Mei 2026
27

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Waisak Dan Kasih Pada Dunia
opini | Senin, 25 Mei 2026 | 19:39:40 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : Sonika, S.E., S.Ag., M.Pd.

Waisak momen Hari Tri Suci ini selalu mengingatkan umat Buddha untuk selalu berbagi kasih(peduli) pada dunia dengan kebenaran menghindari kejahatan, meningkatkan kebaikan, mensucikan pikiran, dan ikut menjaga perdamaian dunia. 

Tahun ini umat Buddha memperingati dan merayakan hari Tri Suci Waisak 2570 BE/2026  dengan  tema : “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, mengajak umatnya  praktikkan Buddha Dharma untuk perdamaian dunia dan kelestarian lingkungan hidup. 

Dalam Buddha Dharma (Kebenaran) ditekankan praktik Dharma akan memberi manfaat bagi  yang  mau mendengarkan dan melaksanakannya, Buddha mengajarkan kehidupan manusia yang sementara (anicca) ini diliputi penderitaan (dukha) dengan tujuh bentuk penderitaan meliputi kelahiran, usia tua, kesakitan, kematian, kegelisahan, bertemu dengan yang tidak disukai, dan berpisah dari yang di sayangi.  

Baca :

Singkat kata lima unsur kehidupan(panca khanda) dari aspek jasmani(rupakhanda), perasaan (vedana khanda), pikiran(sankhara khanda), persepsi (sanna khanda), dan kesadaran (vinnana khanda), sedangkan unsur ragawi terbangun dari unsur tanah (pathavi),air (apo), api (tejo), dan udara (vayu) yang selalu mengikuti arus (bhava) yang membentuk berbagai kondisi dan disposisi manusia itu sendiri.  

Kelima unsur ini telah membentuk kelahiran  samsara yang terus menerus (punarbhava), dalam arus penderitaan(dukkha) tersebut, sehingga sulit ditemukan kembali kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan. 

Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, ketika pertama kali Buddha memutar roda Dharma, yang disampaikan kepada siswanya pada bulan Waisak tahun 588 SM, kepada lima pertapa dengan sabdanya: ”Dengarlah O Pertapa, Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari kematian. Akan kuberitahukan kepadamu, akan ku ajarkan kepadamu, kalau engkau ingin mendengar, belajar, dan melatih diri seperti yang akan ku ajarkan, dalam waktu singkat engkau pun dapat mengerti, bukan nanti kelak di kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam kehidupan ini, bahwa apa yang ku katakan  itu adalah benar. 

Engkau dapat menyelami sendiri keadaan itu yang berada di atas hidup dan mati.  …Pertapa, aku tidak pernah berhenti berusaha, Aku tidak kembali kepada penghidupan yang penuh kenikmatan dan kesenangan. Dengarlah apa yang akan ku katakan. Aku sesungguhnya telah memperoleh Kebijaksanaan Yang Tertinggi dan dapat mengajarimu untuk juga memperoleh Kebijaksanaan tersebut untuk dirimu sendiri”. 

Pada 2570 tahun lalu, Buddha pertama kali berpesan kepada siswanya: “Para Bhikkhu, pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, membawa kebahagiaan bagi orang banyak, atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi berdua-dua ke tempat yang sama. Nyatakanlah kehidupan suci, yang sempurna dan murni.

Ajarkanlah Dharma Agung, laksanakanlah demi kebaikan pihak lain.Terbukalah pintu kehidupan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan” . (Mahavagga, Vinaya pitaka I). Para Bhikkhu, ajarkan Dharma yang indah pada awalnya, Indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya (Aṅguttara Nikāya). Dari makna tersebut Dharma(kebenaran) disebarkan demi perdamaian dunia, demi kebahagiaan umat manusia dan alam lingkungannya.  

Penemuan Buddha akan kebenaran alam semesta(kosmos) ini eksistensi hukum Kesunyataan (Paramatha Sacca) atau hukum alam sebagai hukum semesta yang sangat adil tanpa pilih kasih, semua makhluk dan manusia mengikuti   menerima pengaturan hukum tersebut. Maka alam di luar diri dan alam di dalam diri (utu niyama) manusia harus terjadi keseimbangan dan keserasian barulah keharmonisan internal dan eksternal akan terwujud. Misalnya manusia hidup membutuhkan oksigen (O2) dari alam yang terus bersiklus menjadi kehidupan terus menerus dengan  kekuatan yinyang(negatif-positif) yang bersiklus, disinilah terjadi proses pengaturan keharmonisan alam dan manusia yang saling berhubungan, semua perbuatan manusia akan diatur dalam hukum karma(karma niyama) atau hukum sebab-akibat. 

