Okt 2026
28

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Dari Bangku Biologi ke Lantai Bor: Langkah Pertama Wirandi di Dunia Migas
bengkalis | Senin, 26 Oktober 2026 | 06:40:37 WIB
Editor : Bambang | Penulis : Bambang
Ramadhan Wirandi, lulusan Pendidikan Biologi asal Minas, Kabupaten Siak, kini meniti karier sebagai floorman di industri migas melalui Program Vokasi kolaborasi PT PHR dan PTPDSI.

Berbekal gelar sarjana Pendidikan Biologi, pemuda asal Minas, Riau, ini membangun jalan karier yang berbeda dari latar belakang pendidikannya. Melalui program vokasi kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), Wirandi belajar dari ruang pelatihan hingga terlibat langsung dalam operasi pengeboran, membuktikan bahwa kompetensi dibangun melalui kesempatan, kedisiplinan, dan proses yang berkelanjutan.

DURI, RIAU - Asap menyelimuti Area DSF 4E-0605C, Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Selasa, 29 September 2026. Udara terasa berat. Jarak pandang berkurang akibat asap kebakaran hutan dan lahan, sementara masker menjadi perlengkapan yang tak boleh dilepas selama berada di lokasi.

Di Rig PDSI #35.1/PD350/E, aktivitas pengeboran tetap berlangsung. Pipa-pipa ditangani dengan cermat. Setiap pekerjaan di lantai bor dilakukan sesuai tahapan dan prosedur keselamatan, di bawah koordinasi serta pengawasan petugas yang bertanggung jawab.

Baca :

Di antara para pekerja itu, seorang pemuda menjalankan tugas sebagai floorman. Ia adalah Ramadhan Wirandi, anak muda berusia 24 tahun yang tengah membangun karier di industri minyak dan gas bumi (migas).

Bagi Wirandi, lantai bor bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah pengetahuan yang diperolehnya melalui pelatihan diuji dalam situasi nyata. Ia harus memahami fungsi peralatan, mengikuti urutan pekerjaan, berkoordinasi dengan kru lain, dan memastikan setiap tugas dijalankan sesuai prosedur keselamatan.

Pekerjaan tersebut jauh dari bidang yang dipelajarinya di bangku kuliah.

Wirandi merupakan lulusan S-1 Pendidikan Biologi Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, dengan indeks prestasi kumulatif 3,56. Ia menyelesaikan pendidikannya pada 2024. Namun, alih-alih meniti karier di bidang pendidikan, ia memilih mencoba jalur berbeda: menjadi bagian dari industri pengeboran migas.

“Sebagai anak Riau, saya memang sangat menginginkan bekerja di migas, terutama di rig,” katanya kepada wartawan dilokasi pengeboran Rig 35.1 Duri, Riau, (29/9/2026)

Keinginan itu tumbuh dari harapan untuk membangun masa depan sekaligus memperoleh kesempatan berkontribusi di industri yang memiliki peran penting bagi daerahnya.

Perjalanan Wirandi menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan tidak selalu menentukan satu-satunya jalan karier seseorang. Namun, berpindah bidang juga bukan perkara mudah. Ada pengetahuan baru yang harus dikuasai, kebiasaan kerja yang perlu dibangun, serta kompetensi yang mesti dibuktikan sebelum tanggung jawab lebih besar dapat diemban.

Bagi Wirandi, langkah pertama menuju dunia pengeboran bermula dari sebuah informasi yang sampai ke lingkungan tempat tinggalnya.

Kesempatan yang Datang hingga ke Lingkungan Rumah

Wirandi berasal dari Kilometer 26 RT 01/RW 02 Meranti, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Ia mengetahui Program Penguatan Ekosistem Vokasi Riau bidang drilling melalui sosialisasi yang menjangkau masyarakat hingga tingkat RT. Informasi itu kemudian menyebar melalui grup WhatsApp warga.

Ia melihatnya sebagai kesempatan yang tidak ingin dilewatkan.

Persyaratan administrasi dipenuhinya. Setelah itu, ia mengikuti tahapan seleksi berupa psikotes, wawancara, dan pemeriksaan kesehatan. Dari sekitar 50 calon peserta yang mengikuti wawancara untuk posisi floorman, sebanyak 24 orang terpilih. Wirandi menjadi salah satunya.

