1 Safar 1442 H / Sabtu, 19 September 2020
Sains dalam Alquran, Awan yang Menimbulkan Hujan
dunia | Jumat, 14 Februari 2020
Editor : wisly | Penulis : okezone.com
ilustrasi awan


JAKARTA - Allah menciptakan awan yang indah berarak di langit. Awan selain menghiasi langit juga menimbulkan hujan.

Awan diciptakan sebagai bukti kebesaran Allah Sang Maha Pencipta. Allah berfirman,

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakannya itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia dikehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (An-Nur: 43).

Penafsiran atas ayat ini telah disebutkan di banyak kitab tafsir. Allah menggiring lembut awan melalui perantaraan angin.

Awan kemudian saling bertumpuk hingga menjadi gumpalan. Lalu muncullah air hujan dari celah-celah gumpalan tersebut.

Di antara kelebihan awan Cumuliform adalah terbentuk di ketinggian atau di lapisan atas atmosfer. Bentuknya mirip seperti gunung-gunung menjulang. Awan jenis ini juga menurunkan butiran-butiran es dan menghasilkan kilat yang menyilaukan hingga menghilangkan penglihatan untuk sekejap. Penggambaran awan oleh Alquran seperti ini tentu saja selaras dengan penemuan-penemuan ilmiah modern.

Semakin tinggi kita berada di atas permukaan laut, udara menjadi semakin dingin. Inilah yang mencegah uap air naik terus ke atas. Seandainya udara bertambah panas bila kita berada semakin tinggi di atas, uap air akan terus naik ke atas dan hilang menyebar di angkasa. Jika itu terjadi, lautan lambat-laun pasti akan kering. Akan tetapi, Allah menjadikan lapisan-lapisan udara berada di ketinggian maksimal sekitar 15 mil. Artinya, pada ketinggian ini, uap air takkan bisa naik lagi ke atas.

Kalangan ilmuwan menegaskan bahwa butiran es (salju) takkan terbentuk kecuali di awan yang berbentuk seperti gunung menjulang. Awan tersebut memiliki ketinggian sekitar 15 kilometer. Inilah fakta yang baru bisa diungkap puluhan tahun lalu. Padahal, Al-Quran sudah menyebutkannya sekitar 14 abad lalu.

Kemiripan antara awan Cumuliform dan gunung menjulang yang disebutkan dalam Alquran di atas, baru bisa dibuktikan secara ilmiah ketika para ilmuwan naik pesawat terbang yang mampu mencapai ketinggian di atas awan.

Para ilmuwan mengatakan, awan Cumuliform terdiri dari lapisan bawah yang dingin dan lapisan atas yang panas. Akibat perbedaan suhu panas di kedua lapisan ini, terbentuklah pusaran-pusaran air yang menjadi sebab membekunya awan. Dari awan beku inilah butiran-butiran es dihasilkan. Jadi, tidak ada awan selain Cumuliform yang dapat menghasilkan butiran-butiran es.

Ayat di atas mengaitkan hubungan antara butiran es dan kilat. Butiran es berperan melahirkan muatan-muatan listrik pada lapisan-lapisan bawah, terjadi electric discharge (perpindahan arus listrik) yang cukup besar dan menimbulkan bunga api sepanjang tiga mil. Saat itulah terjadi kilat dan guntur. Electric discharge terkadang juga terjadi di antara awan dan bumi, yaitu ketika posisi awan berada cukup dekat dengan bumi dan memiliki muatan listrik yang tinggi.

Jika electric discharge terjadi di antara awan dan benda apa pun yang jauh tinggi di atas permukaan bumi, maka hal tersebut akan menimbulkan apa yang disebut petir (sha'iqah). Orang-orang akan lebih berhati-hati terhadap petir bila berada di dalam mobil tertutup, pesawat terbang, atau di dalam bangunan yang berkerangka logam. Sebab, perpindahan arus listrik bisa terjadi pada atap berbahan logam.

Perpindahan arus listrik juga bisa terjadi pada sesuatu yang panjang dan berada di tempat terpisah. Oleh sebab itu, saat terjadi petir, orang-orang biasanya menjauh dari pepohonan, berhenti bermain golf atau dayung.

Ayat yang sama juga mengisyaratkan mukjizat lain, yaitu kilat yang dapat mengaburkan atau menghilangkan penglihatan. Ajaibnya, itulah di cuaca hujan yang disertai petir, utamanya di daerah-daerah beriklim tropis.

Kilauan kilat mencapai 40 kali per detik, membuat pilot pesawat terbang kehilangan pandangannya dan tak mampu meneruskan penerbangannya.*




Artikel Terbaru
dunia, Jumat, 18 September 2020
Sebuah laporan statistik memperkirakan populasi Israel kini telah.

etalase, Jumat, 18 September 2020
Isu tentang pelabelan makanan yang menggunakan Palm Oil Free (POF).

etalase, Jumat, 18 September 2020
Telkomsel sebagai leading digital telco company berkomitmen untuk.

etalase, Jumat, 18 September 2020
Sesuai komitmen bersama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

sportainment, Jumat, 18 September 2020
Pelatih timnas U-19 Indonesia, Shin Tae-yong, mengucapkan terima.

pekanbaru, Jumat, 18 September 2020
Jumlah pasien konfirmasi positif covid-19 terus bertambah di Kota.

dumai, Kamis, 17 September 2020
Gugus Tugas Covid-19 Kota Dumai kembali melaporkan penambahan kasus.

dunia, Kamis, 17 September 2020
Kasus virus corona global diperkirakan akan melewati angka 30 juta.

hukum, Kamis, 17 September 2020
Gubernur Riau (Gubri), H Syamsuar, dan Kepala Dinas Kesehatan.

sportainment, Kamis, 17 September 2020
FIFA baru saja merilis peringkat dunia terbaru hari ini, Kamis 17.

Otomotif