Okt 2026
28

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Saat Tangan Berbicara, Ruang Setara Hadirkan Kesetaraan
etalase | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:02:59 WIB
Editor : * | Penulis : Rivo

PEKANBARU - Waktu itu, Selasa, 15 September 2026, cahaya matahari berpendar di Jalan Abdullah Munsyi Nomor 15, Kelurahan Cinta Raja, Kecamatan Sail, Kota Pekanbaru. Di antara deretan bangunan, sebuah rumah minimalis dengan kusen berwarna hitam tampak berdiri kokoh di sisi kiri.

Dari luar, kafe itu tampak tak ada yang istimewa, bahkan terlihat nyaris sama dengan kafe pada umumnya. Namun, di balik pintunya, ada cerita tentang tangan-tangan yang berbicara, mimpi yang kembali tumbuh, dan kesempatan yang perlahan mengubah hidup.

Namanya "Ruang Setara". Ketika saya melangkah masuk, tercium aroma kopi yang menguar, berpadu dengan aktivitas para pekerja yang melayani pelanggan. Ada yang berkomunikasi melalui suara, ada pula yang menyampaikan pesan lewat gerakan tangan. Sesekali, tatapan dan senyum menjadi penghubung di antara keduanya.

Baca :

Di sini, percakapan tak selalu membutuhkan suara. Dan pekerjaan tak harus ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk mendengar atau berbicara.

Ruang Setara bukan sekadar tempat menikmati kopi. Di balik meja kasir, mesin espresso, dan dapurnya, tersimpan ikhtiar untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas (tunarungu/tuli) bukan orang yang harus dikasihani, melainkan individu yang berhak memperoleh kesempatan.

Sebab, terkadang yang menghalangi seseorang bukanlah keterbatasan dirinya, melainkan dunia yang belum bersedia memberinya ruang.

Dari Koperasi, Tumbuh Harapan

Ruang Setara resmi dibuka pada 25 Juni 2026. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya pemberdayaan penyandang disabilitas yang didukung PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama SKK Migas, dengan melibatkan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dalam pengembangan keterampilan.

Di balik usaha ini, ada Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera yang menjadi wadah pemberdayaan penyandang disabilitas dan keluarganya.

Tujuannya sederhana, keterampilan yang telah dipelajari harus memiliki jalan untuk berkembang, bukan berhenti sebagai pengetahuan tanpa kesempatan.

Melalui program pelatihan, peserta dibekali keterampilan seperti meracik kopi, membuat kue, mengolah makanan, hingga mencuci sepatu. Bekal itulah yang kemudian diharapkan menjadi pintu menuju dunia kerja dan kemandirian ekonomi.

Namun, memiliki keterampilan saja tidak cukup. Para teman disabilitas tentunya juga membutuhkan tempat untuk mempraktikkannya, memperoleh pengalaman, dan membuktikan bahwa dirinya mampu. Apalagi tidak semua tempat mau menerima para penyandang disabilitas bekerja.

Di sinilah Ruang Setara mencoba menjawab kebutuhan itu. Meski baru berdiri, Ruang Setara hadir sebagai upaya nyata untuk membuka ruang, menghadirkan kesempatan, dan menjawab kebutuhan penyandang disabilitas agar dapat tumbuh, berkarya, serta berdaya tanpa dibatasi perbedaan.

Bahkan nama Ruang Setara bukan sekadar identitas, melainkan cerminan sebuah harapan untuk menciptakan kesetaraan dan menghadirkan ruang yang merangkul semua orang tanpa sekat dan perbedaan. Di tempat ini, setiap orang memiliki hak yang sama untuk datang, berinteraksi, dan menjadi bagian dari kebersamaan.

"Filosofinya supaya di sini tidak ada perbedaan. Semuanya sama, semua bisa ke sini, dan semua boleh berkumpul di sini," ujar Pengawas Ruang Setara, Lianny Rumondor.

Di kafe ini, ada enam pekerja yang saling berdampingan menjalankan tugas masing-masing. Empat di antaranya merupakan teman tuli, sedangkan dua lainnya non-disabilitas. Ada yang melayani pelanggan, mengoperasikan kasir, meracik kopi, hingga membantu menyiapkan makanan di dapur.

