Okt 2026
28

POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
Di Balik Canting: Kisah Putri Tujuh dan Mimpi yang Terus Bertumbuh
dumai | Minggu, 25 Oktober 2026 | 07:33:23 WIB
Editor : Bambang | Penulis : Bambang
Seorang perajin memeriksa hasil batik untuk memastikan kualitas motif dan kerapian warna, sekaligus menjaga nilai seni dan warisan budaya yang terinspirasi dari legenda Putri Tujuh.

Dari tangan 15 perempuan di sebuah galeri sederhana di Dumai, legenda Melayu menemukan bentuk baru. Melalui Batik Putri Tujuh, warisan budaya dirawat, keterampilan ditumbuhkan, dan peluang ekonomi dibuka. Dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pemberdayaan masyarakat turut menguatkan langkah mereka, dari belajar membatik hingga berani menatap masa depan.

DUMAI — Selembar kain putih terbentang di hadapan Eva Gurnatul Martia. Di tangannya, canting bergerak perlahan, mengikuti garis motif yang telah dirancang. Lelehan malam menempel di permukaan kain, membentuk pola yang kelak muncul sebagai bagian dari identitas Kota Dumai.

Tidak ada yang bisa dikerjakan dengan tergesa-gesa. Satu garis yang melenceng dapat mengubah bentuk motif. Pewarnaan yang tidak tepat bisa memengaruhi hasil akhir. Bahkan setelah seluruh pola selesai digambar, perjalanan kain itu masih panjang: dikeringkan, dikunci warnanya, dicuci, dilorot untuk melepaskan malam, lalu direndam dan dijemur kembali.

Baca :

Di ruang produksi Galeri Batik Dumai, Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, ketelitian seperti itu menjadi bagian dari keseharian 15 perempuan yang menekuni batik khas daerah mereka.

Bagi mereka, kain yang dihasilkan bukan sekadar bahan untuk dijadikan pakaian. Di dalamnya ada cerita tentang tanah Melayu, ada identitas kota pesisir, dan ada harapan agar keterampilan yang sedang mereka bangun dapat memberi arti bagi kehidupan keluarga.

Ada pula legenda yang menjadi sumber inspirasinya: Putri Tujuh, kisah yang telah lama hidup dalam ingatan masyarakat Dumai.

Kini, cerita yang dahulu diwariskan melalui tutur kata itu menemukan cara baru untuk dikenang. Ia hadir dalam motif Periuk Beruk, Bunga Tanjung, Kapal Lancang Kuning, serta berbagai ornamen yang mengambil inspirasi dari alam dan kebudayaan Melayu.

Di balik setiap goresan canting, ada upaya menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Dan di balik upaya itu, ada perjalanan panjang sekelompok perempuan yang dahulu bahkan belum mengenal teknik membatik.

Sebuah pertanyaan yang tumbuh menjadi gagasan

Perjalanan Batik Dumai bermula dari sebuah pertanyaan sederhana pada 2021: mengapa kota yang memiliki kekayaan sejarah dan legenda sendiri belum mempunyai batik khas yang dikembangkan secara terstruktur?

Pertanyaan itu muncul ketika Hj. Leni Rahmaini Paisal, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Dumai, menghadiri Rapat Kerja Daerah PKK tingkat Provinsi Riau di Pekanbaru.

Dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan 12 kabupaten dan kota tersebut, masing-masing daerah memperkenalkan batik unggulannya. Di antara berbagai motif yang dipamerkan, Leni melihat bahwa batik bukan hanya produk kerajinan. Ia juga dapat menjadi penanda identitas dan kebanggaan suatu daerah.

Dumai sebenarnya telah memiliki batik bakau karya Datuk Darwis yang dikenal masyarakat. Namun, Leni melihat peluang untuk mengembangkan batik khas Dumai melalui gerakan pemberdayaan yang lebih terarah, terutama dalam bidang sandang yang menjadi bagian dari program PKK.

Gagasan itu kemudian dibicarakan bersama Ketua TP PKK Provinsi Riau saat itu, Misnarni. Sepulang dari Pekanbaru, Leni mengajak sekretaris dan para ketua kelompok kerja TP PKK Kota Dumai untuk mendiskusikan kemungkinan mewujudkannya.

