Jul 2026
16

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR

Transformasi Energi Dumai dari Fondasi Fosil Menuju Industri Rendah Karbon

Ketika Kota Kilang Menjemput Matahari
dumai | Rabu, 15 Juli 2026 | 09:18:58 WIB
Editor : Bambang | Penulis : bambang
Seorang pekerja Pertamina melakukan pengecekan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di komplek perumahan Pertamina RU II Dumai. Pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari langkah perusahaan dalam mendukung efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon.

DUMAI, 15 Juli 2026 - Kabut tipis masih menggantung di kawasan industri Kota Dumai ketika matahari perlahan muncul dari ufuk timur. Di balik deretan cerobong kilang yang selama puluhan tahun menjadi simbol denyut ekonomi kota ini, panel-panel surya mulai menangkap cahaya pagi. Pemandangan itu menjadi penanda sebuah perubahan: Dumai perlahan tidak lagi hanya bertumpu pada energi fosil, tetapi mulai menapaki jalan menuju energi yang lebih bersih.

Sulit memisahkan perjalanan Dumai dari energi. Kota di pesisir timur Sumatera ini tumbuh dari sebuah pelabuhan kecil menjadi salah satu pusat industri strategis di Indonesia. Letaknya yang menghadap Selat Malaka menjadikannya gerbang penting bagi arus perdagangan dan distribusi energi, sekaligus simpul logistik yang menghubungkan wilayah produksi dengan pasar global.

Perkembangan Dumai semakin pesat ketika industri minyak dan gas bumi berkembang. Kehadiran kilang minyak mengubah wajah kota ini menjadi salah satu pusat pengolahan energi nasional. Di sekelilingnya, kawasan industri terus bertambah, diikuti pembangunan infrastruktur pelabuhan, jaringan distribusi, pergudangan, hingga berbagai sektor pendukung yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Baca :

Tidak hanya migas, Dumai juga menjelma sebagai salah satu pusat hilirisasi kelapa sawit. Crude Palm Oil (CPO) dari berbagai daerah di Riau dan provinsi sekitarnya diolah di kawasan industri sebelum dipasarkan ke berbagai negara. Aktivitas ekspor yang berlangsung hampir sepanjang hari menjadikan pelabuhan Dumai sebagai salah satu nadi perdagangan komoditas strategis nasional.

Selama puluhan tahun, kombinasi antara industri migas, pengolahan sawit, jasa kepelabuhanan, dan logistik membentuk fondasi ekonomi Dumai. Cerobong kilang, tangki penyimpanan, kapal tanker, dan kendaraan angkut menjadi lanskap yang akrab sekaligus simbol kemajuan kota industri ini. Energi fosil dan aktivitas industri telah menggerakkan roda perekonomian, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta mengangkat Dumai menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau.

Namun, dunia kini sedang bergerak ke arah yang berbeda. Ketika negara-negara mulai berlomba menekan emisi karbon dan mempercepat penggunaan energi bersih, kota-kota industri seperti Dumai menghadapi tantangan baru: bagaimana mempertahankan perannya sebagai motor ekonomi tanpa mengabaikan tuntutan pembangunan yang lebih berkelanjutan. Dari sinilah babak baru perjalanan Dumai dimulai, sebuah transformasi dari kota yang dibangun oleh energi fosil menuju masa depan yang semakin berpihak pada energi bersih.

Jika dahulu keberhasilan sebuah kota industri diukur dari banyaknya pabrik yang berdiri, besarnya kapasitas produksi, dan tingginya nilai ekspor, kini ukurannya semakin kompleks. Dunia sedang bergerak menuju era pembangunan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Kesepakatan global untuk menekan laju perubahan iklim mendorong banyak negara menetapkan target Net Zero Emissions. Bersamaan dengan itu, standar perdagangan internasional ikut berubah. Negara-negara tujuan ekspor mulai menerapkan persyaratan yang lebih ketat terhadap produk yang masuk ke pasar mereka, mulai dari proses produksi yang ramah lingkungan, efisiensi penggunaan energi, hingga besaran emisi karbon yang dihasilkan selama rantai pasok.

Perubahan tersebut juga memengaruhi arah investasi global. Investor tidak lagi hanya menghitung potensi keuntungan, tetapi juga menilai bagaimana sebuah perusahaan mengelola dampak lingkungan, memperhatikan aspek sosial, dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau Environmental, Social, and Governance (ESG). Prinsip ini semakin menjadi acuan dalam menentukan kelayakan investasi jangka panjang, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor energi dan industri pengolahan.