"Saat ini ada enam pekerja di Ruang Setara. Empat diantaranya merupakan teman-teman tuli, dan dua lainnya merupakan non-disabilitas. Disini kita berkolaborasi," celetuk Supervisor Ruang Setara, Cici Septianis menjelaskan.

Mereka bukan sekadar wajah dalam sebuah program sosial. Mereka adalah pekerja dengan tugas, tanggung jawab, dan keterampilan yang terus diasah.
Di situlah pemberdayaan menemukan maknanya, bukan hanya memberikan bantuan, tetapi membuka jalan agar seseorang dapat melangkah dengan kemampuannya sendiri.

Belajar Memahami, Belajar Bekerja

Tentu, jalan menuju kesetaraan tidak selalu mulus. Pada masa-masa awal, perbedaan cara berkomunikasi kerap menimbulkan kesalahpahaman. Teman dengar menggunakan suara, sedangkan teman tuli mengandalkan bahasa isyarat. Ketika pesan tak tersampaikan dengan baik, pekerjaan sederhana pun bisa memicu rasa kesal dan kecewa.

Lianny mengenang, hampir setiap pekan ada persoalan yang perlu diselesaikan. Ada yang tersinggung karena merasa tidak dipahami, ada pula yang menangis karena pesan yang disampaikan tidak sampai sebagaimana mestinya.

Salah satu pengalaman terjadi ketika seorang pekerja tuli mengangguk saat menerima instruksi di dapur. Namun, keesokan harinya, ia ternyata belum memahami penjelasan tersebut. Kesalahpahaman pun terjadi.

"Dulu awalnya hampir setiap pekan ada aja persoalan yang harus diselesaikan karena mis komunikasi. Bahkan sampai ada yang menangis karena sulitnya menjalin komunikasi, karena pesan yang disampaikan sering salah penafsiran," beber Lianny mengingat masa awal.

Peristiwa itu mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi penting. Anggukan tidak selalu berarti mengerti. Diam tidak selalu berarti mengabaikan.
Mereka kemudian belajar memahami satu sama lain. Instruksi disampaikan dengan bantuan visual, komunikasi disesuaikan, dan pekerjaan dipelajari secara bertahap.

Sistem pemesanan pun dibuat lebih mudah dipahami, termasuk melalui poster petunjuk bagi pelanggan.

Pelatihan kerja berlangsung sekitar dua minggu. Para pekerja belajar mengenali menu, menggunakan aplikasi kasir, melayani pelanggan, serta berkoordinasi dengan bagian bar dan dapur.

Prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Ada keterampilan yang harus diulang, instruksi yang perlu dijelaskan berkali-kali, serta kesabaran yang harus terus dipelihara.

Di Ruang Setara, inklusivitas bukan berarti semua orang harus bekerja dengan cara yang sama. Inklusivitas berarti menemukan cara agar setiap orang dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Bahkan, di kafe ini, seorang barista bisa menjadi guru bahasa isyarat bagi pelanggan yang ingin belajar. Dari sebuah pesanan kopi, percakapan kecil dapat tumbuh. Dari gerakan tangan yang awalnya terasa asing, keberanian untuk saling menyapa perlahan muncul. Tak ada ruang kelas, tak ada papan tulis. Hanya ada secangkir minuman dan kemauan untuk memahami.

Mimpi yang Kembali Menyala

Bagi Yulia Vorna, kesempatan di Ruang Setara menjadi awal perjalanan baru.
Sebelum meracik espresso, perempuan berusia 40 tahun itu dulunya hanya bekerja membantu orang tuanya di toko grosir di Payakumbuh, Sumatera Barat, sejak berusia sekitar 10 tahun. Bertahun - tahun ia menjalani aktivitas tersebut, hingga toko keluarganya tutup pada tahun 2023.

