12 Zulqaidah 1442 H / Selasa, 22 Juni 2021
Pemudik Nekat Lewat Jalur Gelap Demi Balek Kampong ke Selatpanjang
meranti | Minggu, 9 Mei 2021
Editor : wislysusanto | Penulis : ali
Berbagai jalan akan ditempuh calon pemudik.

SELATPANJANG - 'Balek kampong' atau  disebut dengan mudik sudah jadi tradisi yang sangat sulit dibendung. Maka berbagai jalan pun akan ditempuh calon pemudik agar dapat melaksanakan tradisi ini.

Di Provinsi Riau, ketika kasus Covid-19 makin tak terkendali, larangan balek kampong alias mudik itu pun dikeluarkan. Tapi sejumlah pemudik punya seribu jurus untuk mengakali larangan itu. 

Mulai dari mudik lebih dini, hingga mencari jalan alternatif atau jalan tikus pun dilakukan. Semua itu dilakukan demi dapat berjumpa dengan keluarga di kampung halaman. 

Kondisi itu pun dimanfaatkan oleh para supir travel yang mencari rezeki untuk menghadapi lebaran di tengah larangan pemerintah untuk tidak beroperasi melayani antar jemput penumpang antar kabupaten. Mereka pun menawarkan jasa mengangkut penumpang mudik untuk bertemu sanak keluarga.

Bagi masyarakat yang hendak mudik ke Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti dan daerah lain sekitarnya
mudah saja. Sekarang travel banyak. Tinggal kontak dan akan dijemput.  

"Alhamdulillah, dalam beberapa hari ini  penumpang ramai. Awalnya kita hanya 2 mobil, namun nanti bisa bertambah hingga 6 mobil," kata salah seorang sopir travel yang tidak mau disebutkan namanya.

Walaupun saat ini ada banyak pos Penyekatan untuk memantau pergerakan orang dari dan menuju Pekanbaru - Kepulauan Meranti, bagi sopir travel itu tidak ada masalah. Posko itu dijaga terhitung 6-17 April kegiatan mudik dilarang.

Selain tak semua titik yang dijaga,  banyak jalan lain yang bisa dilewati. Sopir-sopir travel sudah paham di mana titik-titik yang dijaga petugas dan mana yang tidak dijaga. Selain itu banyak jalan tikus yang bisa dilewati. Jalan-jalan itu tentu yang tahu hanya sopir travel saja. Kalau masyarakat awam agak sukar untuk melewati pemeriksaan petugas dan mencari jalan-jalan tikus itu.

Disaat semua orang tertidur lelap, para sopir travel pun bekerja. Mereka bergerak dari Kota Pekanbaru pada pukul 1:00 dinihari dan tiba saat hari menjelang Shubuh di Sungai Rawa, Kabupaten Siak.

"Dari Pekanbaru kami berangkat jam 1 malam, tiba disana terkadang pukul 6 dan terkadang pukul 5 sudah sampai, tergantung kecepatan," ujarnya.

Setibanya disana, para penumpang mudik tidak dibiarkan terlantar, sopir travel juga mengakomodasikan kapal penyeberangan bekerjasama dengan pemilik kapal yang notabene masyarakat tempatan menuju pulau di Kepulauan Meranti.

Walaupun ongkos yang ditawarkan sedikit mahal dari tarif yang biasanya,  namun penumpang tidak banyak yang menawar, dan dinginnya angin laut menerpa tubuh, mereka tak peduli asal bisa pulang saja dan akan bertemu dengan keluarga, kegembiraan mereka sudah terbayang didepan mata.

"Kalau kapal di Pelabuhan Sungai Rawa pasti ada, tak usah risau. Ongkos dari
Pekanbaru ke Sungai Rawa itu Rp200 ribu, selanjutnya ongkos kapal ke Meranti Bunting dengan sistem carter Rp350 ribu, berapa pun penumpangnya terserah. Dan selanjutnya dari sana menuju Selatpanjang ada kapal penyeberangan ongkosnya Rp35 ribu perorang. Kalau mau cepat juga ada, carter speed boat dari Buton ke Selatpanjang Rp2,5 juta isi penumpang 15 sampai 17 orang," katanya.

Sementara itu, salah seorang penumpang yang merupakan warga Selatpanjang yang juga tidak ingin disebutkan namanya mengutarakan jika dirinya setiap tahun melakukan perjalanan mudik ke Kota Sagu hanya ingin bertemu dengan orang tua dan keluarga lainnya. Hanya tahun lalu saja dia tidak balek kampung.

"Ini tradisi kami sejak dulu Bang, tak mungkin tak balek kampung (mudik, red). Sudahlah tahun lalu kami tak balek kampung tak mungkin pula tahun ini kami tak balek lagi. Soal ada penjagaan biar sajalah Bang. Yang penting banyak cara dan macam mana kami bisa sampai ke kampung halaman,"ujar salah seorang calon pemudik.

Ditanya apakah dia akan tetap mudik walaupun ada larangan pemerintah untuk mudik, dia mengatakan tetap balik kampung selagi masih ada orang tua yang bisa dikunjungi di kampung halaman.

"Kami bukan tak patuh dengan anjuran pemerintah saat ini, namun ini kami lakukan agar bisa bertemu orang tua kami yang sudah tua. Selagi mereka masih ada, bisa kita berjumpa, kalau tidak ada, tidak ada semangat mau balik. Terkadang Mengelabah (berkecamuk, red) hati ni kalau tak balik, macam tak bisa ditahan pula, ditambah sedih kalau mendengar suara takbir di pagi hari raya," pungkasnya sambil berlalu.*




Artikel Terbaru
pekanbaru, Selasa, 22 Juni 2021
Perlombaan Sippa Dhamma Samajja (SDS) Tingkat Nasional VIII Tahun.

pekanbaru, Selasa, 22 Juni 2021
Panitia kurban Idul Adha 1442 H/2021 M diminta mentaati protokol.

potensa, Selasa, 22 Juni 2021
Setelah beberapa pekan mengalami penurunan, minggu ini harga tandan.

hukum, Selasa, 22 Juni 2021
Bersama 500 butir pil ekstasi, 19 kilogram sabu asal Malaysia.

etalase, Selasa, 22 Juni 2021
Lulus Program WFD, Siap Bersaing di Dunia Kerja dan Wirausaha

dunia, Selasa, 22 Juni 2021
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan warga yang menolak.

sportainment, Selasa, 22 Juni 2021
Laga Grup B Euro 2020 selesai dimainkan. Hasilnya, Belgia melaju.

rohul, Selasa, 22 Juni 2021
Tiga dari 16 kecamatan di Rokan Hulu (Rohul) saat ini masih masuk.

pekanbaru, Selasa, 22 Juni 2021
Satuan Polisi Militer (Satpom) Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin.

pekanbaru, Selasa, 22 Juni 2021
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir.

Otomotif