Program vokasi migas 2025 tersebut diikuti 60 pemuda dari 23 desa dan kelurahan di enam kabupaten/kota di Riau. Peserta dibagi ke dalam tiga bidang pelatihan: 24 orang untuk roustabout, 12 orang untuk motorist, dan 24 orang untuk floorman.

Pada 23 Agustus 2025, mereka diberangkatkan dari Pekanbaru menuju Indramayu, Jawa Barat, untuk menjalani pelatihan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC), pusat pelatihan yang dikembangkan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).

Keberangkatan itu menjadi awal pengalaman baru bagi Wirandi. Sebelumnya, ia terbiasa dengan kegiatan organisasi selama kuliah dan pernah bekerja sebagai enumerator lapangan. Pengalaman tersebut membentuk kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, serta kebiasaannya berinteraksi dengan banyak orang.

Namun, pekerjaan pengeboran menuntut keahlian yang berbeda. Di rig, ketelitian bukan sekadar urusan menyelesaikan tugas. Setiap pekerjaan berkaitan dengan peralatan, urutan operasional, koordinasi tim, dan risiko keselamatan.

Ia harus kembali belajar dari dasar.

Tiga Bulan Mempelajari Dunia Pengeboran

Selama tiga bulan di IDTC, Wirandi mempelajari pekerjaan floorman melalui pembelajaran teori, praktik, dan simulasi.

Materinya mencakup rig move-up dan move-down, sistem hoisting dan rotating, sistem tenaga, sistem sirkulasi, serta blowout preventer (BOP). Ia juga mempelajari handling tools, casing, tubular goods, basic well control, well completion, dan berbagai tahapan operasi penanganan pipa.

Salah satu materi penting adalah tripping operation, yaitu proses memasukkan rangkaian pipa ke dalam sumur (running in hole atau RIH) dan mengeluarkannya dari sumur (pulling out of hole atau POOH).

Bagi orang yang baru mengenal pengeboran, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar teknis. Namun, bagi calon floorman, pemahaman terhadap peralatan dan tahapan pekerjaan menjadi bekal untuk menjalankan tugas secara benar.

“Selama tiga bulan kami belajar tentang program floorman, apa saja yang dikerjakan di rig. Banyak yang diajarkan, mulai dari teori, keselamatan, sampai barang-barang yang ada di rig,” tutur Wirandi.

Keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam pelatihan. Peserta dibiasakan mengikuti toolbox meeting, memahami Job Safety Analysis (JSA), menggunakan alat pelindung diri, menjalani safety induction, dan mengenal HSE Golden Rules serta Permit to Work (PTW).

Mereka juga memperoleh pembekalan sertifikasi sesuai bidangnya. Wirandi kemudian memiliki sertifikasi Operator Lantai Bor dari LSP Pertamina, Rigger/Lifting and Rigging dari PPSDM Migas Cepu, serta Basic HSSE.

Pelatihan tersebut memberinya dasar untuk mengenali pekerjaan dan risiko di lingkungan pengeboran. Namun, teori dan simulasi belum sepenuhnya menggambarkan bagaimana pekerjaan berlangsung dalam operasi sesungguhnya.

Perbedaan itu mulai terasa ketika ia masuk ke lingkungan rig.

“Pertama kali masuk rig saya masih meraba-raba. Ini apa, itu apa. Saya tahu barangnya, tetapi sistem kerjanya belum tahu,” katanya.

Ia belajar secara bertahap melalui pendampingan mentor, Ali Akbar, serta arahan mandor dan pengawas. Proses itu membantunya memahami bahwa setiap peralatan memiliki fungsi dan setiap tahapan operasi saling berkaitan.

“Apapun yang saya kerjakan pasti dimentori dan diawasi,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, pemahamannya tentang proses pengeboran semakin berkembang. Ia mulai mengenali rangkaian pekerjaan, dari proses pengeboran, pencabutan dan pemasukan kembali pipa, pemasangan casing, hingga tahapan pengujian sumur.

“Saya jadi tahu bagaimana minyak itu bisa keluar dari dalam perut bumi. Apa saja proses yang dilaksanakan dalam proses pengeboran, dari pengeboran, cabut, masuk lagi, casing, sampai keluar minyak dan kemudian test pumping,” katanya.