Buddha   dengan mata kebijaksanaannya yang maha tahu akan fenomena alam yang sementara kemelekatan pada tiga corak kehidupan yaitu ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukha)  dan tanpa aku yang kekal (anatta), kecenderungan manusia hanya memikirkan diri sendiri (egoisme),   demi keluarga atau kelompok tertentu saja, ini juga karena dalam diri manusia diliputi yaitu nafsu rendah, kebencian, kebodohan, dan ketakutan.  

Disabdakan Buddha: ”Barang siapa melanggar Dharma, karena nafsu atau kebencian, kebodohan atau ketakutan, maka nama baiknya akan menjadi suram. Barang siapa yang belum pernah melanggar Dharma karena nafsu atau kebencian ,kebodohan atau ketakutan, maka nama baiknya akan menjadi penuh dan sempurna, bagaikan rembulan dalam masa purnama sidhi (bulan bulat sempurna)”. Dengan kebenaran Dharma baru dapat membedakan orang sadar dan dunggu, benci dan nafsu, baik dan jahat, senang dan bahagia.  

Merenung pada Dharma (Dhammanussati) momen penting dengan kegiatan Hening Nusantara, yang dilaksanakan serentak nasional pada 20 Mei 2026, menyampaikan pesan refleksi dan introspeksi pada diri sendiri dalam mengamalkan kebenaran, semakin dekat dengan suara alam dan hati kasih, semakin mencintai lingkungan, menghindari peperangan, menghargai alam sekitar, keyakinan semakin kuat, tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi, karena ia sendiri telah membentengi dirinya dan alam lingkungan telah bersatu dalam Kasih Semesta. Dengan kondisi global dunia saat ini  akibat konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel dengan sekutunya AS, yang ditandai perpecahan yang semakin meluas dengan eskalasi konflik antar manusia yang signifikan, yang mengganggu distribusi minyak dan gas serta mengancam stabilitas ekonomi global. 

Ketegangan ini memicu lonjakan harga, ancaman inflasi, dan gangguan rantai pasok, memaksa banyak negara untuk meninjau ulang kebijakan energi mereka termasuk Indonesia, ini menjadi  keprihatinan bersama,   Dengan kembali pada hati cinta kasih(maitri), perilaku cinta kasih, hati nurani, dan kebijaksanaan dapat melihat kesamaan dalam perbedaan, mengajarkan untuk menghormati lebih delapan miliar lebih umat manusia dunia sebagai saudara,  pada hakikatnya setiap manusia sama mulia dan terhormat; semua manusia dari sumber yang sama, sama dikasihi dan diberkatiNya, tak ada yang lebih tinggi dan tak ada yang lebih rendah.  

Di bulan suci Waisaka yang hikmat dan hening, kita dengan segenap jiwa dan raga dapat merenung kembali ajaran Buddha yang sangat penting untuk meningkatkan spiritual keyakinan(sradha) yang menjadi landasan untuk mencapai pencerahan dan kedamaian jiwa. 

Kesejahteraan, kebahagiaan, dan  indahnya hidup  merupakan kunci  dalam masyarakat yang bermoral tinggi, hidup yang harmonis serasi, selaras,  dan seimbang. Marilah kita mulai dengan segenap jiwa raga dengan keindahan mata, telinga, hidung, mulut, badan, dan pikiran,  dengan ketulusan hati tidak merugikan orang lain. 

Membawa kedamaian dan kebahagiaan dengan peduli bersama, kemanapun pergi dan dimanapun berada. Semoga dapat memberi manfaat Dharma, semua makhluk berbahagia. * 

Sonika, S.E., S.Ag., M.Pd. Dosen STAB Maitreyawira dan Universitas Riau.

Terbaru
Artikel Popular
5
politik
DKPP Terima 765 Aduan Pelanggaran Etik...
Selasa, 21 April 2026 | 20:10:00 WIB
KPK Beri Usulan untuk Revisi UU Parpol hingga...
Minggu, 19 April 2026 | 11:40:14 WIB
hukum
Nasional