|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

'Di mana ada kemauan, di situ ada jalan' bukan sekedar kata-kata bijak pemanis bibir, namun menjadi kompas hidup bagi siapa saja yang ingin meraih mimpi di tengah himpitan ekonomi. Kalimat yang menggambarkan kesuksesan milik siapa saja yang mau berusaha. Sesulit apa pun rintangan yang dihadapi.
DURI, Riau - Siang itu, udara terasa sangat gerah. Sinar matahari turun bersama kepulan asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sudah dua bulan jerebu mengepung Sumatra. Di bawah alam yang menyesakkan itu, para pekerja di atas Rig bergerak cekatan, tangan-tangan mereka mencengkram pipa besi untuk memastikan mata bor terus membelah bumi tanpa hambatan di kedalaman 800 feet.
Pekerja minyak di Rig PDSI #58.1/PD350 Duri Steam Fluid, Kabupaten Bengkalis, Riau, bukan berasal dari tempat yang jauh. Ada anak kampung yang tinggal di ring satu perusahaan Minyak Bumi dan Gas (Migas). Anak itu bernama Ramadhan Wirandi, berusia 24 tahun sebagai floorman magang. Tinggal di RT 01/RW 02, Jalan Yos Sudarso KM 26 Kelurahan Minas Jaya, Kecamatan Minas. Kelurahan yang berjarak lebih dua jam perjalanan darat menuju ibu kota Kabupaten Siak.
Dulu, Randi, sapaan akrabnya, hanya bisa menjadi penonton dari balik pagar kawat berduri pembatas area kerja Pertamina. Menatap pipa-pipa minyak dan truk-truk tangki berukuran raksasa. Memandang pompa angguk minyak yang bergerak naik-turun tanpa lelah.
"Waktu kecil, bermimpi mendekati Rig pun saya tak pernah, apalagi menyentuhnya. Rasanya tidak mungkin," kata Randi membuka pembicaraan dengan metroriau.com, akhir September 2026.
Takdir punya cara sendiri untuk menjemput mereka yang gigih. Kini, Randi berada di dalam area terlarang bagi masyarakat umum tersebut. Menggunakan helm keselamatan dan wearpack biru bertuliskan Pertamina Drilling, Randi menjadi ujung tombak alat-alat berat di Rig pengeboran minyak itu.
Pekerjaan yang bukan lagi sekadar impian, melainkan rutinitas yang berhasil ditaklukkan. "Lantai besi Rig yang jauh dari kebisingan kota sudah menjadi rumah kedua bagi saya. Tempat menggantungkan mimpi," ungkapnya.
Namun untuk sampai ke titik ini, Randi harus menembus ketatnya seleksi. Layaknya memasukkan jarum ke lubang yang super kecil, prosesnya butuh perjuangan, cucuran keringat, tekad yang kuat serta kekuatan yang mampu menembus langit, yaitu doa kedua orang tua.
Berawal dari Grup WA
Sambil menunjuk ke Rig pengeboran minyak yang menjulang tinggi puluhan meter dihadapan kami, Randi mengingat kembali memori lama saat bertaruh nasib di ketatnya persaingan masuk industri Migas.
Berawal dari pengumuman di grup WhatsApp (WA) warga tempat tinggalnya. Sebuah notifikasi singkat di layar ponsel pintar membawa sebuah pesan yang mengubah arah hidup. Pengumuman program Vokasi Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) tahun 2025 yang dijalankan lewat Universitas Muhammadiyah Riau. Sebuah tiket emas untuk menata ulang masa depannya.
Dengan penuh kepercayaan, Randi melamar tanpa koneksi orang dalam. Hanya berbekal ilmu dan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah setempat yang menjadi saksi latar belakang ekonominya.

Randi sudah membayangkan masuk industri Migas bukan semudah membalikkan telapak tangan. Tidak ada karpet merah untuk masuk ke industri ini. Semua peserta harus bertarung dari awal lewat sistem seleksi yang berlapis. Hanya yang terbaik dan bermental baja mampu bertahan sampai akhir.
"Saya harus bersaing dengan peserta terbaik di ring satu perusahaan dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Ada psikotes dan tes tertulis, wawancara serta medical check up," ujar Randi.
Namun ketatnya persaingan membuat akhir cerita terasa begitu manis. Perjuangan panjang yang melelahkan dan menguras energi berganti dengan rasa syukur. Tumpukan buku yang dipelajari setiap malam menjadi saksi bisu tekadnya untuk mengubah nasib keluarga.
Dari 50 calon peserta yang mengikuti wawancara untuk posisi floorman, terpilih 24 orang, salah satunya Randi.
"Bisa menemus ketatnya persaingan masuk industri Migas merupakan sebuah kebanggaan yang sulit dilukiskan. Ini sebuah anugerah besar yang harus dijaga," katanya.