Pemahaman itu juga membawanya melihat pekerjaan di lantai bor dengan kesadaran yang lebih besar terhadap risiko.

“Semua pekerjaan di sini sangat berisiko karena pekerjaan yang dilakukan termasuk critical job,” ujarnya.

Bagi Wirandi, menjadi floorman bukan pekerjaan yang dapat dijalankan hanya dengan mengandalkan tenaga fisik. Setiap pekerja perlu memahami kompetensi sesuai jabatan, mengikuti prosedur, dan terus meningkatkan kemampuan.

“Floorman itu tidak sembarang orang bisa bekerja di lantai bor. Setiap jabatan memiliki kompetensinya masing-masing,” katanya.

Mengubah Pengetahuan Menjadi Keterampilan

Perjalanan dari ruang pelatihan menuju operasi lapangan menuntut Wirandi menerapkan apa yang telah dipelajarinya.

Dalam pekerjaannya sebagai floorman, ia mendukung aktivitas penanganan pipa atau pipe handling, termasuk membantu proses tripping. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup pengangkatan, penyusunan, dan penempatan pipa sesuai prosedur operasional.

Ia juga mendukung pekerjaan yang berkaitan dengan sistem hoisting dan rotary. Sistem hoisting, antara lain, menggunakan peralatan seperti drawworks dan traveling block untuk mendukung pergerakan beban dalam operasi pengeboran. Sementara itu, sistem rotary berperan dalam proses pengeboran sesuai konfigurasi peralatan yang digunakan.

Pekerjaan tersebut membutuhkan koordinasi dengan kru lain. Pergerakan pipa dan penanganan peralatan harus mengikuti urutan kerja agar kegiatan dapat berlangsung dengan aman dan teratur.

Selain mendukung operasi, Wirandi melakukan pemeriksaan awal terhadap peralatan lantai bor menggunakan checklist operasional. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan kesiapan peralatan sebelum digunakan. Ia juga melakukan pemeliharaan ringan dan pembersihan peralatan sesuai tugas serta kewenangannya.

Dalam profil pengalaman kerjanya, Wirandi mencatat keterlibatan dalam aktivitas pipe handling dan tripping sebanyak lima hingga tujuh siklus per sif. Angka tersebut menggambarkan ritme pekerjaan yang dijalaninya, tetapi tetap perlu dipahami sesuai jenis operasi dan definisi siklus yang digunakan di lapangan.

Di lingkungan kerja berisiko tinggi, keterampilan teknis berjalan beriringan dengan kedisiplinan terhadap keselamatan.

Wirandi mengikuti toolbox meeting untuk membahas pekerjaan yang akan dilakukan, potensi bahaya, dan langkah pengendaliannya. Ia juga menerapkan penggunaan alat pelindung diri serta prosedur keselamatan yang berlaku, termasuk JSA dan PTW sesuai kebutuhan pekerjaan.

Bekal pelatihan well control dan pemahaman mengenai BOP membantunya mengenali pentingnya pengendalian tekanan sumur. Namun, pekerjaan yang berkaitan dengan pengendalian sumur tetap membutuhkan kompetensi, kewenangan, dan prosedur khusus; pemahaman dasar tidak menggantikan tanggung jawab personel yang berwenang.

Bagi seorang pekerja yang masih membangun pengalaman, mengetahui batas kemampuan sama pentingnya dengan menguasai keterampilan baru.

Di sinilah proses belajar berlanjut. Sertifikat menjadi bukti bahwa pelatihan telah ditempuh, tetapi penerapan pengetahuan dalam pekerjaan sehari-hari membutuhkan ketelitian, pengawasan, dan pengalaman yang terus bertambah.

Dari Lantai Bor, Menatap Masa Depan

Perjalanan Wirandi merupakan bagian dari Program Penguatan Ekosistem Vokasi Riau bidang drilling, hasil kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan PDSI.

Program ini dirancang untuk mempertemukan kebutuhan tenaga terampil industri dengan potensi sumber daya manusia lokal. Pelatihan, sertifikasi, dan magang menjadi tahapan untuk mengenalkan peserta kepada dunia kerja serta membantu mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan.

