 grid untuk melihat kondisi biodiversitas dan tingkat kekritisannya. Dari keseluruhan grid tersebut, tidak semuanya masuk kategori lahan kritis.
"Hanya bagian-bagian tertentu saja. Dan yang ini salah satunya adalah lahan kritis," katanya.
Karena itu, penanaman vegetasi di titik tersebut diharapkan menjadi awal dari rangkaian tindakan konservasi yang lebih luas.
Bukan sekadar menanam pohon, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa menjaga waduk berarti juga menjaga hutan, tumbuhan, ikan, dan satwa yang menjadikan kawasan Koto Panjang sebagai habitat.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah tanaman yang tumbuh, tetapi dari seberapa banyak pihak yang ikut menjaga ekosistem tersebut agar tetap berfungsi bagi alam dan manusia.
Menjaga Hutan Adat, Merawat Kehidupan di Danau Koto Panjang
Di tepian Danau PLTA Koto Panjang, hutan adat bukan sekadar hamparan pepohonan. Di dalamnya tumbuh kehidupan flora, fauna, sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Namun, sebagian kawasan mulai tersentuh aktivitas manusia. Karena itu, Pemerintah Desa Pulau Gadang bersama pemangku adat menyiapkan aturan adat yang akan diperkuat melalui Peraturan Desa (Perdes).
Salah satu gagasannya adalah membentuk Satgas Tanah Ulayat. Tugasnya bukan hanya menjaga hutan, tetapi juga memastikan ekosistem Danau PLTA Koto Panjang tetap lestari.
"Paling tidak ada dua fungsi besar, pertama menjaga kehidupan flora dan fauna di atas tanah ulayat, kemudian juga menjaga ekosistem Danau PLTA Koto Panjang," kata Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian.
Penebangan liar, termasuk tebang pilih, dan perburuan satwa tidak diperbolehkan. Langkah ini penting untuk mempertahankan satwa yang masih hidup di kawasan tersebut, seperti rusa, kijang dan landak.
Di saat yang sama, masyarakat tetap diberi ruang untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari hutan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui penanaman aren dengan pola tumpang sari di kawasan yang tidak terlalu lebat.
Sejumlah titik di sekitar danau telah ditanami aren. Ke depan, Pemerintah Desa Pulau Gadang berharap dukungan WWF Indonesia dan Rimba Satwa Foundation (RSF) terus menguatkan penghijauan dan konservasi.
Bagi Syofian, menjaga hutan bukan pekerjaan satu pihak. Pemerintah, pemangku adat, masyarakat, aparat penegak hukum, PLN dan lembaga lingkungan harus berjalan bersama.
Rencana pembentukan posko lingkungan di kawasan PLTA Koto Panjang pun menjadi bagian dari upaya tersebut sebagai pusat pemantauan sekaligus ruang edukasi. Sebab, merawat alam tidak cukup dengan larangan. Masyarakat juga perlu memahami satu hal sederhana, yakni ketika hutan rusak, kehidupan di dalamnya ikut kehilangan rumah.
"Banyak masyarakat belum teredukasi tentang akibat kerusakan hutan. Itu penting sekali bagi kita," pungkas Syofian.*