Pekerjaan yang telah menjadi bagian dari hidupnya pun berakhir.
Kesempatan baru datang ketika seorang teman memberitahunya tentang lowongan di Ruang Setara. Dengan keterbatasan yang dimiliki (tuli), Yulia memberanikan diri melamar. Ia kemudian belajar menjalankan tugas sebagai barista, meski pada awalnya merasa kesulitan.

"Awalnya saya merasa susah. Akan tetapi, saya terus mencoba dan belajar dengan gigih, sampai akhirnya bisa menjadi barista," tutur Yulia menjelaskan dengan terbata-bata, sambil dibantu oleh pengawas Ruang Setara, Lianny menerangkan maksudnya.

Kini, tangannya tak hanya bergerak untuk menyampaikan pesan. Tangan itu juga terampil menjalankan pekerjaan, meracik minuman, dan melayani pelanggan.

Cerita serupa dijalani Boy Sujatra, (tuli). Setelah pernah bekerja di usaha konveksi di Jakarta, ia mendapat kesempatan baru di Ruang Setara sebagai kasir. Baginya, bisa kembali bekerja di lingkungan yang nyaman merupakan pengalaman yang membahagiakan.

"Saya senang sekali bekerja disini," ucap Boy singkat sambil tersenyum malu.

Sementara itu, di dapur, Cici Petri Yenti (tuli), 24 tahun, terus belajar menyiapkan makanan. Kentang goreng, nugget, dan mi goreng menjadi bagian dari tugas yang harus dikuasainya sedikit demi sedikit.

Ia masih menghadapi kesulitan dalam memahami instruksi. Rekan kerjanya, Riyen Nelto (non-disabilitas), yang bertugas sebagai kepala dapur, juga harus belajar menyesuaikan cara mengajar dan berkomunikasi dengannya.

Namun, di tengah proses yang belum sempurna itu, tumbuh pengertian baru. Riyen mengaku pengalamannya bekerja bersama teman-teman tuli mengajarkannya untuk beradaptasi dan menyadari bahwa bekerja bersama mereka tidak sesulit yang dibayangkan.

"Awalnya saya sempat ragu dan takut gak bisa beradaptasi dengan teman-teman disabilitas. Apalagi sebelumnya saya belum pernah melakukan komunikasi secara langsung. Akan tetapi setelah menjalaninya, ternyata tak sesulit yang dibayangkan, walaupun hingga kini saya masih belajar," ungkap Riyen bersemangat.

Sementara bagi Cici, pekerjaan itu bukan semata-mata tentang menyiapkan makanan. Ada pengalaman baru, rutinitas yang dijalani, dan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Ketiganya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada satu hal, yakni keinginan untuk bekerja dan kesempatan untuk membuktikan kemampuan.

Mereka tidak membutuhkan pekerjaan yang diberikan karena rasa iba. Mereka membutuhkan lingkungan yang bersedia memberi kepercayaan, menyediakan cara kerja yang sesuai, dan membiarkan kemampuan tumbuh melalui pengalaman.

Merawat Harapan, Menjemput Kemandirian

Perjalanan Ruang Setara masih panjang. Jumlah pengunjungpun belum stabil. Lokasinya yang tidak berada di jalan utama atau bisa dikatakan hidden gem juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karenanya, pengelola masih perlu memperluas promosi dan memastikan pendapatan cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Walau begitu, pendampingan PHR turut membantu pengelola memperkuat administrasi, evaluasi kinerja, dan tata kelola usaha. Di sisi lain, rencana membuka pelatihan bahasa isyarat dan pertemuan berskala kecil diharapkan menjadikan kafe ini memiliki manfaat yang semakin luas.

"Alhamdulillah PHR selalu memberikan pendampingan terhadap kita (Ruang Setara). Untuk kedepannya, kita mau membuka kelas bahasa isyarat disini," beber Lianny.

Harapannya bukan hanya membuat Ruang Setara dikenal, tetapi juga memperbesar kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan mengembangkan keterampilan.

Masyarakat pun dapat mengambil bagian dengan cara sederhana, datang, menikmati produk yang dijual, membagikan informasi, atau mulai belajar berkomunikasi dengan teman tuli.

