|
METRORIAU.COM
|
![]() |
|
||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||

JAKARTA – Gelombang panas ekstrem (heatwave) yang melanda Prancis memicu peningkatan signifikan angka kematian. Otoritas kesehatan setempat mencatat lonjakan hampir 30 persen pada pekan yang dimulai 22 Juni 2026, bertepatan dengan puncak suhu tertinggi.
Badan kesehatan masyarakat Prancis melaporkan kenaikan angka kematian sebesar 29,1 persen atau sekitar 2.025 kasus tambahan dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, angka tersebut diperkirakan masih bisa bertambah seiring proses pembaruan data yang masih berlangsung.
Wilayah Paris menjadi area yang terdampak paling parah dengan lonjakan kematian mencapai 62 persen. Peningkatan serupa juga terjadi di wilayah Pays de la Loire.
Gelombang panas yang melanda sepanjang Juni berlangsung sekitar 11 hari, dengan suhu di sejumlah wilayah menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Kondisi ini menjadikannya salah satu heatwave paling ekstrem dalam sejarah Prancis.
Situasi tersebut memicu kritik terhadap pemerintah. Sejumlah politisi menilai langkah mitigasi terhadap suhu ekstrem masih belum optimal. Partai Hijau Prancis bahkan mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sebastien Lecornu.
Meski demikian, pemerintah menyatakan dampak gelombang panas tahun ini masih lebih ringan dibandingkan tragedi serupa pada 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang, mayoritas lansia.
Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan jumlah korban jiwa akibat heatwave tahun ini diperkirakan tidak akan melampaui bencana 2003.
Sementara itu, Direktur Jenderal Sistem Rumah Sakit Paris, Nicolas Revel, menilai angka kematian akibat gelombang panas Juni 2026 kemungkinan tetap lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang dilaporkan mencapai sekitar 5.700 korban jiwa. *