Rabu | 25 Maret 2020
Tionghoa Pekanbaru Serahkan Bantuan APD Cegah Covid-19
Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) bersama organisasi.


Rabu | 25 Maret 2020
Tradisi Ritual Cheng Beng di Selatpanjang Dibatalkan
Pelaksanaan tradisi ziarah kubur, atau dikenal dengan istilah Cheng Beng di.


Senin | 09 Maret 2020
PUB Bodhisattva Mahasthamaprapta Kunjungan Kasih ke Panti Asuhan Rumah Bahagia
Menyambut Hari Besar Bodhisattva Mahasthamaprapta (Se Thian Putco ), Persamuan.

Rubrik : pekanbaru
Zulkifli Hasan Bicara Pancasila di Hadapan Ratusan Mahasiswa UIR
Editor : wisly | Penulis: sri lestari
Senin , 24 Februari 2020
Zulkifli Hasan saat mengisi buku tamu.

PEKANBARU - Wakil Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan (Zulhas) mengurai soal kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan ideologi negara di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau (UIR), Senin (24/2/2020). Kegiatan diselenggarakan di auditorium lantai IV Gedung Rektorat UIR.

Zulhas tiba di Kampus UIR Jalan Kaharuddin Nasution 113 Perhentian Marpoyan Pekanbaru pukul 10.45 WIB. Ia berada satu mobil dengan Gubernur Riau Drs H Syamsuar setelah mendarat di Bandara International Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. 

Bersama Zulhas ikut pula Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir, Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effend, Danrem 031/WB, sejumlah anggota DPRD Riau dari Partai Amanah Nasional juga ikut menyertai kedatangan Menteri Kehutanan di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono itu. 

Tiba di Kampus UIR, Zulhas langsung disambut atraksi pencak silat oleh mahasiswa UIR. Wakil Rektor II UIR Dr Asrol bersama Dekan Fakultas Ekonomi Drs Abrar, Kepala BAAK Ir Akmar Efendi dan belasan dosen Universitas Islam Riau bergegas membawa tamunya ke auditorium lantai IV Gedung Rektorat untuk menjadi pembicara dalam 'Seminar Nasional dan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Bang Zulhas Bicara Pancasila untuk Indonesia'.

Kepada mahasiswa, Zulhas menegaskan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa, dan sudah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bersidang pada 18 Agustus 1945. Dalam sidang yang diketuai Ir Soekarno itu, para pendiri bangsa telah sepakat menempatkan Pancasila menjadi falsafah bangsa dan ideologi negara (way of life). 

"Pancasila bukan pemecah bangsa, bukan membuat bangsa ini terkotak-kotak. Jadi jangan pertentangkan Pancasila dengan agama," kata Zulhas.

Ia juga menyinggung soal piagam Jakarta yang dirumuskan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dalam sidangnya 22 Juni 1945. BPUPKI telah bersepakat menempatkan Piagam Jakarta dengan bunyi 'kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya', sebagai dasar negara.

Akan tetapi pada malam setelah proklamasi dibacakan oleh Proklamator Soekarno-Hatta datang protes dari Indonesia Timur.

Protes itu disampaikan kepada Bung Hatta selaku anggota PPKI. 

"Di sinilah diuji kebesaran umat Islam. Tapi walau demikian mereka akhirnya sepakat mencoret kalimat dalam Piagam Jakarta, dan mengubahnya menjadi 'Ketuhanan yang Maha Esa',
" kata tokoh-tokoh Islam waktu itu, silakan diubah asal kita merdeka dan tetap bersatu," tegas Zulhas.

Karena itu Zulhas mengajak mahasiswa tidak mempertentangkan hari lahir Pancasila. Apakah tanggal 1 Juni, 22 Juni atau 18 Agustus. Menurut Zulhas, ketiga tanggal tersebut merupakan satu rangkaian yang saling mengikat dan menjadi filosofi bangsa. 

"Mari terus kita jalankan dan kita amalkan nilai-nilai Pancasila untuk menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI.
"Tanda kita merdeka adalah kita bersatu," ucap Zulhas.*




Berita Lainnya