1 Safar 1442 H / Sabtu, 19 September 2020
Erdogan: Kabah Bisa Saja Diserang Jika Pemimpin Muslim Diam
dunia | Minggu, 2 Februari 2020
Editor : wisly | Penulis : republika
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan


ANKARA - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengecam para pemimpin negara Arab dan negara Muslim yang menerima atau terus memilih diam terhadap kesepakatan abad ini yang dibuat Amerika Serikat terkait Palestina.

Erdogan kembali menegaskan sikap negaranya yang menantang keras kesepakatan yang diumumkan di Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Selasa (28/1). Sebuah pengumuman yang turut dihadiri duta besar tiga negara Arab.

"Kami tidak akan pernah mengakui atau menerima kesepakatan itu karena bertujuan mencaplok tanah Palestina yang diduduki," kata Erdogan pada pertemuan partai yang ia pimpin di Ankara, Jumat (31/1).

Melansir Middle East Monitor, Minggu (2/1), Erdogan juga menyebut meninggalkan nasib Yerusalem dan Palestina sepenuhnya pada 'cakar berdarah' Israel akan menjadi kejahatan terbesar seluruh umat manusia.

Erdogan menegaskan, negaranya tidak memiliki masalah dengan orang-orang Yahudi. Tapi, Turki menentang kebijakan penindasan Israel yang bertujuan merebut hak-hak Palestina.

Erdogan menyoroti pentingnya Yerusalem dan monumen sakral di kota itu bagi Muslim dan Kristen. Ia pun mendesak semua orang bersuara menentang kesepakatan yang dirancang Trump.

"Jika kita tidak dapat melindungi Masjid Al-Aqsha, kita tidak akan dapat mencegah ketika Ka'bah dijadikan target di masa depan," kata Erdogan.

Alasan itulah yang membuat negaranya terus berupaya mempertahankan Yerusalem. Erdogan juga menyebut masalah Palestina dan Yerusalem adalah masalah bagi semua Muslim. Dia pun mempertanyakan pihak-pihak yang masih memilih diam.

"Kapan Anda akan mulai bersuara?" ucapnya.

Erdogan pun menegaskan negara jahat seperti Israel sama sekali tidak dapat diterima Turki. Ia pun merasa kasihan dengan nasib Muslim ketika melihat sikap pemimpin Mulslim dan rencana Trump tersebut.

"Arab Saudi lebih banyak diam. Kapan Anda akan mulai bicara? Hal yang sama berlaku untuk Oman, Bahrain, dan kepemimpinan Abu Dhabi," ucapnya.

"Mereka bahkan pergi dan memberi tepuk tangan di sana (dalam pengumuman yang dibuat Trump). Memalukan. Beberapa negara Arab yang mendukung rencana semacam itu mengkhianati Yerusalem, bangsanya sendiri, dan yang paling utama adalah kemanusiaan," ujarnya.

Selasa lalu, Trump mengumumkan apa yang disebut sebagai rencana mengakhiri pertikaian Israel-Palestina di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tanpa kehadiran pejabat Palestina. Selama acara, Trump menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tidak terbagi. Apa yang disebut "Kesepakatan Abad Ini" secara sepihak membatalkan resolusi-resolusi PBB sebelumnya tentang masalah Palestina dan malah memberikan hampir semua yang Israel minta.*




Artikel Terbaru
dunia, Jumat, 18 September 2020
Sebuah laporan statistik memperkirakan populasi Israel kini telah.

etalase, Jumat, 18 September 2020
Isu tentang pelabelan makanan yang menggunakan Palm Oil Free (POF).

etalase, Jumat, 18 September 2020
Telkomsel sebagai leading digital telco company berkomitmen untuk.

etalase, Jumat, 18 September 2020
Sesuai komitmen bersama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

sportainment, Jumat, 18 September 2020
Pelatih timnas U-19 Indonesia, Shin Tae-yong, mengucapkan terima.

pekanbaru, Jumat, 18 September 2020
Jumlah pasien konfirmasi positif covid-19 terus bertambah di Kota.

dumai, Kamis, 17 September 2020
Gugus Tugas Covid-19 Kota Dumai kembali melaporkan penambahan kasus.

dunia, Kamis, 17 September 2020
Kasus virus corona global diperkirakan akan melewati angka 30 juta.

hukum, Kamis, 17 September 2020
Gubernur Riau (Gubri), H Syamsuar, dan Kepala Dinas Kesehatan.

sportainment, Kamis, 17 September 2020
FIFA baru saja merilis peringkat dunia terbaru hari ini, Kamis 17.

Otomotif