|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap Indonesia masih kekurangan ribuan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP). Di tengah masifnya distribusi alat laboratorium kateterisasi (cath lab) ke berbagai daerah, keterbatasan tenaga ahli dinilai menjadi tantangan terbesar agar layanan jantung dapat berjalan optimal.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah kini tengah mempercepat pemenuhan dokter spesialis jantung, khususnya yang memiliki kompetensi kardiologi intervensi. Langkah dilakukan agar alat kesehatan berteknologi tinggi yang telah dipasang di berbagai rumah sakit bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menangani pasien serangan jantung.
"Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya," kata Menkes Budi saat menghadiri Konvokasi dan Inaugurasi PERKI 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7).
Berdasarkan data Kemenkes, jumlah dokter SpJP dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam enam tahun terakhir. Pada 2020, Indonesia hanya memiliki 99 dokter dengan kompetensi tersebut. Angka itu kini bertambah menjadi 414 dokter pada 2026 atau meningkat sebanyak 315 orang.
Menkes Budi menyebut percepatan pemenuhan dokter spesialis jantung menjadi salah satu yang tercepat dibandingkan kelompok dokter spesialis lainnya.
Meski begitu, kebutuhan dokter jantung di Indonesia masih jauh dari terpenuhi. Berdasarkan proyeksi Kemenkes pada 2026, Indonesia membutuhkan sekitar 6.801 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Namun, jumlah yang tersedia saat ini baru mencapai 1.639 dokter sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 5.162 dokter.
Tak hanya jumlah yang masih minim, distribusi dokter jantung juga belum merata. *