Randi membuktikan anak-anak yang tinggal di kampung dengan fasilitas terbatas bisa masuk industri Migas. Seolah-olah mengirimkan pesan kepada setiap orang bahwa kita memiliki titik start yang sama untuk bermimpi.
Digembleng di IDTC
Berbekal restu kedua orang tuanya, pada Bulan Agustus tahun 2025, Randi memantapkan langkah menuju Indonesia Drilling Training Center (IDTC) di Indramayu, Jawa Barat. IDTC merupakan pusat pelatihan pengeboran minyak dan gas bumi yang dikelola PT PDSI.
Randi mengatakan, secara garis besar ada lima yang dipelajari, yaitu hoisting system sebuah komponen utama pada menara bor (drilling rig), rotating system yang berfungsi untuk memutar rangkaian pipa bor serta memberikan beban pada mata bor agar dapat menembus formasi batuan dan power system yang merupakan jaringan komponen listrik.
Kemudian circulating system atau lumpur pengeboran dan BOP System yang merupakan pengaman utama dalam operasi pengeboran minyak.
Setelah tiga bulan digembleng di IDTC, Randi dihadapkan pada tanggung jawab besar. Bersiap masuk ke arena pertempuran mental yang sesungguhnya, sebuah menara besi raksasa di tengah hutan sudah menunggunya.
"Ya, berkat pelatihan di Pertamina Drilling Training Center, saya melangkah dengan penuh percaya diri. Menara Rig bukan lagi sesuatu yang asing bagi saya," kata Randi sambil menyeka keringat di dahinya.
Manager IDTC Pertamina Drilling, Chair Rony, mengatakan, IDTC memiliki konsep The Center of Drilling Operation Excellence. Diarahkan menjadi pusat pengembangan talenta drilling yang mampu menjawab kebutuhan industri, termasuk menghadapi tantangan operasi yang semakin kompleks.

“Industri migas membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kompetensi teknis, disiplin terhadap keselamatan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar. Karena itu, Pertamina Drilling melalui IDTC berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang sedekat mungkin dengan kebutuhan operasi di lapangan,” ujarnya.
Untuk mendekatkan proses pembelajaran dengan kondisi operasi sebenarnya, IDTC dilengkapi berbagai fasilitas praktik. Di antaranya rig 150 HP, simulator drilling, fasilitas praktik, serta portacamp untuk akomodasi peserta.
Dengan fasilitas tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga dapat melakukan simulasi dan praktik untuk memahami bagaimana sebuah operasi pengeboran dijalankan. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran di IDTC tidak berhenti pada pemahaman konsep.
Peserta juga diperkenalkan pada bagaimana peralatan digunakan, bagaimana proses operasi berlangsung, serta bagaimana aspek keselamatan, kualitas dan efisiensi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan drilling.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami bagaimana sebuah sumur dibor, tetapi juga memahami mengapa setiap tahapan harus dilakukan dengan standar keselamatan, kualitas dan efisiensi yang tinggi. Inilah yang menjadi nilai tambah IDTC sebagai pusat pengembangan kompetensi drilling,” tegas Chair Rony.
Dari Guru dan Hafiz Quran ke Lantai Bor
Keputusan berpindah haluan ke industri Migas bukanlah hal yang mudah. Randi harus belajar dari nol. Menguasai hal yang sangat baru dalam pendidikannya.
Satu tahun lalu, Randi melompati jurang karier yang teramat kontras. Ia berbelok arah, dari dunia pendidikan yang penuh ketenangan, masuk ke dalam kerasnya industri Migas. Situasi sekolah yang begitu nyaman berganti deru mesin rig yang memekakkan telinga. Suasana kerja yang dipilihnya sekarang menuntutnya harus siap mandi keringat di bawah terik matahari Kota Duri, Riau.
Selepas menamatkan kuliah di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru dengan Program Studi S1 Pendidikan Biologi, Randi sempat menjadi seorang guru di Sekolah Alam Indonesia Pekanbaru. Ia menamatkan kuliah berkat bantuan beasiswa dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau. Beasiswa yang menyasar para tahfiz Quran. "Sempat 5 bulan menjalani profesi sebagai guru bang," kata putra bungsu dari lima bersaudara ini.
Bagi Randi, profesi guru sangat mulia, namun industri Migas menawarkan masa depan yang jauh lebih meyakinkan. "Bukan hanya soal materi, tapi ada kebangaan di daerah saya menggunakan seragam Pertamina," ungkapnya.
Ditambah keadaan ekonomi saat itu, hidup di tengah keluarga serba pas-pasan, Randi dituntut untuk mengubah nasib. Ayahnya, Bahasman (70) seorang sopir oplet dan sudah tidak bekerja lagi, sedangkan orang tua perempuan, Fitri Hanum (63) hanya mengandalkan jualan sarapan pagi di teras rumah.