"Tujuannya bukan hanya membuat Ruang Setara bisa dikenal banyak orang, melainkan untuk membuka kesempatan yang lebih besar lagi untuk teman-teman disabilitas agar bisa mengembangkan keterampilannya," jelas Lianny tegas.

Sebab, dukungan paling bermakna bukanlah tatapan iba, melainkan pengakuan bahwa setiap orang memiliki potensi dan hak untuk berkembang.

Siang itu, ketika saya meninggalkan Ruang Setara, saya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman. Ada pelajaran berharga yang saya ambil, bahwa kesetaraan tak selalu lahir dari kebijakan besar atau perubahan yang menggemparkan, melainkan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana, dari keberanian membuka ruang, memberi kesempatan, dan memperlakukan setiap manusia dengan martabat yang sama.

Bahkan, ia tumbuh dari sebuah meja kasir, dari tangan yang meracik kopi, dari seseorang yang bersabar mengulang pelajaran, dan dari kesempatan kerja yang diberikan dengan kepercayaan.

Di bawah semangat Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera, secangkir kopi menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi bagian dari perjalanan menuju kemandirian, tempat keterampilan menemukan jalannya dan harapan memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Di Ruang Setara, tangan-tangan itu terus berbicara. Ada yang menyampaikan pesanan, ada yang meracik espresso, ada pula yang menyiapkan makanan untuk pelanggan.

Mungkin tidak semua orang memahami bahasa yang mereka gunakan. Namun, melalui setiap pekerjaan yang mereka lakukan, ada pesan yang tersampaikan dengan begitu jelas, bahwa mereka mampu, memiliki keinginan untuk terus berkembang, dan mereka berhak memperoleh kesempatan yang sama.

Sebab, pada akhirnya, yang membuat seseorang berharga bukanlah seberapa sempurna ia memenuhi ukuran dunia, melainkan kesempatan yang dimilikinya untuk tumbuh dan berkontribusi.

Kesetaraan bukan ketika kita mengasihani mereka yang berbeda. Kesetaraan hadir ketika kita berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menutup kesempatan.

UPT PPDD Buka Jalan Kemandirian Penyandang Disabilitas

Pembinaan bagi penyandang disabilitas tidak cukup dan berhenti pada pelatihan keterampilan. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk bekerja, berkarya, dan membuktikan kemampuan di tengah masyarakat.

Upaya inilah yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis Pelayanan dan Pemberdayaan Disabilitas (UPT PPDD) Provinsi Riau di bawah naungan Dinas Sosial (Dinsos) Riau. Melalui pendampingan dan pemberdayaan, UPT PPDD membantu anak binaan mengembangkan kemampuan hingga memperoleh kesempatan bekerja, salah satunya di Ruang Setara, kafe inklusif di Pekanbaru.

Kepala UPT PPDD Provinsi Riau, Anahartini Ropaniputri, mengatakan pembinaan yang dilakukan pihaknya tidak sebatas memberikan rehabilitasi sosial dan memenuhi kebutuhan dasar.

Lebih dari itu, penyandang disabilitas dibekali keterampilan agar memiliki kemampuan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan menjalani kehidupan secara mandiri setelah menyelesaikan masa pembinaan.

"Setelah mereka bisa bekerja, kita lepas dari panti dan kita pulangkan kepada orang tuanya," ujar Anahartini.

Salah satu penyandang disabilitas yang telah melewati proses tersebut adalah Cici Petri Yenti, 24 tahun.

Setelah menyelesaikan masa pembinaan sekitar satu bulan lalu, ia kini bekerja di Ruang Setara sebagai pembantu di dapur. Kesempatan itu menjadi langkah baru bagi Cici untuk menerapkan keterampilan yang dimiliki sekaligus menata kehidupan di luar panti.

Menurut Anahartini, Cici dipulangkan kepada orang tuanya setelah mendapatkan pekerjaan. Bagi UPT PPDD, keberhasilan anak binaan memasuki dunia kerja menjadi salah satu tujuan penting dari proses rehabilitasi dan pemberdayaan yang selama ini dijalankan.