Bagi Dumai, perubahan itu bukan sekadar isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebagai kota pelabuhan sekaligus pusat industri pengolahan minyak bumi dan kelapa sawit, Dumai merupakan bagian dari rantai pasok nasional maupun internasional. Produk-produk yang dihasilkan di kota ini harus mampu memenuhi standar baru yang ditetapkan pasar dunia jika ingin tetap kompetitif.

Matahari Menjadi Energi Baru Dumai

Perubahan itu mulai terlihat di lingkungan Kilang Pertamina RU II Dumai. Di tengah kompleks industri yang selama puluhan tahun identik dengan pengolahan minyak bumi, hamparan panel surya kini menjadi simbol arah baru perusahaan. Di kota yang dibangun oleh energi fosil, cahaya matahari perlahan mengambil peran sebagai bagian dari sumber energi masa depan.

Langkah tersebut bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi mencerminkan perubahan cara industri memandang keberlanjutan. Jika sebelumnya kebutuhan energi hampir sepenuhnya bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil, kini energi matahari mulai dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi emisi karbon sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Pertamina RU II Dumai, Tengku Muhammad Rum, menjelaskan bahwa perusahaan telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari komitmen menjalankan praktik industri yang lebih ramah lingkungan. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang sebesar 3,77 megawatt peak (MWp) dan mampu menghasilkan listrik harian sekitar 500 kilowatt, dengan daya puncak mencapai 3,4 MWp.

Energi yang dihasilkan kemudian diintegrasikan ke dalam sistem microgrid RU II Dumai untuk menyuplai sebagian kebutuhan listrik di Komplek Fire Camp serta kawasan perumahan Bukit Datuk. Meski baru memenuhi sekitar 1,6 persen kebutuhan listrik dari beban dasar (base load) kilang, pemanfaatan energi surya menjadi langkah awal dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang selama ini menjadi tulang punggung operasional industri.

Menurut Muhammad Rum, pengembangan PLTS juga terhubung dengan Program Substitusi Listrik RDP Bukit Datuk ke jaringan PLN. Program yang mulai dijalankan sejak 2019 itu bertujuan mengurangi beban listrik yang sebelumnya diproduksi oleh kilang melalui Steam Turbine Generator (STG).

"Program Substitusi Listrik RDP Bukit Datuk ke PLN merupakan program yang bertujuan menurunkan beban listrik yang diproduksi kilang RU II Dumai dengan mengintegrasikan sistem kelistrikan area Rumah Dinas Perusahaan (RDP) Bukit Datuk ke sumber jaringan listrik PLN. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Program ESG G20 Pertamina," jelasnya.

Melalui langkah tersebut, konsumsi bahan bakar untuk pembangkitan listrik di dalam kilang dapat ditekan. Berkurangnya penggunaan energi fosil secara langsung turut mengurangi emisi gas buang yang dihasilkan dari proses pembangkitan listrik. Bagi perusahaan, efisiensi energi tidak hanya berdampak pada operasional yang lebih efektif, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen untuk memenuhi standar industri yang semakin menekankan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

Perubahan itu juga mulai dirasakan dan diperhatikan masyarakat di sekitar kawasan industri. Hendriyanto, warga yang tinggal tidak jauh dari Komplek Pertamina RU II Dumai, mengatakan masyarakat memahami bahwa industri telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Dumai. Namun, menurutnya, pertumbuhan ekonomi juga harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

"Ketika kami mengetahui Pertamina mulai memanfaatkan energi matahari melalui PLTS, kami melihat ada kesungguhan untuk berubah. Mudah-mudahan langkah seperti ini terus diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat," ujarnya.

Bagi Rio, sapaan akrabnya, manfaat transisi energi mungkin belum langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun setiap upaya yang mampu mengurangi emisi merupakan investasi bagi masa depan kota yang telah lama hidup berdampingan dengan industri.

"Kami tentu ingin Dumai tetap maju karena banyak masyarakat bergantung pada sektor ini. Tapi kami juga ingin anak-anak tumbuh dengan lingkungan yang lebih sehat. Mungkin hasilnya belum langsung terasa, tetapi setiap langkah yang mampu mengurangi emisi adalah investasi bagi masa depan kota ini. Harapan kami sederhana, industri terus berkembang, tetapi udara, air, dan lingkungan Dumai juga semakin terjaga," katanya.

