|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

Jakarta — Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa menyebabkan tekanan besar pada layanan kesehatan. Rumah sakit dilaporkan kewalahan menangani lonjakan pasien akibat suhu tinggi yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Lebih dari 100 juta warga Eropa terpapar suhu di atas 35 derajat Celsius. Kondisi ini memicu ratusan kematian, termasuk di antaranya anak-anak. Sejumlah korban dilaporkan meninggal saat berupaya mendinginkan diri dari panas ekstrem.
Berdasarkan studi yang dirilis pada 26 Juni, para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama di balik gelombang panas yang memecahkan rekor suhu di sejumlah negara, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, dan Swiss. Belanda bahkan untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah akibat suhu ekstrem.
Di Prancis, lonjakan pasien membuat kapasitas rumah sakit mendekati batas maksimal. Pemerintah setempat mengambil langkah pembatasan dengan melarang penjualan dan konsumsi alkohol di ruang publik pada malam hari di Paris.
Sementara itu, meski suhu di Eropa Barat mulai menurun, kondisi panas ekstrem diperkirakan bergeser ke kawasan Eropa Timur. Sejumlah negara telah mengeluarkan peringatan dini seiring prediksi kenaikan suhu dalam beberapa hari ke depan.
Di Jerman, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius hingga akhir pekan. Dampaknya, sejumlah kegiatan luar ruangan dibatalkan, dan masyarakat diimbau membatasi perjalanan.
Layanan kesehatan di Prancis dan Inggris mencatat peningkatan signifikan pada panggilan darurat, terutama dari kelompok lansia dan penderita penyakit penyerta. Otoritas di Paris menyebut kapasitas rumah sakit telah berada di titik jenuh akibat terus bertambahnya pasien.
"Kami telah mencapai titik jenuh kapasitas rumah sakit. Jumlah pasien yang dirawat terus meningkat," kata Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, dikutip dari The Strait Times.
Pemerintah Prancis juga melaporkan peningkatan tajam kunjungan ke unit gawat darurat akibat penyakit terkait panas, termasuk lonjakan kasus henti jantung.
Sementara itu, London Ambulance Service menyatakan cuaca panas ekstrem pada 24 Juni memicu jumlah panggilan darurat yang mengancam nyawa tertinggi dalam satu hari.*