|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

Jakarta — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu kepanikan di kalangan warga Prancis. Kekhawatiran terhadap lonjakan suhu yang berpotensi membahayakan kesehatan membuat ratusan orang memadati pusat perbelanjaan dan supermarket di sekitar Paris untuk mendapatkan pendingin ruangan (AC).
Lonjakan permintaan ini bahkan memicu kericuhan di sejumlah lokasi. Warga dilaporkan saling berebut, hingga terjadi dorong-dorongan dan perkelahian akibat tingginya tekanan dan keterbatasan stok. Aparat kepolisian pun harus turun tangan untuk mengendalikan situasi di beberapa titik yang dipadati pengunjung.
Salah satu insiden terjadi di supermarket Lidl yang menawarkan AC dengan harga relatif terjangkau, yakni sekitar 179 euro atau setara Rp3,1 juta. Harga tersebut jauh di bawah kisaran normal yang bisa mencapai 1.200 euro atau sekitar Rp24 juta.
Seorang warga, Mousa Traore, mengaku telah mengantre lebih dari satu jam bersama ratusan orang lainnya di wilayah utara Paris sebelum akhirnya harus pulang tanpa hasil. “Polisi datang dan kami diberitahu bahwa stoknya sudah habis,” ujarnya, dikutip dari Channel News Asia.
Gelombang panas yang melanda Prancis belakangan ini tercatat sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah. Dampaknya terasa luas, mulai dari meningkatnya angka kematian, penuhnya instalasi gawat darurat rumah sakit, hingga penutupan sekolah dan pembatalan berbagai acara publik seperti festival musik guna menghindari risiko heat stroke.
Kondisi tersebut diperkirakan belum akan berakhir. Layanan cuaca setempat memprediksi gelombang panas lanjutan dengan intensitas serupa akan kembali terjadi dalam waktu dekat.
Secara historis, suhu musim panas di Prancis cenderung tidak terlalu ekstrem, sehingga banyak bangunan, termasuk rumah dan sekolah, tidak dilengkapi dengan sistem pendingin udara. Hal ini membuat masyarakat lebih rentan terhadap dampak kesehatan akibat suhu tinggi, seperti dehidrasi, kelelahan panas, hingga gangguan jantung.
Antrean panjang pun terlihat di sejumlah wilayah seperti Sevran dan Livry-Gargan. Kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan, sementara warga rela menunggu lama demi mendapatkan unit AC.
“Saya menyerah, ini gila. Antreannya sudah sangat panjang di tempat parkir. Ini tidak mungkin,” keluh seorang warga bernama Lolo.
Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi di tengah kuatnya kesadaran lingkungan masyarakat Prancis. Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden, sekitar 80 persen warga menganggap penggunaan AC kurang ramah lingkungan karena berkontribusi terhadap emisi karbon.
Namun, kondisi ekstrem membuat pandangan tersebut mulai berubah. Pada gelombang panas 22 Juni lalu, jaringan hypermarket Carrefour mencatat penjualan hingga 30.000 unit AC hanya dalam satu hari.
“Itu seribu kali lebih banyak daripada hari biasa,” ungkap CEO Carrefour, Alexandre Bompard.
Data dari badan lingkungan Prancis, Ademe, juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepemilikan AC rumah tangga, dari 18 persen pada 2023 menjadi 24 persen pada 2025.
Perubahan ini menegaskan bahwa di tengah krisis iklim global, pendingin udara kini tidak lagi dipandang sebagai barang mewah, melainkan kebutuhan penting untuk melindungi diri dari risiko kesehatan akibat suhu ekstrem. *