Di tengah deretan tangki penyimpanan, pipa-pipa baja, dan cerobong yang selama ini menjadi ikon Kota Dumai, keberadaan panel-panel surya menyampaikan pesan yang berbeda. Transisi energi tidak selalu dimulai dari perubahan besar yang seketika, melainkan dari langkah-langkah nyata yang menunjukkan bahwa industri minyak sekalipun dapat mulai bertransformasi menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pemerintah Menyiapkan Jalan

Transformasi menuju industri rendah karbon tidak mungkin berjalan sendiri. Upaya perusahaan memanfaatkan energi terbarukan membutuhkan dukungan kebijakan yang memberi arah sekaligus kepastian. Di Dumai, pemerintah daerah mulai menyiapkan fondasi agar perubahan tersebut tidak berhenti sebagai inisiatif masing-masing industri, melainkan menjadi bagian dari arah pembangunan kota.

Sebagai kota yang perekonomiannya masih didominasi sektor industri pengolahan, Dumai menyadari bahwa keberlanjutan pertumbuhan ekonomi akan sangat ditentukan oleh kemampuan industrinya beradaptasi dengan tuntutan global. Karena itu, pembangunan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga diarahkan agar lebih efisien dalam penggunaan energi, lebih ramah terhadap lingkungan, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Dumai, Budhi Hasnul, mengatakan transformasi ekonomi menuju industri yang lebih berkelanjutan telah menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Melalui dokumen perencanaan seperti RPJMD dan RKPD, pemerintah berupaya menyelaraskan pengembangan kawasan industri dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kebutuhan dunia usaha.

"Transisi ekonomi harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga masyarakat lokal dapat mengambil peluang dari pertumbuhan industri yang berkembang di Kota Dumai," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menciptakan iklim investasi yang sejalan dengan transformasi tersebut. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Dumai, Dona Fitri Illahi, menyebut kemudahan perizinan, kepastian layanan, dan penguatan kawasan industri terus dilakukan untuk menarik investasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung pengembangan industri yang lebih berdaya saing.

Bagi pemerintah, investasi bukan lagi sekadar soal besarnya modal yang masuk, tetapi juga tentang kualitas investasi yang mampu menghadirkan inovasi, efisiensi energi, dan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Komitmen itu diperkuat melalui berbagai kebijakan pengelolaan lingkungan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Dumai, Yuda Pratama Putra, menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan melalui pengendalian pencemaran, pengawasan terhadap aktivitas industri, pengelolaan limbah, serta pengurangan emisi.

"Dumai memiliki potensi industri yang besar. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan upaya menjaga daya dukung lingkungan. Kolaborasi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan ekonomi tetap berjalan dengan prinsip berkelanjutan," katanya.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Dumai tidak sedang memilih antara industri atau lingkungan. Kota ini sedang berupaya mempertemukan keduanya, membangun masa depan di mana pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan energi yang lebih bersih dan lingkungan yang tetap terjaga. Itulah fondasi yang tengah disiapkan untuk mewujudkan Dumai sebagai kota industri hijau.

SDM Menjadi Energi Sesungguhnya

Transformasi energi tidak akan berhasil hanya dengan panel surya atau teknologi baru. Yang paling menentukan adalah manusia yang mengoperasikannya.

Di balik setiap sistem energi yang lebih bersih, ada tenaga kerja yang harus mampu memahami teknologi, menguasai keterampilan baru, serta bekerja sesuai standar keselamatan dan keberlanjutan. Karena itu, transisi menuju industri rendah karbon bukan hanya soal investasi pada infrastruktur, tetapi juga investasi pada kualitas sumber daya manusia.

Bagi Kota Dumai, tantangan tersebut menjadi semakin penting. Sebagai kota industri, kebutuhan terhadap tenaga kerja tidak lagi sekadar mengandalkan jumlah, melainkan kompetensi. Dunia usaha kini membutuhkan pekerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami efisiensi energi, menerapkan standar keselamatan kerja, dan mendukung praktik industri yang lebih ramah lingkungan.

Wali Kota Dumai, H. Paisal, mengatakan perubahan struktur ekonomi menuntut kesiapan sumber daya manusia agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya industri, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menikmati manfaat pertumbuhan tersebut.

"Pelatihan yang dilaksanakan Disnaker Dumai diarahkan untuk membekali pencari kerja dengan kemampuan teknis, keterampilan kerja, serta kesiapan memasuki dunia industri. Program ini menjadi bagian dari upaya menciptakan tenaga kerja lokal yang lebih kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan sektor industri yang terus berkembang," ujarnya.

Menurut Paisal, industri masa depan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki disiplin, sertifikasi kompetensi, dan kemampuan mengikuti perkembangan teknologi.

