|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU — Kabar duka datang dari Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak. Gajah binaan bernama Diego mati pada usia 17 tahun setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif oleh tim medis.
Tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyatakan, Diego mati pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelum mati, kondisi gajah jantan tersebut sempat membaik setelah mendapat pengobatan.
Pelaksana harian (Plh) Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan gejala sakit mulai terlihat pada 10 September 2026. Saat itu, Diego mengalami diare dan penurunan nafsu makan.
"Tim medis BBKSDA Riau kemudian melakukan pemeriksaan. Dari diagnosis awal, Diego diduga mengalami cacingan setelah ditemukan beberapa cacing dalam kotorannya," ujar Ujang, Kamis (17/9/2026).
Ujang menjelaskan, pengobatan pun diberikan berupa antibiotik, obat antiradang dan antiinflamasi, serta obat cacing. Setelah beberapa hari menjalani pengobatan intensif, kondisi Diego sempat menunjukkan perkembangan positif.
Nafsu makannya meningkat dan kotorannya kembali berbentuk. Pemeriksaan feses juga dilakukan di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru dan hasilnya dinyatakan negatif dari cacing.
Namun, kondisi Diego kembali menurun pada 15 September 2026.
"Mahout melaporkan Diego tidak mau makan sama sekali. Diare kembali terjadi dengan frekuensi sering dan hanya berupa cairan. Kondisi fisiknya juga sangat lemah," kata Ujang.
Aktivitas minumnya pun sangat minim. Diego hanya minum lima tegukan pada pagi hari, tiga tegukan saat hendak diberi obat pada siang hari, dan satu tegukan ketika dimandikan pada sore hari.
Tim medis BBKSDA Riau kembali memberikan perawatan dengan cairan infus, obat suportif berupa vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi. Sampel feses juga diambil untuk pemeriksaan parasit.
Keesokan harinya, tim medis kembali melakukan pengobatan lanjutan. Saat hendak menjalani treatment berupa pengambilan sampel darah, pemberian cairan infus, dan obat-obatan lainnya, kondisi Diego tiba-tiba terduduk dan tumbang.
"Tak lama kemudian, tanda-tanda vital Diego hilang. Ia dinyatakan mati pada pukul 12.00 WIB," ungkap Ujang.
Berdasarkan hasil nekropsi, penyebab kematian Diego diduga akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis. Tim medis BBKSDA Riau kemudian mengambil sampel organ untuk pemeriksaan laboratorium guna meneguhkan diagnosis.
Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jasad Diego dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku.
Diego merupakan gajah Sumatera jantan yang lahir pada 3 September 2009. Ia dibesarkan di PLG Minas dari induk betina Vera dan induk jantan Reno.
Selama berada di PLG Minas, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang berperan menyambut para pengunjung.
Ujang menyebut, karena usia Diego masih remaja dia banyak didekati pengunjung. Kendati begitu, pemberian makanan dari pengunjung selalui diawasi untuk menghindari hal tak diinginkan.
"Selama ini prmberian makan dari pengunjung selalu kita awasi," ucap Ujang.
BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan kepada para dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah memberikan perawatan kepada Diego.
BBKSDA Riau, lanjut Ujang, juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.
Ia menekankan upaya konservasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk dalam menjaga habitat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, serta mendukung program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia.*