Jumat | 24 Januari 2020
Malam Ini, Detik-detik Imlek di Jalan Karet
Sebentar lagi Tahun Baru Imlek 2571 akan datang dan dirayakan warga Tionghoa di.


Selasa | 21 Januari 2020
Panitia Imlek Bersama Audiensi Dengan Wagubri
Panitia Imlek Bersama yang terdiri dari berbagai ormas Tionghoa, Lembaga.


Selasa | 21 Januari 2020
Siswa SPN Polda Riau GoRo di Vihara Satya Dharma
Sekitar 203 siswa SPN Polda Riau berkunjung ke Vihara Satya Dharma (Kelenteng.

Rubrik : etalase
Geology Trip With Chevron
Empat Elemen Tentukan Ada Tidaknya Migas di Perut Bumi
Editor : saparudin | Penulis: Saparudin Koto
Senin , 09 Desember 2019
Earth Scientist PT CPI, Agus Susianto, memaparkan proses proses pembentukan berbagai batuan di berbagai tempat kepada sejumlah wartawan saat Geology Trip to West Sumatera 6-8 Desember 2019

Mencari minyak bumi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Perlu proses panjang hingga bisa digunakan menjadi bahan bakar. Setidaknya empat elemen menentukan ada tidaknya kandungan migas di perut Bumi. Masing-masing  Charge (pengisian), Reservoir (rumah bagi migas), Seal (batuan tudung atau penutup), Trap (jebakan agar migas tidak bermigrasi).

Charge terdiri dari 3 sub elemen. Yakni, Source Rock atau batuan induk, batuan yang kaya material organik dari sisa organisme hidup pada masa diendapkannya batuan itu. Umumnya batuan induk diendapkan di lingkungan danau atau laut. Sub elemen berikutnya adalah Maturation atau pematangan,diperoleh dari panas yg berasal dari bawah permukaan lapisan sedimen di cekungan tersebut. Panas batuan akan meningkat seiring dengan kedalaman batuan.Dan sub elemen terakhir adalah Migration, perpindahan minyak dan gas dari batuan induk ke reservoar hingga menuju ke posisi jebakannya.

Demikian penjelasan Agus Susianto, Earth Scientist atau Geologis PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) saat memberikan penjelasannya kepada sejumlah wartawan pada Geology Trip to West Sumatera yang ditaja SKK Migas Sumbagut dan PT CPI. Pada kunjungan tiga hari, Jumat-Minggu, 6-8 Desember 2019 ini,juga diberikan edukasi Geologi serta proses pembentukan minyak bumi. Awak media juga diajak langsung mengamati berbagai jenis batuan, umur batuan, proses pembentukannya serta kemungkinan kandungan minyak di tempat itu.

14 wartawan didampingi Tim Chevron yakni, Sonitha Poernomo (Manager Corporate communication),Tiva Permata (Media &Communication Specialist), Yulia Rintawati (Media & Communication specialist), Indrika Sriyatini (Government Relations), Irdas Muswar (Team Manager AD South Optimization Minas), Agus Susianto (Earth Scientist), Azarico Putra (Earth Scientist),tim medis serta dua perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagut, yakni Tito dan Anggi Dharma Antomy.

Awal perjalanan dari Pekanbaru rombongan mengamati Petani Formation di dekat PLTA Koto Panjang Kampar. Di tempat itu Agus Susianto yang didampingi Irdas Muswar memaparkan, proses pembentukan batuan sedimen yang banyak terdapat dilokasi itu. Diduga batuan yang terlihat di tempat itu sama dengan yang ada di ladang minyak di kedalaman ladang minyak Minas dan Duri.

Selanjutnya rombongan mengamati Greywacke di dekat Danau Koto Panjang Kabupaten Kampar Riau dan Lembah Harau Sumatera Barat. Greywacke ini  merupakan batuan metasedimen berasal dari batulempung sedikit berpasir yang banyak mengandung fragmen-fragmen granit berukuran kerakal dan terlihat juga berurat kuarsa. Batuan ini terbentuk sekitar 250-300 juta tahun lalu dan terhampar luas menjadi landasan di bawah cekungan Sumatera Tengah*.

Di Lembah Harau, Agus Susianto memaparkan bahwa batuan dinding tebing yang menjulang di tempat itu merupakan hasil reruntuhan batu dan pasir yang bercampur dalam proses sedimentasi pada lingkungan darat di tepian cekungan Payakumbuh yang diendapkan menjadi satu, membentuk tumpukan batuan sedimen yang membukit menyerupai bentuk kipas aluvial. Akibat gerusan air dalam waktu yang sangat lama, terbentuklah lembah-lembah seperti yang terlihat saat ini.

Chevron Fold
Hari kedua kunjungan dimulai di Padang Gantiang Granite Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Di lokasi ini rombongan mengamati hamparan batu granite yang sudah lapuk. "Batu granite ini sudah lapuk, dibagian dalam bisa saja masih lebih segar dan mungkin bisa digunakan untuk pembuatan ubin ataupun papan granite yang kita temui di pasaran. Jika ada granite yang masih segar di lokasi ini, maka nilai ekonominya akan tinggi" ujar Agus Susianto.

Sebelum memasuhi gerbang Kota Sawahlunto, rombongan Geology Trip mengamati Chevron Fold, yakni formasi batuan yang terlipat dengan tajam. Di lokasi ini terlihat batuan terlipat hingga membentuk sudut 60 derjat dan berputar lagi seperti membentuk pola zigzag.

Usai mengamati Chevron Fold, rombongan diajak mengunjungi bekas tambang Batu Bara Loebang Mbah Soero di Kota Sawahluto. di tempat ini Agus Susianto memaparkan proses pembentukan batu bara dan mineral lainnya seperti emas, tembaga dan lain sebagainya."Proses pembentukan batubara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatubaraan, dibawah pengaruh fisika berupa tekanan dan panas, maupun proses geologi lainnya. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil," ujar Agus yang oleh rekan-rekannya disebut Pustaka Geology berjalan ini.

Setelah mengunjungi Tambang Batubara rombongan mengunjungi Puncak Gobah. Di lokasi yang oleh masyarakat setempat disebut Puncak Arifan ini terlihat jelas hamparan Danau Singkarak di areal lembah yang sangat luas ini. Di atas ketinggian ini, dipaparan proses pembentukan danau tektonik itu. Diceritakan danau Singkarak terbentuk dari proses tektonik akibat pergeseran horisontal dua lempeng atau blok sesar yang bergerak pada dua segmen sesar yang saling berseberangan dengan arah berlawanan sehingga daerah diantara dua segmen sesar tertarik saling menjauh (pull apart) membentuk cekungan berupa danau yang kita kenal saat ini.

Hari ketiga rombongan Geology Trip mengunjungi Ngarai Sianok. Lembah ini diceritakan terbentuk dari abu vulkanik Gunung Maninjau yang diperkirakan meletus sekitar satu juta tahun lalu. Lembah-lembah yang terbentuk akibat erosi oleh air yang berlangsung secara terus menerus selama ratusan ribu tahun.

"Lembah yang sangat indah ini awalnya adalah bukit tumpukan abu vulkanis, lembah-lembah yang ada terbentuk akibat goresan air yang berlangsung secara terus menerus,''ujar Agus Susianto menutup presentasinya. (bersambung)




Berita Lainnya