16 Rajab 1442 H / Minggu, 28 Februari 2021
Jutaan Orang Tinggalkan WhatsApp Terkait Privasi Data
etalase | Selasa, 19 Januari 2021
Editor : wisly | Penulis : republika.co.id
WhatsApp

JAKARTA - Usai Whatsapp mengumumkan perubahan kebijakan privasi datanya, jutaan pengguna aplikasi pertukaran pesan ini mulai beralih ke layanan alternatif dalam sepekan terakhir.

Menurut firma analisis aplikasi seluler Sensor Tower, aplikasi Signal yang merupakan pesaing WhatsApp, mencatat kenaikan unduhan sebesar 17,8 juta, dalam periode 5 hingga 12 Januari, naik dari hanya 285 ribu  unduhan pada pekan sebelumnya.

Aplikasi serupa lainnya, Telegram, mencatat kenaikan 15,7 juta unduhan selama periode sama, dua kali lipat lebih banyak dibandingkan 7,6 juta unduhan pada pekan sebelumnya. Selain itu, aplikasi bertukar pesan berbayar Threema yang sebagian besar melayani negara-negara berbahasa Jerman, juga mendapati kenaikan jumlah unduhan. Meski aplikasi ini tidak sepopuler aplikasi pertukaran pesan lainnya tetapi Threema diyakini memiliki sensitivitas tinggi terhadap perlindungan data.

"Unduhan akan terus meningkat," kata kepala Pemasaran & Penjualan Threema, Roman Flepp, kepada DW. "Pekan lalu kami mencatat unduhan harian 10 kali lebih banyak daripada hari biasa. Jadi ada ratusan ribu pengguna baru setiap hari. Itu banyak sekali,‘‘ tambahnya.

Sementara itu, unduhan WhatsApp berkurang menjadi 10,6 juta, turun dari jumlah unduhan 12,7 juta pada pekan sebelumnya. WhatsApp pun segera mengeluarkan klarifikasi dan mengumumkan bahwa mereka akan menunda pembaruan kebijakan hingga 15 Mei.

"Saya tidak terkejut, orang-orang tidak benar-benar tahu apa yang harus mereka setujui dibandingkan hal-hal yang sudah mereka setujui sebelumnya," kata Supervisor Perlindungan Data Eropa Wojciech Wiewiorowski kepada DW. Pengumuman WhatsApp kepada penggunanya "sangat singkat" dan "sepele," katanya.

"Sejak orang-orang sadar akan konsentrasi pasar, dan fakta bahwa semakin sedikit perusahaan yang ada dan berarti perusahan-perusahaan itu memegang kendali lebih besar atas informasi daring, situasi terkait pembagian data antar layanan menciptakan beberapa keraguan bagi pengguna," katanya.

Pada awal Januari, pengguna WhatsApp menerima pesan pop-up yang mengumumkan tentang pembaruan kebijakan privasi aplikasi tersebut. Setelah diamati lebih teliti ada pemberitahuan bahwa semua akun yang tidak menyetujui persyaratan baru pada batas waktu 8 Februari akan ditangguhkan atau dihapus.

Banyak kekhawatiran dan kebingungan pun mencuat. Pembaruan tersebut dianggap tidak jelas bagi banyak orang, dan kebijakan privasi yang direferensikan ke Facebook membuat pengguna khawatir bahwa konten pesan mereka akan dibagikan kepada raksasa media sosial itu.

Sementara, Facebook mendapat banyak kritik akibat kebijakan privasi datanya yang dianggap buruk. Reaksi negatif dari pengguna tersebut mendorong WhatsApp untuk mengeluarkan klarifikasi dan menunda perubahan hingga Mei.

'Data adalah hal yang berharga di zaman kita'
Meskipun ada penundaan tiga bulan, pembaruan yang dimaksudkan akan tetap sama.

Perubahan diperlukan untuk memungkinkan pengguna mengirim pesan ke pelaku bisnis melalui WhatsApp, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan. Aturan baru ini mengklarifikasi bahwa komunikasi dengan sektor bisnis lewat WhatsApp mungkin dihosting di server Facebook.

Ini "mungkin langkah pertama untuk menghasilkan uang dan mendapatkan keuntungan dari investasi luar biasa yang mereka lakukan pada tahun 2014 ketika Facebook membeli WhatsApp," kata Flepp dari Threema. "Seperti yang kita semua tahu, data pengguna adalah hal yang berharga di zaman kita. Saya pikir sebenarnya itulah yang menjadi kontroversi saat ini,’’ tambahnya.

Namun, perubahan tersebut tidak akan diterapkan secara global. Perubahan untuk pengguna Eropa menghilangkan aturan detail yang diumumkan untuk wilayah lain. Rencana untuk mengaktifkan akun Facebook Pay agar pengguna dapat "membayar sesuatu di WhatsApp" tidak termasuk dalam aturan pembaruan Eropa.

Hukum perlindungan data di Eropa termasuk yang terkuat di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas data Eropa mengambil tindakan yang semakin agresif terhadap raksasa perusahaan telekomunikasi.

Di Eropa, "orang harus menjelaskan dengan hati-hati apa yang sebenarnya akan dilakukan dengan data yang diberikan orang lain," kata Wiewiorowski, menjelaskan sebuah konsep yang dikenal sebagai "persetujuan yang diinformasikan."

"Selain itu, jika kami memberikan persetujuan, kami harus ingat bahwa kami juga dapat menarik persetujuan kami."

"Persetujuan itu berarti Anda dapat menariknya kapan saja...Dan Anda tidak perlu menjelaskan apa pun," tambahnya. "Anda bisa mengatakan, 'Saya tidak menyetujui hal-hal yang saya setujui sebelumnya.' Dan menarik persetujuan harus semudah ketika memberikan persetujuan itu,‘‘ tambahnya.*




Artikel Terbaru
meranti, Minggu, 28 Februari 2021
Kabut asap terlihat menyelimuti hampir seluruh wilayah di Kabupaten.

sportainment, Minggu, 28 Februari 2021
Barcelona pulang dari laga sulit kontra Sevilla dengan tiga poin. Gol.

meranti, Minggu, 28 Februari 2021
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selatpanjang mengusulkan.

nasional, Minggu, 28 Februari 2021
Pemerintah melaporkan kasus positif virus corona (Covid-19) bertambah.

huawen, Minggu, 28 Februari 2021
Panitia Imlek Bersama yang terdiri dari berbagai ormas Tionghoa,.

pekanbaru, Minggu, 28 Februari 2021
Pemerintah provinsi Riau, mulai hari Senin (1/3) akan memulai.

dunia, Sabtu, 27 Februari 2021
Pemerintah China untuk kesekian kalinya mengundang utusan Uni Eropa.

rohil, Sabtu, 27 Februari 2021
Polisi Sektor (Polsek) Bangko bersama Satuan tugas (Satgas) Kebakaran.

huawen, Minggu, 28 Februari 2021
Yayasan Panglima Empat Bersaudara (Dewa Kim Guan Sue) Jalan Pemuda.

bengkalis, Minggu, 28 Februari 2021
Kasmarni dan Bagus Santoso resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil.

Otomotif