Kamis | 05 Desember 2019
PSMTI Riau Audiensi Dengan Wagubri
Menjelang pengukuhan dewan dan pelantikan pengurus Paguyuban Sosial Marga.


Rabu | 04 Desember 2019
PSMTI Pekanbaru Sukses Gelar KOCI ke-2
Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Pekanbaru, belum lama.


Rabu | 04 Desember 2019
PSMTI Riau Nobar Film Susi Susanti Love All
Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau menggelar Nonton Bareng.

Rubrik : kampar
Perlu Sinergi Pusat dan Daerah Tuntaskan Stunting
Editor : wisly | Penulis: Adi
Selasa , 01 Oktober 2019
Kementrian Kominfo sebagai kordinator kampanye penurunan prevalensi nasional menyelenggarakan Forum Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest).(adi)


BANGKINANG KOTA – Kampar merupakan kabupaten yang memiliki tingkat stunting yang mengejutkan. Sekitar sepuluh desa tergolong memiliki stunting yang tinggi.

Hal tersebut dikatakan Kasie Prodiksi Konten dan Diseminasi Kesehatan Kementrian Kominfo, Septa Dewi Anggraeni seusai pembukaan forum sosialisasi generasi bersih dan sehat Kabupaten Kampar, Senin (01/10) di Hotel Altha Bangkinang.

Septa mengungkapkan, berdasarkan penelitian dari Kementerian RI beberapa tahun yang lalu, Kabupaten Kampar memiliki 10 desa yang tingkat stuntingnya tinggi.

Dijelaskannya, stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Stunting terjadi pada usia 1000 hari pertama terhadap Balita.

Sementara itu, Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. 

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Selain kekurangan asupan gizi dan pola hidup yang bersih dan sehat, stunting diakibatkan oleh pernikahan dini yang mengakibatkan hamil pada usia yang tidak ideal.

“Stunting boleh dikatakan Balita yang gagal pertumbuhan,” jelas Septa.

Septa dengan tegas mengatakan, stunting merupakan hal yang sangat membahayakan. Karena stunting bukanlah sebuah penyakit, tetapi stunting merupakan sebuah kecacatan yang tidak ada obatnya. Stunting tidak memiliki obat, namun stunting hanya bisa dicegah dengan pola bidup yang bersih dan sehat.

Mengingat stunting membahayakan, Kementrian Kominfo sebagai kordinator kampanye penurunan prevalensi nasional menyelenggarakan Forum Sosialisasi Generasi Bersih dan Sehat (Genbest) untuk mengdukasi para siswa SMA, mahasiswa, serta anggota komunitas Kabupaten Kampar seputar stunting, wawasan pemenuhan gizi yang seimbang, dan cara menjalani pola hidup sehat. 

Para peserta Forum sosialisasi Genbest diharapkan dapat menjadi agen komunikasi dalam mensosialisasikan dan mengkomunikasikan mengenai pencegahan stunting kepada teman-teman sebaya mereka, baik melalui tatap muka maupun melalui sosial media.

Septa mengungkapkan, stunting hanya dapat dicegah dengan pola pikir dan komitmen bersama dalam mengantisipasi stunting. Pemerintah Daerah mesti terintegrasi secara baik dengan pemerintah pusat dalam semangat pencegahan terjadinya stunting. Tanpa kepedulian dan komitmen pemerintahan daerah, maka stunting akan berat dicegah di wilayah Kabupaten Kampar.*




Berita Lainnya