Keterampilan sebagai Bekal Kemandirian

Berdasarkan data DPRD Riau, sampai akhir tahun 2025, jumlah penyandang disabilitas di Provinsi Riau tercatat sebanyak 6.756 jiwa. Angka tersebut mencakup berbagai kategori disabilitas, mulai dari disabilitas fisik, intelektual, mental, hingga sensorik.
Walau begitu, Anahartini menyampaikan UPT PPDD Riau baru memiliki daya tampung sekitar 40 orang, menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia.

Selama menjalani pembinaan, para penyandang disabilitas memperoleh pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari makanan tiga kali sehari, pakaian, hingga tempat tinggal. Mereka juga mengikuti pelatihan keterampilan sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah keluar dari panti.

Pada 2026, UPT PPDD menyediakan empat kelas keterampilan, yakni menjahit, pangkas rambut atau barber, salon, dan komputer. Program ini dirancang agar peserta tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk memasuki dunia kerja maupun merintis usaha sendiri.

Dari sekitar 39 orang yang menjalani pembinaan sejak Januari hingga September 2026, beberapa di antaranya telah menyelesaikan masa rehabilitasi atau terminasi dan mulai bekerja.

Meski demikian, tantangan pemberdayaan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Keterampilan yang diperoleh perlu dihubungkan dengan kebutuhan dunia usaha, sementara penyandang disabilitas juga membutuhkan lingkungan kerja yang memberi ruang untuk berkembang.

Di sinilah kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi penting. Sebab, kemampuan yang telah diasah selama pembinaan akan sulit berkembang apabila tidak diikuti kesempatan untuk mempraktikkannya secara nyata.

Ruang Setara, Jembatan Menuju Dunia Kerja

Salah satu upaya menghubungkan pelatihan dengan kesempatan kerja diwujudkan melalui kehadiran Ruang Setara. Kafe inklusif di Pekanbaru tersebut menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya, memperoleh pengalaman kerja, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Kehadiran Ruang Setara tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Anahartini menjelaskan, proses menuju berdirinya kafe tersebut telah dimulai sejak 2025 melalui pelatihan barista yang didukung PHR dan dilaksanakan di UPT PPDD.

Setelah pelatihan, proses berlanjut ke tahap rekrutmen pada akhir Desember 2025, kemudian pencarian lokasi usaha pada 2026.

Rangkaian proses itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan membutuhkan tahapan yang berkesinambungan. Pelatihan menjadi pintu awal, rekrutmen membuka kesempatan, sedangkan lingkungan kerja menjadi tempat bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Bagi UPT PPDD, Ruang Setara menjadi salah satu contoh bahwa program pembinaan perlu terhubung dengan peluang kerja yang konkret. Dengan demikian, penyandang disabilitas tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga memiliki jalan untuk memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami tetap mendukung. Harapannya, mereka tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk bekerja dan mandiri," kata Anahartini.

Perluas Ruang Inklusi

Upaya memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas juga direncanakan melalui program Dinas Sosial Provinsi Riau. UPT PPDD berencana menghadirkan ruang inklusi di lingkungan kantor Dinas Sosial di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru.

Area tersebut direncanakan menjadi tempat untuk membuka stan Ruang Setara, memasarkan produk hasil karya penyandang disabilitas, sekaligus menyediakan layanan pangkas rambut.
Kegiatan itu direncanakan berlangsung pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, dengan menyesuaikan kondisi serta kesiapan pelaksanaannya.

Selain membuka peluang usaha, ruang tersebut diharapkan menjadi tempat berkumpul bagi penyandang disabilitas untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam mengembangkan potensi masing-masing.

Langkah ini sekaligus memperluas makna pemberdayaan. Penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan tempat untuk belajar, tetapi juga ruang untuk menunjukkan hasil karya, menawarkan jasa, membangun relasi, dan menjadi bagian aktif dari kehidupan masyarakat.

Melalui pembinaan, pelatihan keterampilan, serta kolaborasi dengan dunia usaha, UPT PPDD berupaya mempertemukan potensi penyandang disabilitas dengan kesempatan yang selama ini perlu terus diperluas.