Dari pembicaraan yang semula berlangsung santai, muncul pilihan yang kemudian menjadi fondasi pengembangan batik tersebut: legenda Putri Tujuh.

“Waktu di Pekanbaru itu masih bincang-bincang santai atau bual-bual. Akhirnya saya bilang, kita punya sejarah tentang legenda Putri Tujuh. Nah, diangkatlah nama Batik Putri Tujuh,” kenang Leni.

Usulan itu sempat menimbulkan pertanyaan. Apakah Batik Putri Tujuh hanya akan menggambarkan tujuh putri dalam legenda?

Bagi Leni, justru sebaliknya. Legenda tersebut merupakan pintu masuk untuk menceritakan kekayaan Dumai yang lebih luas.

“Dari cerita Putri Tujuh banyak yang bisa kita ambil. Ada bakaunya, hamparan sungainya, rumah adat Melayunya, termasuk Bunga Tanjung. Dalam perjalanan cerita itu, banyak sekali unsur yang bisa kita angkat menjadi motif,” jelasnya.

Dengan cara pandang itu, Batik Putri Tujuh tidak berhenti sebagai ilustrasi cerita rakyat. Nama tersebut menjadi payung bagi pengembangan motif yang menghubungkan sejarah, alam, dan kebudayaan Melayu.

Namun, sebuah gagasan tentang identitas daerah tidak akan berarti banyak apabila hanya berhenti dalam ruang rapat. Batik membutuhkan motif yang dirancang, tangan yang terampil, bahan yang memadai, dan orang-orang yang bersedia mengerjakannya.

Di sinilah perjalanan panjang itu benar-benar dimulai.

Dari belajar mencanting hingga menghasilkan karya

Mewujudkan Batik Dumai bukan pekerjaan sekali jadi. Setelah gagasan terbentuk, Leni berupaya mencari dukungan agar pelatihan membatik dapat dilaksanakan. Rencana yang semula diupayakan masuk dalam APBD Perubahan 2022 belum dapat terealisasi sesuai harapan.

Upaya itu kemudian berlanjut melalui Dinas Pendidikan Kota Dumai, khususnya bidang kebudayaan, dengan penyelenggaraan lomba desain motif batik khas Dumai pada 2023.

Sejumlah motif terpilih, antara lain Periuk Beruk dengan Bunga Tanjung, Sunting Putri, Bunga Tanjung yang dipadukan dengan unsur Bunga Nipah, serta motif bakau. Hasil lomba tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan desain yang merepresentasikan karakter daerah.

Tahap berikutnya adalah menyiapkan orang-orang yang mampu menerjemahkan desain itu menjadi kain batik.

Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Dumai, pelatihan membatik mulai disiapkan dengan menghadirkan instruktur dari Yogyakarta. Para calon perajin belajar mengenali alat dan bahan, menggambar motif, menggunakan canting, serta memahami tahapan pewarnaan.

Sebagian besar perempuan yang kemudian bergabung dalam Galeri Batik Dumai merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman membatik.

Bagi mereka, canting bukan alat yang langsung akrab di tangan. Ada teknik yang harus dipahami, gerakan yang harus dibiasakan, dan kesabaran yang harus dilatih.

Malam harus mengalir mengikuti pola. Warna harus diaplikasikan dengan cermat. Setiap tahapan menuntut ketelitian karena hasil akhirnya tidak hanya dinilai dari keindahan motif, tetapi juga dari kualitas kain.

Proses tersebut menjadi semakin penting ketika batik mulai diarahkan untuk memenuhi pesanan.

Pada 2024, Batik Putri Tujuh diperkenalkan dalam kegiatan yang lebih luas. Ketika Dumai mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran di Kabupaten Bengkalis, para anggota kafilah Dumai mengenakan seragam batik tersebut.

Bagi para penggeraknya, momen itu memiliki arti tersendiri. Kain yang sebelumnya masih dalam tahap pengembangan mulai dikenakan dalam kegiatan resmi, membawa motif khas Dumai ke hadapan masyarakat yang lebih luas.

