Sep 2026
24

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Mengapa Pasien Kanker RI Banyak Berobat ke Luar Negeri
etalase | Kamis, 24 September 2026 | 07:30:41 WIB
Editor : wislysusanto | Penulis : detik.com
ilustrasi

JAKARTA - Keputusan pasien Indonesia untuk mencari pelayanan kesehatan di luar negeri masih menjadi tren berkelanjutan. Fenomena berobat ke luar negeri ini sejalan dengan temuan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Berdasarkan data tersebut, Malaysia menjadi negara yang paling banyak dituju warga Indonesia untuk mendapatkan pelayanan medis, disusul Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Korea Selatan.

Konsultan senior onkologi medis Singapura, Dr Kevin Tay, mengungkapkan bahwa persoalan utama pasien kanker yang berobat ke luar negeri bukan terletak pada kompetensi dokter, melainkan ketersediaan serta kecepatan akses terhadap obat-obatan kanker generasi terbaru.

Dr Kevin menilai, fasilitas kesehatan di luar negeri kerap kali mendapatkan persetujuan dan akses distribusi obat secara lebih cepat untuk terapi-terapi kanker modern.

Baca :

"Saya pikir masalahnya bukan di dokter, tapi juga di akses ke pengobatan baru. Jadi akses ke pengobatan baru itu lebih cepat di Singapura," ujar Dr Kevin saat dijumpai di Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Sebagai contoh, ia menyebutkan salah satu jenis terapi obat untuk penanganan kanker pankreas yang baru saja mendapatkan persetujuan dari otoritas pengawas obat Amerika Serikat (FDA) pada Agustus 2026, kini sudah dapat diakses oleh pasien di Singapura dalam waktu dekat.

Lebih lanjut, Dr Kevin menekankan bahwa penanganan kanker saat ini sangat dinamis dan bersifat personal bagi setiap individu (personalized therapy). Setiap pasien memiliki kondisi medis serta profil mutasi sel kanker yang berbeda-beda, sehingga penanganannya tidak bisa disatratakan.

Ada pasien yang memang membutuhkan kemoterapi, ada yang bisa menggunakan terapi target, radiasi, maupun kombinasi dari metode-metode tersebut.

"Mutasi kanker punya obat berbeda dan dispesifikasi berdasarkan mutasinya. Kankernya mungkin sama tapi penanganannya beda. Di sinilah muncul terapi target untuk kanker," jelas Dr Kevin.

Penerapan modalitas terapi yang tepat, apakah itu kemoterapi, radiasi, atau terapi target, sangat bergantung pada ketepatan diagnosis di tahap awal pemeriksaan. Kevin mencontohkan kasus kanker paru akibat mutasi gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR).

"Contoh pada kanker paru, paling banyak EGFR mutation. Kalau ada obat target, bisa menyasar mutasi itu saja. Beda jenis mutasi, ada obat tertentu dan spesifik. Jadi penting banget menegakkan diagnosis di awal jadi obatnya bisa tepat," pungkas Dr Kevin.*

Terbaru
sportainment
Comeback Lawan China, Indonesia Rebut Emas Bulu Tangkis Beregu Putra
Kamis, 24 September 2026 | 20:20:44 WIB
pekanbaru
Pemprov Riau Percepat Imunisasi, Kejar 31.909 Anak Berisiko Zero Dose
Kamis, 24 September 2026 | 19:30:21 WIB
inhu
200 Peserta ikuti Rakor Dewan Pendidikan Inhu
Kamis, 24 September 2026 | 17:33:50 WIB
etalase
Sumur RECO#4 Berproduksi 1.528 BOPD, PHR Optimalkan Kembali Lapangan Idle
Kamis, 24 September 2026 | 13:57:39 WIB
sportainment
Asian Games 2026, China Sudah Tembus 100 Medali
Kamis, 24 September 2026 | 13:37:07 WIB
pekanbaru
Tersisa 451 Titik Panas di Sumatera, Riau 6 Titik
Kamis, 24 September 2026 | 09:44:47 WIB
etalase
Mengapa Pasien Kanker RI Banyak Berobat ke Luar Negeri
Kamis, 24 September 2026 | 07:30:41 WIB
Artikel Popular
2
4
politik
Koalisi Masyarakat Sipil Kunjungi Fraksi NasDem DPRD...
Senin, 14 September 2026 | 20:15:34 WIB
hukum
Nasional
DJP Catat Penerimaan Pajak Ekonomi Digital Rp57,23...
Jumat, 18 September 2026 | 11:46:37 WIB