Sebab, ukuran keberhasilan pembinaan bukan semata-mata berapa banyak keterampilan yang diajarkan, melainkan sejauh mana keterampilan itu dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

PHR Buka Kesempatan Kerja dan Kemandirian Ekonomi Disabilitas

Ruang Setara merupakan bagian dari Program Pemko Pesmina (Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina). Program ini dirancang untuk mendorong pemberdayaan yang berkelanjutan, tidak hanya melalui pelatihan keterampilan, tetapi juga dengan membuka akses terhadap pekerjaan dan pengembangan usaha produktif.

Melalui program tersebut, sebanyak 195 penyandang disabilitas memperoleh pelatihan dan kesempatan mengembangkan berbagai bidang usaha. Keterampilan yang diberikan meliputi barista, usaha kuliner, layanan laundry sepatu, hingga terapis pijat tunanetra.

Upaya tersebut menjadi langkah untuk menjembatani keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas dengan peluang ekonomi yang dapat mereka jalankan. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan membangun kemandirian.

Program ini juga diarahkan untuk membentuk ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi, mulai dari pelatihan, pengelolaan usaha, hingga pembentukan koperasi disabilitas. Melalui pendekatan tersebut, penyandang disabilitas diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan mandiri.

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengatakan Ruang Setara merupakan upaya mengubah paradigma pemberdayaan penyandang disabilitas.

Menurutnya, inklusi tidak cukup diwujudkan melalui akses terhadap fasilitas, tetapi harus disertai kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mengembangkan potensi diri.

"Melalui Ruang Setara, kami ingin memastikan bahwa inklusi tidak hanya berhenti pada akses, tetapi berlanjut pada kesempatan nyata untuk bekerja, berinteraksi, dan mandiri. Penyandang disabilitas bukan objek program, melainkan subjek yang berdaya dan berkontribusi," ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman berinteraksi menggunakan bahasa isyarat dalam aktivitas sehari-hari menjadi bagian penting untuk membangun empati masyarakat. Interaksi langsung diharapkan dapat mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas, dari yang semula berfokus pada keterbatasan menjadi pengakuan terhadap kemampuan dan potensi mereka.

"Inklusi perlu dirasakan, bukan hanya dibicarakan. Karena itu, kami mendorong interaksi langsung agar masyarakat melihat kemampuan, bukan keterbatasannya," tambahnya.

Inisiatif yang dilakukan PHR tersebut mendapat apresiasi langsung dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau, Zulfadli. Ia menilai langkah PHR menjadi bentuk implementasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2025 yang mendorong perusahaan dan instansi memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Hulu Rokan yang telah mengimplementasikan amanat Perda Nomor 9 Tahun 2025. Melalui Kafe Ruang Setara, PHR telah melangkah lebih maju dalam membuka kesempatan kerja bagi teman-teman disabilitas. Ini menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha dapat berperan aktif menciptakan lingkungan kerja yang inklusif," katanya.

Di balik hadirnya ruang kerja tersebut, tersimpan harapan dari para pekerja yang mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Sebagai informasi, program Pemko Pesmina sendiri melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, SKK Migas, sekolah luar biasa (SLB), komunitas, hingga koperasi disabilitas. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat keberlanjutan program sekaligus memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam dunia kerja dan usaha.

Kehadiran Ruang Setara menjadi pengingat bahwa pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Dibutuhkan kesempatan, kepercayaan, dan lingkungan yang mendukung agar setiap orang dapat mengembangkan potensinya.

Melalui ruang ini, PHR mendorong tumbuhnya lingkungan kerja yang lebih inklusif, tempat penyandang disabilitas dapat berkarya berdasarkan kemampuan, memperoleh kesempatan yang setara, dan membangun masa depan secara mandiri.*

Terbaru
Artikel Popular
politik
RBN Riau Disambut Antusias, 1.169 Siswa...
Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:27:56 WIB
hukum
Nasional
2.458 Penerbangan Terdampak Asap...
Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:42:55 WIB