“Alhamdulillah, walaupun keterampilan kami masih dalam tahap belajar dan baru pertama kali, hasilnya kami rasa sudah memuaskan. Kafilah Dumai akhirnya mengenakan Batik Putri Tujuh,” ujar Leni.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Batik Dumai. Para perajin mulai melihat bahwa hasil belajar mereka dapat digunakan, diperkenalkan, dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai.

Tetapi, kemampuan membuat batik saja belum cukup. Mereka juga membutuhkan pendampingan agar kualitas tetap terjaga, peralatan produksi memadai, dan pesanan dapat dipenuhi secara konsisten.

Di tengah kebutuhan itulah, dukungan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir sebagai bagian dari perjalanan mereka.

Ketika pendampingan memberi ruang untuk bertumbuh

Bagi usaha kerajinan yang sedang berkembang, tantangan tidak berakhir ketika seseorang berhasil membuat produk pertamanya. Justru setelah itu, muncul kebutuhan baru: bagaimana menjaga mutu, meningkatkan kapasitas produksi, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Melalui program Community Involvement and Development (CID), PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendukung pengembangan Batik Dumai sejak 2024. Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat keterampilan para perajin sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sarana produksi.

Officer CID PT PHR Zona Rokan Selatan, R. Muhammad Wildan, menjelaskan bahwa program dimulai dengan asesmen untuk mengetahui kebutuhan dan kemampuan calon perajin. Setelah itu, pelatihan dasar diberikan dengan mendatangkan instruktur dari Yogyakarta, terutama untuk memperdalam teknik pewarnaan dan penguncian warna.

“Pada 2024, kami memulai dengan asesmen dan pelatihan batik dasar yang mendatangkan pelatih dari Yogyakarta, terutama untuk pewarnaan dan penguncian warna. Dari hasil pendampingan tersebut, aktivitas Batik Dumai mulai berjalan dengan pola-pola yang disesuaikan dengan karakteristik Kota Dumai,” jelas Wildan, Jumat (16/10/2026).

Pendampingan kemudian berkembang mengikuti kebutuhan para perajin.

Pada 2024, dukungan mencakup bahan kain, pewarna, malam, peralatan, dan meja untuk mendukung kegiatan membatik. Setahun berikutnya, bantuan sarana dan prasarana dilanjutkan, antara lain melalui penyediaan gawangan, kanopi untuk tempat menjemur kain, alas pewarnaan, kompor listrik, canting, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Bagi orang yang tidak berkecimpung dalam kerajinan batik, perlengkapan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi perajin, ketersediaan alat yang sesuai dapat membantu pekerjaan berjalan lebih teratur, memperlancar proses produksi, dan mengurangi hambatan dalam menyelesaikan pesanan.

Kanopi untuk menjemur kain, misalnya, membantu mengurangi gangguan cuaca. Sementara itu, penambahan perlengkapan produksi memberi kesempatan kepada para perajin untuk bekerja dengan sarana yang lebih memadai.

“Pada 2025, kami melanjutkan bantuan sarana dan prasarana, termasuk gawangan dan kanopi untuk tempat menjemur kain agar proses penjemuran tidak terlalu terganggu cuaca. Ternyata, produksi Batik Dumai sangat diminati masyarakat dan pesanan juga cukup banyak. Karena itu, diperlukan dukungan agar produksi bisa berjalan lebih cepat dengan kualitas yang tetap terjaga,” kata Wildan.

Pendampingan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat bukan sekadar memberikan bantuan, lalu membiarkan penerimanya berjalan sendiri. Kebutuhan harus dikenali, keterampilan dibangun, dan sarana disesuaikan dengan perkembangan kegiatan.

Bagi para perajin, dukungan itu membuka ruang untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan. Bagi Batik Dumai, pendampingan menjadi bagian dari upaya menyiapkan fondasi agar produksi dapat berkembang secara bertahap.

Pada September 2026, proses tersebut berlanjut melalui pelatihan batik tingkat menengah. Para perajin kembali mendapatkan pendalaman teknik pewarnaan, pengembangan motif, serta kombinasi teknik batik cap dan batik tulis.

