19 Zulhijjah 1441 H / Minggu, 9 Agustus 2020
Jual Kulit dan Organ Harimau Sumatra
Lima Pemburu Satwa Dilindungi Ditangkap
hukum | Minggu, 8 Desember 2019
Editor : wisly | Penulis : Linda
ilustrasi

PEKANBARU - Lima orang pemburu dan penjual kulit serta  organ Harimau Sumatra atau (Panthera tigris sumatrae) ditangkap. Dari tangan pelaku disita empat janin dan kulit Harimau Sumatra.

Kelima pelaku ditangkap tim gabungan yang terdiri dari  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Tim Intel Polhut Pasopati dan Siber Patrol Ditjen Gakkum KLHK, Badan Intelijen dan Polri. Mereka diamankan di tempat terpisah, Sabtu (7/12).

Kepala Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan, Kehutanan wilayah Sumatra II, Eduward Hutapea, mengatakan, Kelima pelaku adalah Y dan istrinya E, S, TS dan SS. Para pelaku ditangkap dalam Operasi peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi. 

“Pengungkapan ini merupakan hasil penyelidikan mendalam terkait informasi perburuan Harimau Sumatra di wilayah Kabupaten Pelalawan,” ujar Kepala Balai Gakkum Wilayah Sumatra Eduward Hutapea, Minggu (8/12).

Informasi itu, kata pria yang akrab disapa Edo itu, kemudian ditindaklanjuti KLHK yang bersinergi dengan Polri melalui pengumpulan informasi dan pemetaan. Penangkapan pertama dilakukan terhadap Y, S dan E.

"Dari tangan ketiga pelaku diamankan barang barang bukti berupa empat ekor janin harimau. Janin itu   disimpan dalam toples plastik," kata Eduward.

Dari pengembangan, ketiga pelaku menyebutkan dua nama lain. Tim langsung melakukan pengejaran ke Jalan Lintas Timur Sumatra dan mengamankan dua orang lainnya berinisial TS dan SS. Dua pelaku langsung dibawa ke Pekanbaru.

Dari tangan TS dan SS, diamankan barang bukti  1 lembar kulit harimau dewasa. "Diamankan  di Kelurahan Pangkalan Lesung, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan," tambah Eduward.

Para pelaku sudah dibawa ke BBKSDA Riau untuk penyelidikan lebih lanjut. Dari hasil penyelidikan sementara, tiga pelaku mempunyai peran masing-masing. S berperan mencari pembeli atau perantara, TS sebagai pemberi dana operasional sekaligus menjual dan Y memiliki kulit harimau.

"Hasil pemeriksaan terhadap ketiga pelaku, perbuatan ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, sudah dijual. Mereka masih sebagai saksi," ucap Eduward.

Dari penemuan kulit harimau, diketahui kalau tulangnya sudah dijual ke daerah Kabupaten Solok, Sumatera Barat seharga Rp 17 juta. Kalau untuk kulit harimau masih pencarian.

Sementara janin yang ditemukan, tidak berasal dari kulit harimau yang diamankan. Menurut Eduward, empat janin itu berasal dari indukan lain. "Ada harimau lain yang diburu," kata Eduward.

Pengakuan pelaku, hewan dilindungi itu diburu dari daerah Pulau Muda, Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir. "Di Pelalawan dijual ke luar daerah hingga Sumbar," ungkap Eduward.

Satwa dilindungi itu diburu menggunakan aliran listrik yang dipasang ke genset. Saat ada satwa melintas, pelaku kabel listrik ke genset. "Kami masih menyelidiki, adanya satwa lain selain harimau yang diburu para pelaku," tutur Eduward.

Terpisah, Kepala Seksi Wilayah II Balai Gakkum Sumatra, KLHK, Alfian Hardiman,  menyampaikan akan menerapkan proses penegakan hukum sebagaimana mestinya dan  meningkatkan upaya pemantauan aktivitas perdagangan baik secara langsung maupun melalui siber patrol (perdagangan online) yang terkait dengan aktifitas para pelaku.

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh PPNS KLHK  terhadap pelaku diterapkan Pasal 40 Ayat 2 Jo Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Bersihkan Jerat 
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) melakukan operasi jerat di wilayah konservasi dan hutan sekitarnya. Langkah ini untuk menimalisir kematian satwa dilindungi.

