25 Zulqaidah 1441 H / Kamis, 16 Juli 2020
Seminar Merawat Pembauran Kebangsaan Hadirkan Tiga Pembicara
etalase | Senin, 11 November 2019
Editor : Wisly | Penulis : sp
Ketua Dewan Pembina FPK Provinsi Riau, Al Azhar Memukul gong tanda dibukanya seminar Merawat Pembauran Kebangsaan yang diadakan di Hotel Furaya, Senin (11/11/2019).

PEKANBARU-Forum Pembauran Kebangsaan (FPK)  Provinsi Riau menggelar seminar Merawat Pembauran Kebangsaan. Seminar yang diikuti ratusan peserta yang berasal dari FPK provinsi Riau dan FPK Kabupaten/Kota se Riau ini diadakan di Hotel Furaya Pekambaru. (11/11/2019).

Kegiatan yang dibuka Ketua Dewan Penasehat FPK Riau,  Al Azhar dan ditutup Sekretaris Dewan Panrsehat ini,  menghadirkan tiga orang nara sumber.  Masing-masing Kaban Kesbangpol Provinsi Riau,  Drs. H.  Chairul Riski,  MS, MP yang berbicara Kebijakan Kesbangpol Provinsi Riau tentang pentingnya pembauran kebangsaan.

Pembicara berikutnya adalah. Ir H Fakhrunnas MA Jabbar,  M. I. Kom yang berbicara tentang kepedulian dan kearifan Media Sosial dalam menjaga keutuhan bangsa. Pembicara terakhir adalah Dr. Santoso,  SS. M,Si yang memaparkan tentang Peran FPK sebagai perekat NKRI.

Khairul Riski memaparkan, Sesuai Permendagri No 34 2016 bahwa FPK dibentuk di Provinsi,  Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan.

"Tugas FPK adalah,  menjaring aspirasi masyarakat di bidang pembauran kebagsaan. Menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan organisasi pembauran,  pemuka adat,  suku dan masyarakat,  Menyelenggarakan sosialisasi yang berkaitan dgn pembauran kebangsaan. Serta merumuskan rekomendasi kepada kepala daerah dalam penyusunan kebijakan pembauran," katanya. 

Sementara Fakhrunnas membicarakan, kepedulian dan kearifan bermedia sosial. Menurutnya nilai-nilai sosial budaya telah mengajarkan cara bersikap santun dan penuh etika dalam bekomumikasi.  Karena itu warga dapat lebih bijak bermedia sosial. 

"Bermedia sosial terutama sebelum membagikan informasi harus dibaca berulang-ulang dan memperkirakan dampaknya bagi pihak lain , "katanya.

Fakhrunnas  juga menyentil sejumlah netizen yang menshare di medsos tak sesuai dengan jati dirinya. "Jika kita beragama A janganlah menshare tentang agama lain. Begitu juga dari suku A janganlah menshare sesuatu persoalan tentang suku B. Karena itu akan bepotensi melahirkan konflik, "katanya. 

Santoso memaparkan, keberaganan di Indonesia berpotensi melahirkan konflik.  Namun sejarah membuktikan bahwa keragaman kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi dan bisa berjalan secara paralel. (sp) 

 

 

"

 




Artikel Terbaru
dunia, Rabu, 15 Juli 2020
Badan kesehatan masyarakat Uni Eropa sedang meninjau risiko yang.

rohul, Rabu, 15 Juli 2020
Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, kini Dinas.

dumai, Rabu, 15 Juli 2020
Pemerintah Kota (Pemko) Dumai siap membuka kembali kegiatan.

sportainment, Rabu, 15 Juli 2020
Premier League selaku operator kompetisi Liga Inggris resmi.

pekanbaru, Rabu, 15 Juli 2020
Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau menyampaikan.

rohil, Rabu, 15 Juli 2020
Jalan lintas Sinaboi-Dumai yang sebelumnya rusak parah saat ini sudah.

otomotif, Rabu, 15 Juli 2020
Penjualan mobil di Indonesia pada Juni 2020 tercatat mencapai 12.623.

inhu, Rabu, 15 Juli 2020
Sehari setelah dimulainya pembelajaran tatap muka di Inhu, muncul.

pelalawan, Rabu, 15 Juli 2020
PT Sari Lembah Subur (SLS) menggelar apel siaga pencegahan bahaya.

kampar, Rabu, 15 Juli 2020
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia.

Otomotif