“Pada 2026, kami kembali melakukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan batik tingkat menengah. Pelatih dari Yogyakarta didatangkan untuk membantu meningkatkan kualitas pewarnaan dan mengembangkan motif, termasuk melalui kombinasi teknik cap dan tulis serta pengembangan kombinasi warna,” ungkap Wildan.

Bagi Leni, kesempatan belajar kembali menjadi kebutuhan penting. Para perajin tidak ingin berhenti pada keterampilan yang telah mereka kuasai, tetapi terus mencari cara agar kualitas batik semakin baik.

“Baru-baru ini, pada 2026, kami kembali mendapatkan pelatihan lanjutan terkait pewarnaan supaya warnanya lebih bagus lagi. Kami memang ingin terus meningkatkan kualitas batik yang dihasilkan,” katanya.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa keterampilan tidak tumbuh dalam satu kali pelatihan. Ia berkembang melalui praktik, evaluasi, dan kesempatan untuk mempelajari teknik baru.

Kualitas lahir dari kesabaran

Di ruang produksi, Eva Gurnatul Martia memahami bahwa setiap kain mempunyai perjalanan panjang sebelum siap diserahkan kepada pemesan.

Sebagai koordinator lapangan Batik Dumai, ia turut menangani penerimaan pesanan, pengadaan bahan, dan koordinasi dengan PHR. Ia memastikan kebutuhan produksi tersedia serta pekerjaan para perajin berjalan sesuai tahapan.

Salah satu ciri yang diterapkan pada setiap kain adalah pencantuman logo Dumai. Dengan begitu, kain yang dihasilkan tidak hanya membawa motif khas daerah, tetapi juga memperlihatkan identitas kota asalnya.

“Dalam setiap batik itu harus ada logo Dumainya,” kata Eva.

Setelah motif dan pewarnaan selesai, kain harus melalui proses pengeringan sebelum memasuki tahap penguncian warna menggunakan waterglass. Proses penguncian berlangsung sekitar tiga jam. Sesudahnya, kain dicuci dan dilorot, yaitu direbus untuk melepaskan malam yang masih menempel.

Kain kemudian dicuci kembali, direndam semalaman, lalu dijemur pada pagi berikutnya. Setiap tahap mempunyai fungsi tersendiri untuk membantu menghasilkan kain dengan warna dan kualitas yang diharapkan.

“Setelah kering, kain di-waterglass untuk mengunci warna agar tidak luntur. Setelah sekitar tiga jam, baru dicuci, kemudian dilorot atau dimasak supaya malamnya terlepas. Setelah itu dicuci dua kali dan direndam semalaman. Gunanya supaya warna yang masih luntur terlepas di situ. Besok paginya baru dijemur,” jelas Eva.

Rangkaian tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas batik tidak hanya ditentukan oleh keindahan motif. Ketahanan warna juga bergantung pada ketepatan proses pengerjaan.

Bagi Eva dan para perajin lainnya, kepuasan tidak semata-mata datang ketika kain selesai dibuat. Ada kebanggaan ketika hasil pekerjaan mereka dapat digunakan dengan baik dan memenuhi harapan pemesan.

“Alhamdulillah, batik yang kami buat ini tidak luntur. Istimewanya, ini tidak digosok tapi tetap licin,” ungkapnya.

Di balik pernyataan sederhana itu, ada proses yang menuntut kesabaran. Para perajin harus memahami bahan, menguasai tahapan kerja, dan memastikan setiap kain mendapatkan penanganan yang tepat.

Pekerjaan membatik pun menjadi ruang belajar yang berlangsung setiap hari. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin besar pula kesempatan untuk memperbaiki kualitas hasil produksi.

Dari ruang produksi menuju pasar yang lebih luas

Seiring meningkatnya kemampuan, Batik Dumai mulai diperkenalkan melalui berbagai kegiatan dan pemesanan.

Menurut Leni, PHR turut membantu memperkenalkan produk dengan melakukan pemesanan untuk sejumlah kegiatan. TP PKK Kota Dumai juga memesan batik secara mandiri, sementara pemakaian dalam kegiatan resmi dan peragaan busana membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal motif khas tersebut.

