Okt 2026
22

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Tokoh-tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi AI
nasional | Sabtu, 5 September 2026 | 21:26:11 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : rls

BALI - Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum dimulai melalui Bali Harmony Dialogue, Kamis (3/9/2026), di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.
Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Yang menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam perkembangan AI.

Baca :

Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.

Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan mengatakan Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.

"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," tandas Luhut.

Sementara Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.

"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya tentang apa yang mampu dilakukan mesin.

Menurutnya, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.*

Terbaru
pekanbaru
Kasus ISPA di Riau Tembus 35.910, Pekanbaru Tertinggi
Kamis, 22 Oktober 2026 | 17:04:40 WIB
otomotif
Honda Kembali Pamerkan Brio S CVT di Mal SKA, Mobil Ready Stock
Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:11:54 WIB
politik
Hari Santri 2026, H Yopi Arianto Berharap Pesantren di Riau Diperkuat
Kamis, 22 Oktober 2026 | 13:30:50 WIB
sportainment
Como Habisi MU 4-1 di Liga Champions
Kamis, 22 Oktober 2026 | 07:38:10 WIB
kampar
Jalani Prosesi Adat , Pelantikan LAK Diundur Hingga 8 November 2026
Rabu, 21 Oktober 2026 | 19:56:13 WIB
inhu
Sekda Inhu Rapat Integritas Penataan Aset GTRA
Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:43:28 WIB
Artikel Popular
politik
RBN Riau Disambut Antusias, 1.169 Siswa...
Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:27:56 WIB
hukum
Nasional
2.458 Penerbangan Terdampak Asap...
Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:42:55 WIB