Kristanto Wibowo, Asisten Manager Drilling Operation HO 2/Sr. Coordinator Rig Drilling LO North PHR, mengatakan sejumlah pekerja yang kini berada di rig PDSI merupakan lulusan program vokasi hasil kolaborasi tersebut.

“Dari informasi yang kami dapat, ternyata ada beberapa karyawan yang berasal dari program vokasi hasil kolaborasi PHR dengan PDSI. Kami juga sudah beberapa kali berdiskusi dengan teman-teman CSR untuk membahas bagaimana program ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Menurut Kristanto, komunikasi yang baik antara tim operasional dan bagian tanggung jawab sosial perusahaan dapat membantu menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja dengan persiapan calon pekerja.

“Dengan komunikasi yang baik, kita bisa lebih memahami bagaimana mempersiapkan calon-calon tenaga kerja ke depan,” katanya.

Dari sisi pengembangan masyarakat, SR. Officer Corporate & Institutional Development (CID) PHR, R. Muhammad Wildan, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut diawali dengan asesmen pada 2025 untuk memetakan kompetensi yang dibutuhkan industri.

“Dengan MoU antara PT PHR dan PDSI ini, kami berharap kebutuhan pekerja dari dunia migas, khususnya tenaga terampil, dapat terpenuhi,” ujarnya.

Masyarakat yang belum bekerja menjadi sasaran program. Warga ring 1, yakni masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasi, termasuk kelompok prioritas. Meski demikian, kesempatan juga dibuka bagi masyarakat yang lebih luas. Sekitar 30 persen peserta program berasal dari ring 1.

Setelah mengikuti pelatihan selama tiga bulan, peserta melanjutkan ke tahap magang di lingkungan PDSI selama sekitar empat bulan. Tahap tersebut menjadi pengenalan terhadap budaya kerja industri sebelum peserta menghadapi tuntutan pekerjaan secara langsung.

Peluang kerja kemudian terbuka, antara lain melalui proyek IDESS (Integrated Drilling, Engineering, Supervisory and Service), kerja sama terintegrasi jangka panjang antara PHR dan PDSI yang dimulai pada awal 2024. Proyek tersebut melibatkan empat rig PDSI dan menjadi salah satu ruang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan pengeboran di wilayah kerja PHR.

Menurut Wildan, dari 60 peserta program vokasi migas 2025, sebanyak 51 orang telah bekerja.

“Dari 60 orang itu, 51 orang sudah bekerja,” ujarnya.

Capaian tersebut menunjukkan perkembangan para peserta, meskipun penyerapan tenaga kerja tetap dipengaruhi kebutuhan industri, kesesuaian kompetensi, dan kesempatan yang tersedia.

Program vokasi juga tidak selalu berfokus pada satu bidang. Pada 2026, PHR mengarahkan pelatihan ke sektor nonmigas, salah satunya perbaikan dan pemeliharaan pendingin udara atau air conditioner (AC). Perusahaan merencanakan kembali pengembangan pelatihan sektor migas pada 2027.

“Untuk tahun 2026 ini kami fokus ke nonmigas, yakni perbaikan AC. Tahun 2027 kami akan kembali ke migas,” kata Wildan.

Penyesuaian tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan di bidang lain. Namun, bagi peserta seperti Wirandi yang telah mengikuti pelatihan drilling dan memperoleh pengalaman di rig, proses pengembangan kompetensi tetap berlanjut melalui pekerjaan sehari-hari.

Mimpi yang Belum Selesai

Di balik pilihannya menekuni dunia pengeboran, ada perjalanan keluarga yang turut membentuk harapan Wirandi.

Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya dahulu bekerja sebagai sopir oplet dan kini sudah tidak bekerja, sedangkan ibunya berjualan sarapan untuk membantu perekonomian keluarga.

Selama menempuh pendidikan tinggi, Wirandi memperoleh beasiswa BAZNAS Provinsi Riau melalui program tahfidz. Ia juga menerima Beasiswa Umum Berprestasi untuk Anak Siak (BETUNAS) dari Pemerintah Kabupaten Siak pada 2022, 2023, dan 2024.

Pendidikan sarjana yang diselesaikannya dengan IPK 3,56 menjadi salah satu bekal dalam perjalanan hidupnya. Namun, gelar itu tidak secara otomatis membawanya ke pekerjaan yang diinginkan.