"Tenaga kerja harus dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menjadi tenaga kerja yang siap pakai dan memiliki daya saing. Pelatihan kompetensi menjadi salah satu langkah penting untuk menjembatani kebutuhan industri dengan kemampuan masyarakat," katanya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program peningkatan kompetensi yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja Kota Dumai. Kepala Disnaker Dumai, Muhammad Zakir, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperluas akses pelatihan melalui Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK), pelatihan welder, sertifikasi Ahli K3 Umum (AK3U), pelatihan boiler, rope access, hingga berbagai pelatihan vokasi lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri.

Selain itu, program Mobile Training Unit (MTU) dikembangkan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan peningkatan keterampilan, sementara kegiatan Goes to School diperkenalkan kepada pelajar SMK sebagai upaya menanamkan pemahaman sejak dini mengenai dunia industri, pentingnya sertifikasi, etos kerja, dan penguasaan teknologi.

"Di tengah transisi ekonomi menuju sektor industri dan jasa bernilai tambah tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting bagi Kota Dumai. Melalui berbagai pelatihan berbasis kompetensi, kami berupaya mencetak tenaga kerja lokal yang siap pakai dan mampu memenuhi kebutuhan dunia industri," ujar Muhammad Zakir.

Pada akhirnya, panel surya dapat dipasang, teknologi dapat didatangkan, dan mesin-mesin modern dapat dioperasikan. Namun, semua itu hanya akan menjadi investasi yang tidak bernilai tanpa sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. Di tengah perjalanan Dumai menuju kota industri yang lebih hijau, manusialah energi sesungguhnya yang akan menentukan seberapa jauh transformasi itu dapat melangkah.

Energi Hijau Membawa Investasi

Perubahan menuju industri yang lebih berkelanjutan ternyata tidak hanya berbicara tentang pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Ketika dunia usaha mulai beradaptasi dengan standar lingkungan yang semakin ketat, kepercayaan investor terhadap daerah yang mampu menghadirkan ekosistem industri hijau ikut meningkat.

Bagi Dumai, transformasi menuju ekonomi rendah karbon menjadi peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan di pesisir timur Sumatera. Infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, serta pengalaman panjang dalam sektor energi menjadi modal penting untuk menarik investasi yang lebih berkualitas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Kota Dumai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masa depan ekonomi Dumai akan sangat bergantung pada kemampuan sektor industri dalam beradaptasi dengan perubahan, termasuk tuntutan penggunaan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Pertumbuhan ekonomi daerah juga tercermin dari peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku per kapita. Pada 2025, PDRB ADHB per kapita Dumai tercatat mencapai Rp171,17 juta per tahun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka Rp158,15 juta per tahun.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata tahunan PDRB ADHB per kapita Dumai mencapai 6,54 persen, lebih tinggi dibandingkan periode lima tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 3,75 persen. Peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak, didorong oleh sektor industri, perdagangan, dan jasa.

Pertumbuhan ekonomi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap Dumai. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Dumai, Dona Fitri Illahi, mengatakan realisasi investasi di Dumai terus menunjukkan tren positif, baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Pada 2023, realisasi investasi Kota Dumai mencapai Rp4,53 triliun. Nilai tersebut terdiri dari PMA sebesar Rp2,74 triliun dan PMDN sebesar Rp1,79 triliun. Setahun kemudian, nilai investasi meningkat signifikan menjadi Rp10,22 triliun, dengan kontribusi PMDN mencapai Rp7,47 triliun dan PMA sebesar Rp2,75 triliun. Perubahan komposisi investasi tersebut menunjukkan meningkatnya peran modal dalam negeri dalam memperkuat perekonomian daerah. Hingga triwulan III 2025, Dumai kembali mencatat realisasi investasi sebesar Rp3,9 triliun dan menjadi salah satu daerah dengan capaian investasi tertinggi di Provinsi Riau pada periode tersebut.

Menurut Dona, posisi Dumai sebagai kota pelabuhan internasional, keberadaan kawasan industri, serta kemudahan pelayanan investasi menjadi faktor yang memperkuat daya tarik daerah bagi pelaku usaha. Namun, keberhasilan transformasi industri tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk. Dampak yang lebih luas juga terlihat dari sisi kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui peningkatan Upah Minimum Kota (UMK).

Pada 2025, UMK Dumai ditetapkan sebesar Rp4.118.669,61 dan kembali meningkat menjadi sekitar Rp4.431.174,69 pada 2026. Kenaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pertumbuhan ekonomi daerah turut memberikan pengaruh terhadap peningkatan daya beli masyarakat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Dumai Muhammad Zakir mengatakan, kebijakan kenaikan UMK dilakukan melalui pembahasan bersama Dewan Pengupahan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi daerah, kebutuhan hidup pekerja, serta keberlangsungan dunia usaha.