“Setiap ada kegiatan, PHR memesan batik. Kami di PKK juga berusaha memesan secara mandiri untuk kegiatan-kegiatan PKK. Kemudian ada kegiatan fashion show, dan orang tua peserta dari Dumai juga bersedia menggunakan Batik Dumai dengan biaya sendiri,” ungkap Leni.

Pemesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah daerah, aparatur sipil negara, TNI dan Polri, hingga perusahaan. Produk Batik Dumai juga menyasar BUMN, BUMD, dan komunitas seni serta budaya.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa pasar batik dapat tumbuh melalui penggunaan nyata. Ketika kain dikenakan dalam kegiatan sehari-hari maupun acara resmi, motifnya memperoleh kesempatan untuk dikenal oleh lebih banyak orang.

Leni memperkirakan produksi Batik Dumai yang telah dihasilkan hingga saat ini mencapai sekitar 3.000 lembar kain.

“Kalau nilai produksi sampai saat ini, saya rasa mungkin sudah lebih kurang 3.000-an,” katanya.

Di luar jumlah produksi, perjalanan Batik Dumai juga mulai menjangkau panggung yang lebih luas. Karya para perajin telah diperkenalkan melalui Fashion Fest International Awards 2025 dan Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand.

Kehadiran di ajang tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan motif khas Dumai kepada khalayak di luar daerah, bahkan di luar Indonesia.

Bagi para perajin, setiap kesempatan semacam itu merupakan hasil dari proses yang berlangsung jauh dari panggung: belajar menggambar, memperbaiki teknik pewarnaan, memastikan kualitas kain, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan.

Pengembangan produk juga membuka peluang untuk memperluas pemanfaatan batik, tidak hanya sebagai lembaran kain, tetapi juga sebagai bahan busana dan produk kerajinan lainnya. Namun, agar peluang tersebut dapat berkembang, para perajin tetap membutuhkan kemampuan produksi yang konsisten serta akses pasar yang berkelanjutan.

Karena itu, pertumbuhan Batik Dumai tidak cukup diukur dari banyaknya kain yang dihasilkan. Kemampuan kelompok untuk mengelola pesanan, mempertahankan mutu, dan membangun kegiatan usaha dalam jangka panjang menjadi bagian penting dari perjalanan berikutnya.

Mimpi yang tidak boleh berhenti

Di tengah perkembangan tersebut, Leni memikirkan satu hal yang lebih jauh daripada jumlah pesanan dan ragam motif: keberlanjutan Batik Dumai.

Ia menyadari bahwa program yang tumbuh bersama dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak membutuhkan fondasi yang lebih kuat agar tidak berhenti ketika kepemimpinan berganti.

Saat ini, Galeri Batik Dumai sedang berupaya mencari tempat baru yang dapat menjadi ruang pengembangan kegiatan membatik ke depan.

“Kami secara pribadi dan atas nama Galeri Batik Dumai sedang mencoba mencari tempat untuk perpindahan batik ini ke depannya. Kenapa? Karena kami tidak mau batik ini nanti habis pimpinan kepala daerah, habis pula batiknya,” tegas Leni.

Kekhawatiran itu berangkat dari keinginannya agar keterampilan yang telah dibangun tidak bergantung pada satu periode kepemimpinan atau satu bentuk dukungan saja.

“Kita tidak tahu siapa pimpinan berikutnya yang akan diberi amanah untuk memimpin Kota Dumai. Belum tentu juga nanti pemimpin berikutnya bersedia melanjutkan program ini. Karena itu, saya sudah berkomitmen bersama anggota Galeri Batik Dumai untuk mencoba mencari tempat,” katanya.

Bagi Leni, galeri yang lebih berkelanjutan kelak bukan hanya tempat memajang kain. Ia membayangkan ruang yang dapat digunakan untuk produksi, menerima pesanan, memperkenalkan batik kepada pengunjung, sekaligus menjadi tempat belajar bagi masyarakat yang ingin menekuni keterampilan tersebut.

Setelah lokasi yang sesuai ditemukan, ia berharap dapat menjajaki kemungkinan dukungan PHR untuk pembangunan fasilitas galeri.

