|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

PEKANBARU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Riau mencapai 23.144 kunjungan pada Agustus 2026, atau naik 3,08 persen dibandingkan Juli 2026. Peningkatan kunjungan wisatawan asing melalui pintu imigrasi dan jaringan seluler ini dibarengi dengan capaian Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Riau sebesar 49,99 persen.
Total kunjungan tersebut merupakan gabungan dari pendataan melalui empat pintu masuk imigrasi utama dan metode Mobile Positioning Data (MPD). Penambahan jumlah wisman ini didominasi oleh wisatawan asal Malaysia yang menyumbang hampir separuh dari total kunjungan.
“Pada Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tercatat datang ke Provinsi Riau melalui empat pintu utama masuk imigrasi mencapai 6.849 kunjungan,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Riau, Fitri Hariyanti, Kamis (1/10/2026).
Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menjadi pintu imigrasi penerima wisman terbanyak, yakni mencapai 3.748 kunjungan. Sisanya masuk melalui Pelabuhan Dumai sebanyak 1.273 kunjungan, Pelabuhan Bengkalis 1.119 kunjungan, dan Pelabuhan Tanjung Harapan Meranti 709 kunjungan.
Adapun pencatatan berbasis MPD di wilayah Kabupaten Bengkalis merekam sebanyak 16.295 kunjungan wisman. Secara keseluruhan, total 23.144 kunjungan pada Agustus 2026 mengalami pertumbuhan dari bulan sebelumnya yang berjumlah 22.452 kunjungan.
Kendati tumbuh secara bulanan, total kunjungan wisman pada Agustus 2026 tercatat turun 10,51 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Komposisi asal wisman masih dipimpin warga Malaysia sebesar 47,27 persen, disusul Tiongkok 8,12 persen, Filipina 5,69 persen, dan India 4,08 persen.
Pergerakan wisatawan asing tersebut turut memengaruhi kinerja sektor jasa akomodasi di Provinsi Riau selama Agustus 2026. BPS Riau mengukur produktivitas hotel melalui indikator TPK dan rata-rata lama menginap para tamu.
“TPK merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha jasa akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar laku terjual,” kata Fitri Hariyanti.*