Ditengah padatnya aktivitas pengeboran minyak yang menuntut fokus dan konsentrasi tingkat tinggi, lantunan ayat-ayat suci Alquran tetap dijaga sebagai jalan yang menuntun arah hidupnya. "Sekarang saya sudah hafal juz 30," tegasnya.
Vokasi Jadi Jembatan Harapan
Program vokasi PHR bersama PDSI ibarat jembatan harapan bagi masyarakat di ring satu perusahaan. Kini, gerbang industri Migas yang terkenal ketat terbuka lebar bagi mereka yang mau bekerja keras.
"Program vokasi sangat mahal dan eksklusif, kita harapkan lulusan vokasi bisa diterima dan bekerja di industri Migas, sehingga program tak sia-sia," kata Community Involvement and Development PHR, Muhammad Wildan.
Pada tahun 2025, lanjutnya, terdapat 60 lulusan vokasi PHR. Sebanyak 24 peserta untuk bidang roughneck, 12 peserta untuk motoris dan 24 peserta untuk floorman. Sebanyak 51 di antaranya sudah bekerja di industri Migas.
Namun sebelum program dijalankan, terlebih dahulu dilakukan asesmen serta bidang-bidang apa saja yang diperlukan untuk mengisi program vokasi ini. "Pada awalnya kami wawancara masing-masing region kontraktor, keinginanya seperti apa," tambahnya.
Dijelaskannya, program vokasi memang mengacu pada masyarakat di ring satu, karena mereka yang terdampak langsung bila terjadi sesuatu atau ada insiden di perusahaan.
Bagi yang lulus terlebih dahulu mengikuti pelatihan selama tiga bulan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC). Setelah itu, dilanjutan dengan magang yang bekerja sama dengan PT PDSI.
"Magang sangat penting, karena harus ada pengenalan dunia kerja terlebih dahulu. Jadi kami berkolaborasi dengan PDSI menerima mereka magang," ungkapnya.
Sedangkan Untuk tahun 2026, program vokasi lebih difokuskan ke non Migas.
Asisten Manajer untuk wilayah HO DSF PDSI, Kristanto Wibowo menambahkan, tantangan yang dihadapi dalam proses pengeboran adalah orang yang paham teknologinya.
"SDM orangnya persiapkan dengan sebaik-baiknya, bisa dengan melibatkan paprikan. Bagaimana alat ini bisa bekerja dan selama awal-awal operasi orang paprikan standbay di sini untuk memastikan peralatan bisa dijalankan dengan baik," ujarnya saat ditemui PDSI Rig PDSI #58.1/PD350 Duri Steam Fluid.
Mengenai karyawan yang berasal dari ring satu perusahaan, Kristanto Wibowo mengaku mereka cukup cekatan dan punya kemampuan.
"Di sini ada beberapa tenaga lokal dan saya sudah diskusi dengan teman-teman CSR bagaimana ke depannya masyarakat sekitar dapat mengembangkan keterampilan sekaligus mengisi kebutuhan tenaga kerja di industri pengeboran," ungkapnya.
Tempat Merajut Mimpi
Di balik peluh yang menetes di safety helmet seorang floorman magang bernama Randi, ada motivasi besar yang dibawanya setiap kali menapaki anak tangga menuju ketinggian Rig. Ada jutaan mimpi yang digantungkan di sana.
Randi menyadari ada target yang ingin dicapai di usia yang boleh terbilang muda. "Impian dan cita-cita itu pasti. Untuk sekarang tentunya saya ingin naik tingkat dan bekerja dilepas sendiri," katanya penuh semangat.
Untuk kedepannya Randi ingin belajar dan mengetahui lebih banyak tentang pengeboran minyak. Randi ingin terlibat dalam proyek-proyek besar di bawah payung PT PDSI.
Saat ini, Randi berada di langkah paling awal. Baginya setiap tantangan bukanlah beban, melainkan sebuah semangat untuk berani memandang masa depan.
Setiap langkah kaki dan ayunan lengan di lantai bor, terbayang senyum orang tua dan saudara di rumah serta nama kampung yang ingin diharumkan.
Randi merupakan salah satu potret anak kampung yang tinggal jauh dari ibu kota kabupaten dan provinsi bisa menembus ketatnya seleksi Migas. Di luar sana, terdapat ribuan anak muda di ring satu perusahaan yang ingin terlibat langsung mengabdi di perusahaan nasional tersebut.
Mereka tidak ingin hanya menjadi saksi sejarah atau penonton pipa-pipa minyak di pinggir jalan. Randi ingin membuktikan putra daerah mampu mengelola kekayaan bumi.*