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, mengatakan, operasi jerat sudah dilakukan sejak 25 November hingga 7 Desember 2019. Hasilnya, ditemukan 170 jerat yang dapat membahayakan satwa dilindungi.

"Operasi jerat ini bertujuan membersihkan jerat-jerat yang terpasang dalam kawasan hutan dan sekitarnya. Meminimalisir kematian satwa liar serta pencegahan perburuan," ujar Suharyono, di Pekanbaru, Minggu (8/12).

Suharyono menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, kematian satwa dilindungi meningkat cukup signifikan. Penyebab utamanya adalah adanya konflik dengan manusia serta 
perburuan satwa liar. 

Suharyono menyatakan, salah satu model perburuan satwa liar di Provinsi Riau adalah  pemasangan jerat dalam kawasan hutan sebagai habitat dari satwa liar. "Dalihnya untuk menjerat babi hutan tapi kebanyakan yang terjerat adalah satwa dilindungi," kata Suharyono.

Dalam beberapa tahun terakhir yang sering jadi korban jerat adalah  Gajah Sumatra  (Elephas maximus sumatranus),  Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus) dan jenis lainnya. Satwa itu dilindungi undang-undang.

'Selama 2018 hingga 2019, Gajah Sumatra yang terkena jerat 4 
ekor, Harimau Sumatera 3 ekor, Beruang 2 ekor dan Tapir 2 ekor. "Ini terjadi  dalam kantong  Giam Siak Kecil, Kerumutan dan Zamrud," jelas Suharyono.

Pembersihan jerat di kawasan hutan dilakukan BBKSDA bekerja sama dengan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan dan CIWT UNDP. Ada 8 tim yang tergabung dalam operasi tersebut yang mengamankan 170 jerat.

Tim operasi itu terdiri dari Tim  Lanskap Kerumutan Utara Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan yang mendapat 4 jerat,  Tim Lanskap Kerumutan Selatan Kecamatan Kuala Cinaku Kabupaten Inhu 7 jerat.

Tim  Lanskap Giam Siak Utara Kecamatan Talang Muandau Kabupaten Bengkalis menemukan 30 jerat,  Tim  Lanskap Giam Siak Selatan Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak 36 jerat, Tim  Lanskap Kerumutan Utara Kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan 21 jerat.

Selanjutnya,  Tim  Lanskap Kerumutan Selatan Kecamatan  Rengat Kabupaten Inhu membersihkan 8 jerat, Tim  Lanskap Bukit Batu Kecamayan Bukit Batu Kabuoaten Bengkalis 34 jerat dan Tim Lanskap Zamrud Kecamatan Dayun Kabupaten.

"Itu hasil sementara, ada 179 jerat. Kami akan terus melakukan pembersihan jerat untuk melindungi satwa-satwa yang dilindungi," tutur Suharyono.*




Artikel Terbaru
sportainment, Minggu, 9 Agustus 2020
Barcelona mengandaskan perlawanan Napoli 3-1 di leg kedua babak 16.

dunia, Minggu, 9 Agustus 2020
Sang miliarder Facebook, Mark Zuckerberg baru saja menjadi.

meranti, Sabtu, 8 Agustus 2020
Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Kepulauan Meranti melakukan.

pekanbaru, Sabtu, 8 Agustus 2020
Asosiasi Media Siber Indonesia {AMSI} Riau akan menggelar seminar.

sportainment, Sabtu, 8 Agustus 2020
Manchester City melangkah mantap ke babak perempatfinal Liga.

potret, Jumat, 7 Agustus 2020
Sejumlah karyawan melakukan aktivitas di Terminal Peti Kemas (TPK).

meranti, Jumat, 7 Agustus 2020
Sebanyak 93 tapal batas desa dari 96 desa yang ada di Kepulauan.

pekanbaru, Jumat, 7 Agustus 2020
Angka kasus terkonfirmasi Covid-19 kembali bertambah, dan kali ini.

dunia, Jumat, 7 Agustus 2020
Pemulihan ekonomi di seluruh dunia bisa terjadi lebih cepat jika.

pekanbaru, Jumat, 7 Agustus 2020
Pascameningkatnya angka kasus terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Riau.

Otomotif
Kamis , 06 Agustus 2020