“Kalau kita sudah mendapatkan tempatnya, baik melalui pembelian tanah maupun cara lainnya, mungkin nanti kita akan mencoba melihat bagaimana dukungan dari PHR untuk bangunan galeri batiknya. Bangunannya mungkin tidak harus permanen, tetapi memang bisa difungsikan untuk kegiatan galeri batik ini ke depannya,” ujarnya.

Harapan itu memperlihatkan bahwa perjalanan Batik Dumai belum selesai. Pelatihan, sarana produksi, dan pemasaran telah menjadi bagian dari langkah yang ditempuh. Kini, keberlanjutan ruang kerja dan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk terlibat menjadi bagian dari cita-cita berikutnya.

Di sisi lain, keterbukaan pengembangan motif juga menjadi peluang untuk memperluas gerakan tersebut. Leni menjelaskan bahwa motif yang telah didaftarkan untuk perlindungan kekayaan intelektual diperuntukkan bagi Pemerintah Kota Dumai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan usaha batik oleh masyarakat.

Ia berharap Batik Dumai tidak hanya berkembang sebagai produk satu kelompok, melainkan menjadi identitas bersama yang dapat diperkenalkan dan dikembangkan oleh lebih banyak pelaku usaha.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menyimpan cerita masa lalu. Ia dapat hidup melalui keterampilan yang diwariskan, produk yang digunakan, dan peluang usaha yang tumbuh di tengah masyarakat.

Warisan yang terus bergerak

Legenda Putri Tujuh telah melewati banyak generasi. Ceritanya bertahan karena masyarakat terus mengingat dan mewariskannya. Kini, di Dumai, kisah tersebut memperoleh ruang baru melalui kain yang dikerjakan dengan tangan.

Di Galeri Batik Dumai, 15 perempuan terus mengasah keterampilan yang dahulu belum mereka miliki. Mereka belajar memahami karakter warna, menjaga ketepatan motif, dan menyelesaikan setiap tahapan produksi. Mereka juga belajar menghadapi kebutuhan pasar, memenuhi pesanan, dan meningkatkan kualitas karya.

Dukungan PHR melalui program CID menjadi salah satu bagian dari perjalanan itu: dimulai dengan asesmen dan pelatihan dasar pada 2024, dilanjutkan dengan penguatan sarana produksi pada 2025, kemudian peningkatan keterampilan melalui pelatihan lanjutan pada 2026.

Namun, keberlanjutan Batik Dumai tidak hanya ditentukan oleh dukungan yang datang dari luar. Ia juga bergantung pada kemauan para perajin untuk terus belajar, kemampuan mengelola usaha, kesempatan menjangkau pasar, serta tersedianya ruang agar kegiatan membatik dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Di sanalah makna pemberdayaan menemukan bentuknya. Bukan sekadar membantu seseorang menghasilkan sebuah produk, melainkan membuka kesempatan agar keterampilan itu tumbuh menjadi kemampuan yang dapat diandalkan.

Pada akhirnya, sehelai Batik Putri Tujuh membawa lebih dari sekadar corak. Ada ingatan tentang legenda, kekayaan alam Melayu, dan identitas sebuah kota pesisir. Ada pula kerja keras perempuan-perempuan yang sedang membangun keterampilan dan menumbuhkan harapan melalui tangan mereka sendiri.

Ketika canting kembali menyentuh kain, cerita itu pun berlanjut. Garis demi garis menghidupkan motif, warna memberi kedalaman, dan setiap tahapan membawa kain semakin dekat pada bentuk akhirnya.

Di balik canting, ada kisah Putri Tujuh yang terus dikenang. Ada 15 perempuan yang terus belajar. Dan ada mimpi yang belum selesai: menjadikan Batik Dumai bukan hanya kebanggaan hari ini, melainkan warisan yang tetap hidup dan membuka peluang bagi generasi mendatang. (*)

Terbaru
Artikel Popular
politik
RBN Riau Disambut Antusias, 1.169 Siswa...
Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:27:56 WIB
hukum
Nasional
2.458 Penerbangan Terdampak Asap...
Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:42:55 WIB