Ia harus berani memasuki bidang baru dan menjalani proses belajar kembali.

Bagi Wirandi, kesempatan mengikuti program vokasi merupakan jalan untuk mendekati cita-citanya bekerja di industri migas, khususnya di sekitar wilayah tempat ia tinggal.

“Sebagai anak Riau, saya sangat ingin bekerja di industri migas, terutama di wilayah ring 1 tempat kami tinggal. Saya melihat profesi di sektor migas memiliki kebanggaan tersendiri dan mendapat penghargaan dari masyarakat di daerah kami,” ujarnya.

Ia menilai program vokasi memberikan manfaat bagi masyarakat lokal karena membuka akses untuk mengenal dunia kerja migas sekaligus memperoleh pembekalan keterampilan.

“Program ini sangat membantu kami sebagai warga lokal, khususnya masyarakat yang berada di ring 1, untuk mendapatkan kesempatan bergabung dan bekerja di industri migas,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PHR dan PDSI atas kesempatan mengikuti pelatihan di Indramayu.

“Saya berterima kasih kepada PHR dan PDSI yang telah mendidik kami selama tiga bulan di Indramayu. Kami mendapatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pekerjaan floorman serta berbagai pekerjaan yang dilakukan di lapangan migas. Ini menjadi bekal berharga bagi kami untuk bisa bekerja di industri migas,” tuturnya.

Kini, pengalaman di lantai bor memberinya kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang dahulu dipelajari melalui teori dan simulasi. Ia telah memperoleh sertifikasi yang relevan dengan pekerjaannya, mengenal peralatan pengeboran, dan menjalani aktivitas operasional dengan mengikuti prosedur keselamatan.

Namun, Wirandi memahami bahwa perjalanan karier tidak berhenti pada posisi yang sedang dijalaninya. Masih ada pengetahuan yang perlu diperdalam dan pengalaman yang harus dikumpulkan sebelum ia dapat mengemban tanggung jawab lebih besar.

“Kalau ada kesempatan dan ilmu saya sudah lebih banyak, saya ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” katanya.

Ia berharap pengalamannya dapat mendorong masyarakat di daerah asalnya untuk meningkatkan keterampilan dan berani mengambil kesempatan.

“Harapan saya, masyarakat di daerah saya semakin terpacu untuk meningkatkan skill,” ujarnya.

Kepada calon peserta berikutnya, ia juga ingin menyampaikan bahwa program vokasi yang diikutinya tidak memungut biaya dari peserta.

“Tidak ada pungutan apa pun untuk masuk program vokasi ini. PHR membantu saya, PDSI mendidik saya selama tiga bulan di Indramayu,” katanya.

Bagi Wirandi, perjalanan dari bangku kuliah menuju lantai bor bukanlah perpindahan yang terjadi dalam semalam. Ada pendidikan yang telah ditempuh, kesempatan yang harus diperjuangkan, pelatihan yang perlu diselesaikan, serta pengalaman yang terus dibangun di lapangan.

Gelar Pendidikan Biologi tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, kini ia juga mengembangkan keterampilan baru di bidang pengeboran, belajar memahami peralatan, mengikuti prosedur keselamatan, dan bekerja bersama kru yang lebih berpengalaman.

Ia belum menganggap dirinya selesai belajar. Justru, setiap sif memberinya kesempatan untuk menambah pemahaman dan memperkuat kompetensi.

Dari Minas, ia membawa harapan untuk membangun masa depan. Dari ruang pelatihan di Indramayu, ia memperoleh bekal. Dan di lantai bor Duri, ia mulai membuktikan bahwa langkah menuju industri migas membutuhkan lebih dari sekadar keinginan.

Mimpi itu harus diikuti kesiapan untuk belajar, disiplin dalam bekerja, dan keberanian menjalani proses dari awal.

Bagi Ramadhan Wirandi, langkah pertama tersebut sudah dimulai. Perjalanan berikutnya masih terbentang, bersama pengalaman yang terus bertambah dan cita-cita yang belum selesai diperjuangkan. (*)

Terbaru
Artikel Popular
politik
RBN Riau Disambut Antusias, 1.169 Siswa...
Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:27:56 WIB
hukum
Nasional
2.458 Penerbangan Terdampak Asap...
Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:42:55 WIB