Senin | 16 Desember 2019
Mahasiswa IBT Pelita Indonesia Kunjungi Tempat Ibadah Buddhis
Para mahasiswa Institut Bisnis dan Teknologi (IBT) Pelita Indonesia yang.


Senin | 16 Desember 2019
PSMTI Riau Sukseskan Parade Bhinneka Tunggal Ika
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau memprakarsai acara Parade.


Minggu | 08 Desember 2019
Masjid Cheng Ho Rohil akan Datangkan 5.000 Pengunjung Setiap Bulan
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) meyakini objek wisata religi masjid.

Rubrik : dunia
Serangan Udara Rusia Tewaskan 7 Warga Sipil di Suriah
Editor : wisly | Penulis: detik.com
Senin , 11 November 2019
ilustrasi pesawat tempur

IDLIB - Serangan udara yang dilancarkan Rusia menewaskan 7 warga sipil di wilayah barat laut Suriah. 3 orang anak ikut jadi korban dalam serangan yang ditujukan ke benteng pertahan kelompok pemberontak di Idlib.

Dilansir dari AFP, Senin (11/11/2019), Kepala Observasi Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Rami Abdel Rahman, mengatakan serangan itu terjadi pada Minggu (10/11) waktu setempat.

Serangan itu juga membuat warga lainnya terluka. Rahman menjelaskan 8 orang lainnya cedera dan beberapa dari mereka dalam kondisi kritis.

Serangan udara Rusia ini merupakan yang ketiga kali dalam 8 hari terakhir. Serangan itu menghantam desa Kafr Ruma di daerah Idlib yang dikuasi kelompok anti-pemerintah Suriah.

Wilayah Idlib kini menjadi rumah bagi sekitar tiga juta orang dan banyak yang terlantar akibat konflik selama 8 tahun di negara itu.

Pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad melancarkan seragan militer ke Idlib sejak April lalu. Selama serangan tersebut sekitar 1.000 warga sipil tewas dan lebih dari 400.000 orang mengungsi.

Gencatan senjata yang diumumkan oleh Rusia sudah dimulai sejak akhir Agustus. Meski begitu puluhan warga sipil tercatat tewas dalam serangan bom sporadis sejak gencatan senjata.

Bulan lalu Assad mengatakan Idlib sebagai tempat mengakhiri jalannya perang saudara yang telah menghancurkan negara itu selama hampir dekade ini.

Perang Suriah telah menewaskan 370.000 orang dan membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal sejak awal 2011. Tragedi itu dimulai dengan protes anti-Assad yang dibalas dengan serangan militer oleh pemerintah.*

 




Berita Lainnya