Jun 2026
14

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Mensos Hadiri Open House Sekolah Rakyat di Pekanbaru, Tinjau Kesiapan Tahun Ajaran Baru
nasional | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:47:40 WIB
Editor : Linda | Penulis : Linda N

PEKANBARU – Menteri Sosial (Mensos)l RI Syaifullah Yusuf menghadiri kegiatan Open House Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 31 Pekanbaru yang berada di Sentra Abiseka Kementerian Sosial, Rumbai, Minggu (14/6/2026).

Kedatangan menteri yang akrab disapa Gus Ipul itu disambut Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru Samsuir, jajaran Kementerian Sosial, kepala sekolah, guru, calon siswa, serta orang tua siswa.

Kegiatan Open House digelar untuk memperkenalkan program Sekolah Rakyat kepada calon peserta didik dan orang tua sekaligus memberikan gambaran mengenai sistem pendidikan berasrama yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru.

Baca :

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul berdialog langsung dengan calon siswa dan orang tua yang hadir. Suasana berlangsung hangat ketika Gus Ipul menyapa para calon siswa yang akan bergabung dalam program Sekolah Rakyat. 

Di hadapan orang tua dan calon siswa, Gus Ipul kemudian memaparkan visi besar Sekolah Rakyat sebagai program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan di seluruh Indonesia.

Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan layanan pendidikan, tetapi juga menjadi instrumen negara untuk memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Ini adalah keluarga-keluarga istimewa Indonesia yang diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang baik sehingga kelak menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, terampil, dan mampu meraih masa depan yang lebih baik," ujar Gus Ipul.

Ia menjelaskan bahwa saat ini penyelenggaraan Sekolah Rakyat masih memanfaatkan gedung-gedung sementara milik pemerintah, baik milik Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Ketenagakerjaan, maupun pemerintah daerah yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar.

Namun ke depan, pemerintah akan membangun gedung permanen Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia sesuai arahan Presiden Prabowo.

"Ke depan akan dibangun gedung permanen yang mampu menampung lebih dari seribu siswa mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA. Ini merupakan persembahan Presiden Prabowo untuk keluarga-keluarga yang selama ini belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya.

Menurut dia, sistem penerimaan siswa dilakukan melalui penjangkauan langsung terhadap keluarga yang telah masuk dalam basis data sosial ekonomi nasional dan memenuhi kriteria sebagai penerima manfaat.

"Tidak ada pendaftaran Sekolah Rakyat. Yang ada adalah penjangkauan. Siapa yang ada dalam data dan memenuhi kriteria, maka bisa diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat," tegasnya.

Ia mengatakan proses tersebut dilakukan oleh pendamping sosial Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah. Setelah dilakukan verifikasi dan mendapat persetujuan orang tua, calon siswa akan ditetapkan oleh kepala daerah sebelum disahkan sebagai siswa Sekolah Rakyat.

Karena menggunakan sistem penjangkauan, Gus Ipul kembali menegaskan tidak boleh ada intervensi maupun praktik titipan dari pihak mana pun.

"Yang boleh sekolah di sini adalah mereka yang memang memenuhi kriteria. Tidak boleh ada titipan. Menteri tidak boleh menitip, gubernur tidak boleh menitip, bupati dan wali kota tidak boleh menitip," katanya.

Menurut dia, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi keluarga yang berada pada kelompok sosial ekonomi desil 1 dan desil 2 atau kelompok masyarakat paling miskin berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.

Program tersebut menyasar anak-anak yang tidak sekolah, belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun yang berpotensi putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Pendidikan Berasrama dan Pembentukan Karakter

Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat menggunakan sistem pendidikan berasrama atau boarding school.

Konsep tersebut tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, pendidikan keagamaan, dan pengembangan keterampilan hidup.

Para siswa akan didampingi oleh kepala sekolah, guru, wali asrama, dan wali asuh selama 24 jam.

"Boarding school itu ada sekolahnya dan ada pembinaan karakternya. Anak-anak akan didampingi selama 24 jam, baik dalam proses belajar maupun pembentukan karakter," ujarnya.

Ia meminta seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan menjalankan tugas dengan empati dan penuh kasih sayang karena mayoritas siswa berasal dari keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan sosial dan ekonomi.

"Saya minta kepala sekolah, guru, wali asrama, dan seluruh tenaga kependidikan bekerja dengan hati dan penuh kasih sayang," katanya.

Tak Ada Tes Akademik

Salah satu keunikan Sekolah Rakyat, lanjut Gus Ipul, adalah tidak adanya tes akademik sebagai syarat masuk.

Menurutnya, banyak siswa yang diterima berasal dari kelompok rentan yang selama ini mengalami hambatan akses pendidikan.

"Banyak yang pertama kali masuk SMP belum bisa membaca, ada juga yang masuk SMA belum bisa membaca. Karena memang tidak ada tes akademik. Yang menjadi syarat adalah memenuhi kriteria sosial ekonomi dan dijangkau oleh petugas," ujarnya.

Sebelum memulai pendidikan, para siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk mengetahui kondisi fisik dan kebutuhan pendampingan yang diperlukan.

Selain itu, mereka juga akan mendapatkan fasilitas pendidikan secara gratis, mulai dari asrama, seragam sekolah, makan tiga kali sehari, makanan tambahan, layanan kesehatan, hingga perangkat pembelajaran berbasis teknologi.

Setiap siswa akan mendapatkan laptop untuk menunjang proses belajar yang terintegrasi dengan sistem digital atau Learning Management System (LMS).*

Terbaru
Artikel Popular
politik
hukum
Nasional