Minggu | 08 Desember 2019
Masjid Cheng Ho Rohil akan Datangkan 5.000 Pengunjung Setiap Bulan
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) meyakini objek wisata religi masjid.


Minggu | 08 Desember 2019
PSMTI Dapat Membantu Pembangunan dan Mensejahterakan Masyarakat Riau
Warga Tionghoa sangat berperan dalam perkembangan ekonomi di Provinsi Riau..


Kamis | 05 Desember 2019
PSMTI Riau Audiensi Dengan Wagubri
Menjelang pengukuhan dewan dan pelantikan pengurus Paguyuban Sosial Marga.

Rubrik : etalase
Seminar Merawat Pembauran Kebangsaan Hadirkan Tiga Pembicara
Editor : Wisly | Penulis: sp
Senin , 11 November 2019
Ketua Dewan Pembina FPK Provinsi Riau, Al Azhar Memukul gong tanda dibukanya seminar Merawat Pembauran Kebangsaan yang diadakan di Hotel Furaya, Senin (11/11/2019).

PEKANBARU-Forum Pembauran Kebangsaan (FPK)  Provinsi Riau menggelar seminar Merawat Pembauran Kebangsaan. Seminar yang diikuti ratusan peserta yang berasal dari FPK provinsi Riau dan FPK Kabupaten/Kota se Riau ini diadakan di Hotel Furaya Pekambaru. (11/11/2019).

Kegiatan yang dibuka Ketua Dewan Penasehat FPK Riau,  Al Azhar dan ditutup Sekretaris Dewan Panrsehat ini,  menghadirkan tiga orang nara sumber.  Masing-masing Kaban Kesbangpol Provinsi Riau,  Drs. H.  Chairul Riski,  MS, MP yang berbicara Kebijakan Kesbangpol Provinsi Riau tentang pentingnya pembauran kebangsaan.

Pembicara berikutnya adalah. Ir H Fakhrunnas MA Jabbar,  M. I. Kom yang berbicara tentang kepedulian dan kearifan Media Sosial dalam menjaga keutuhan bangsa. Pembicara terakhir adalah Dr. Santoso,  SS. M,Si yang memaparkan tentang Peran FPK sebagai perekat NKRI.

Khairul Riski memaparkan, Sesuai Permendagri No 34 2016 bahwa FPK dibentuk di Provinsi,  Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan.

"Tugas FPK adalah,  menjaring aspirasi masyarakat di bidang pembauran kebagsaan. Menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan organisasi pembauran,  pemuka adat,  suku dan masyarakat,  Menyelenggarakan sosialisasi yang berkaitan dgn pembauran kebangsaan. Serta merumuskan rekomendasi kepada kepala daerah dalam penyusunan kebijakan pembauran," katanya. 

Sementara Fakhrunnas membicarakan, kepedulian dan kearifan bermedia sosial. Menurutnya nilai-nilai sosial budaya telah mengajarkan cara bersikap santun dan penuh etika dalam bekomumikasi.  Karena itu warga dapat lebih bijak bermedia sosial. 

"Bermedia sosial terutama sebelum membagikan informasi harus dibaca berulang-ulang dan memperkirakan dampaknya bagi pihak lain , "katanya.

Fakhrunnas  juga menyentil sejumlah netizen yang menshare di medsos tak sesuai dengan jati dirinya. "Jika kita beragama A janganlah menshare tentang agama lain. Begitu juga dari suku A janganlah menshare sesuatu persoalan tentang suku B. Karena itu akan bepotensi melahirkan konflik, "katanya. 

Santoso memaparkan, keberaganan di Indonesia berpotensi melahirkan konflik.  Namun sejarah membuktikan bahwa keragaman kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi dan bisa berjalan secara paralel. (sp) 

 

 

"

 




Berita Lainnya