"Kenaikan UMK dilakukan melalui pembahasan bersama Dewan Pengupahan dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti kondisi ekonomi, kebutuhan hidup pekerja, serta keberlangsungan dunia usaha. Kami berharap kenaikan ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Dumai," ujarnya.

Bagi Dumai, industri hijau bukan hanya tentang mengurangi jejak karbon, tetapi juga tentang menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas. Energi yang lebih bersih, investasi yang semakin kuat, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan yang sama: membangun kota industri yang tetap tumbuh tanpa meninggalkan keberlanjutan.

Menjaga Pertumbuhan, Mengurangi Emisi

Pagi kembali menyapa Kota Dumai. Di kawasan industri, aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Kapal-kapal masih bergerak membawa komoditas, mesin-mesin industri tetap beroperasi, dan kawasan pelabuhan tetap menjadi pusat pergerakan ekonomi. Namun, di balik denyut industri yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sebuah perubahan mulai tumbuh.

Dumai tidak sedang meninggalkan identitasnya sebagai kota industri. Sebaliknya, kota ini sedang berupaya membangun babak baru, ketika kekuatan industri yang selama ini menjadi fondasi ekonomi mulai diarahkan menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Perjalanan menuju ekonomi rendah karbon memang bukan langkah yang sederhana. Dibutuhkan investasi teknologi, kesiapan sumber daya manusia, kebijakan yang tepat, serta komitmen bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Panel surya di kawasan industri, pemanfaatan energi alternatif, efisiensi penggunaan energi, hingga peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi bagian dari proses panjang tersebut.

Bagi Dumai, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana mengurangi emisi, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Sebab, kota industri tidak hanya dibangun oleh pabrik, pelabuhan, dan investasi, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan masa depan mereka dari perkembangan kota ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Dumai, Yuda Pratama Putra, mengatakan pembangunan industri harus tetap berjalan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Pengendalian pencemaran, pengawasan aktivitas industri, pengelolaan limbah, serta penerapan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kualitas lingkungan.

"Dumai memiliki potensi industri yang besar. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan upaya menjaga daya dukung lingkungan. Kolaborasi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan ekonomi tetap berjalan dengan prinsip berkelanjutan," ujarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi Dumai tidak hanya akan diukur dari jumlah investasi yang masuk, kapasitas industri yang meningkat, atau pertumbuhan ekonomi yang tercatat setiap tahun. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan kota ini menciptakan keseimbangan: industri tetap berkembang, masyarakat semakin sejahtera, dan lingkungan tetap terjaga.

Suatu hari nanti, kabut yang menggantung di pelabuhan Dumai mungkin masih datang bersama embun pagi. Namun harapannya, langit kota ini tidak lagi hanya menjadi saksi perjalanan energi masa lalu, melainkan juga menjadi ruang bagi energi baru yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dari kota yang tumbuh bersama energi fosil, Dumai kini mulai menulis cerita baru: sebuah perjalanan menuju kota industri hijau, tempat pertumbuhan ekonomi dan kepedulian terhadap bumi berjalan dalam satu arah yang sama. (*)

Terbaru
otomotif
Mobil Listrik Geely EX2 Diminati Masyarakat Pekanbaru
Rabu, 15 Juli 2026 | 21:09:52 WIB
pekanbaru
Pemprov Riau Matangkan Evaluasi Pemerintah Digital 2026
Rabu, 15 Juli 2026 | 20:36:02 WIB
inhu
Persiapan Pemilu 2029, KPU Audiensi Dengan Bupati Inhu
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:17:16 WIB
dumai
Ketika Kota Kilang Menjemput Matahari
Rabu, 15 Juli 2026 | 09:18:58 WIB
sportainment
Bungkam Prancis, Spanyol ke Final Piala Dunia 2026
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:10:43 WIB
pekanbaru
Minta Maaf, Travel Umrah Detofa Janji Kembalikan Uang Jemaah Bertahap
Selasa, 14 Juli 2026 | 22:13:14 WIB
Artikel Popular
politik
Legislator Dorong Meranti Masuk RUU Daerah...
Kamis, 9 Juli 2026 | 20:30:06 WIB
hukum
Nasional
Layanan BPJS Kesehatan Jangkau Penduduk Daerah...
Senin, 13 Juli 2026 | 20:16:32 WIB